{"id":270321,"date":"2024-04-15T14:56:03","date_gmt":"2024-04-15T07:56:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=270321"},"modified":"2024-04-15T14:56:03","modified_gmt":"2024-04-15T07:56:03","slug":"surabaya-isinya-nggak-cuma-mal-ada-spot-bersejarah-yang-asyik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-isinya-nggak-cuma-mal-ada-spot-bersejarah-yang-asyik\/","title":{"rendered":"Wisata Surabaya Nggak Cuma Mal, Ada Juga Tempat-tempat Bersejarah yang Menarik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Surabaya salah satu kota besar di Indonesia. Layaknya kota besar, fasilitas di Kota Pahlawan relatif lengkap. Terlepas dari sistem transportasi umum yang masih medioker, fasilitas lainnya boleh diadu dengan kota-kota besar lain. Mulai dari fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga tempat hiburan seperti mal.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa mal yang biasa menjadi sarana hiburan warga Surabaya. Paling favorit adalah Pakuwon Mall dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/tunjungan-plaza-surabaya-bikin-terhina\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tunjungan Plaza.<\/a> Adapun dua mal itu menjadi yang terbesar di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, kemegahan Surabaya memang nggak perlu diragukan lagi. Namun, seiring berjalannya waktu, Surabaya seolah hanya terkenal dengan mal dan kemegahannya saja. Padahal Kota Pahlawan ini juga menyimpan tempat-tempat bersejarah dengan narasi yang nggak kalah menarik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, sejak era Kerajaan Majapahit, banyak peristiwa terjadi di kota ini. Tentu saja spotlightnya tetap s<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ejarah keberanian arek-arek Suroboyo mengusir Londo. Itu mengapa banyak sekali peninggalan sejarah dilestarikan di kota ini. Mulai dari monumen hingga gedung-gedung yang dijadikan cagar budaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jalan Tunjungan Surabaya sudah ada sejak zaman Penjajahan Belanda\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawasan sekitar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-tunjungan-kalah-menarik-ketimbang-kayutangan-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Tunjungan<\/a> dahulu bernama Petoenjoengan. Kawasan ini dibangun ketika Belanda menjajah pada awal abad ke-20. Sejak dahulu, jalan ini sudah mejadi tempat nongkrong populer terutama buat anak muda. Nggak heran kalau tempat ini ikonik banget buat Surabaya. Saking ikoniknya, tempat ini jadi inspirasi lahirnya lagu \u201cRek Ayo Rek\u201d yang pernah dipopulerkan oleh Didi Kempot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilihat dari sisi sejarah, jalan ini merupakan saksi bisu pertempuran dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia. Peristiwa perobekan bendera di Hotel Oranje (sekarang Hotel Majapahit) jadi yang paling terkenal. Selain itu, di jalan ini ada Gedung Siola yang pernah dipakai jadi markas tentara Inggris mengatur strategi menyerang Surabaya kala itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Tugu Pahlawan monumen yang menyimpan banyak cerita<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tugu Pahlawan merupakan monumen sejarah paling terkenal di Surabaya. Bahkan, monumen ini dipakai sebagai logo resmi Kota Surabaya. Tugu Pahlawan didirikan pada tanggal 10 November 1951. Setahun setelahnya, tugu ini diresmikan oleh founding father bangsa Indonesia,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Bung Karno.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Monumen ini dibangun untuk mengenang peristiwa dan para pahlawan yang gugur saat pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945. Di dalam kompleks <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hotel-terdekat-dari-tugu-pahlawan-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tugu Pahlawan<\/a>, ada Museum Sepuluh November yang dibangun pada 10 November 1991. Isinya kurang lebih menceritakan proses pertempuran 10 November.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Balai Pemuda dahulu simbol rasisme terhadap kaum pribumi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Balai Pemuda yang terletak pada kawasan Alun-Alun Kota Surabaya dahulu bernama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">De Simpangsche Societeit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Simpang Club<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dibangun pada 1907, tempat ini dulunya merupakan tempat berkumpulnya kaum elit bangsa Belanda dan Eropa. Hanya para Londo dan kroninya yang boleh masuk gedung tersebut.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Balai Pemuda dahulu adalah simbol rasisme. Pribumi sama sekali nggak diperbolehkan menginjakan kaki di tempat tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari masa lalu yang kelam, saat ini Balai Pemuda masih jadi destinasi rekreasi menarik. Apalagi setelah direnovasi, ada bagian basement yang sering memamerkan hasil lukisan karya pelukis lokal. Kalau sedang hoki, kalian bisa lihat langsung sesi melukis dari para seniman.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kampung Peneleh, kampung tertua di Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kampung Peneleh merupakan kampung tertua di Surabaya. Kampung ini menyimpan banyak sekali tempat bersejarah. Kampung Peneleh sering dikunjungi para pecinta sejarah karena merupakan tempat kelahiran presiden pertama Republik Indonesia. Ir Soekarnp.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> Selain itu, HOS Tjokroaminoto jugas pernah tinggal di kawasan ini Beliau dijuluki oleh Belanda sebagai \u201cRaja Jawa tanpa Mahkota\u201d karena menjadi guru bagi para pemimpin besar Indonesia. Asal tahu saja, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rumah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Oemar_Said_Tjokroaminoto\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">HOS Tjokroaminoto<\/a> di Jalan Peneleh dahulu semacam kos untuk orang-orang yang kelak menjadi tokoh bangsa. Soekarno hingga Musso pernah ngekos di sana. Hingga saat ini, rumah bersejarah itu masih dijaga keasliannya dan sering dikunjungi oleh wisatawan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa tempat bersejarah di Kota Surabaya yang bisa dikunjungi warga dan wisatawan. Harapannya, orang-orang yang berkunjung ke Kota Pahlawan jadi sadar bahwa kota ini nggak hanya dipenuhi mal. Banyak juga spot wisata bersejarah menarik yang bisa menjadi pilihan supaya tidak bosan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-jago-memanfaatkan-ujung-jembatan-suramadu\/\">Surabaya Lebih Jago Memanfaatkan Jembatan Suramadu daripada Bangkalan Madura<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wisata di Surabaya nggak cuma mal-mal besar. Kota Pahlawan juga punya beberapa spot bersejarah yang asyik untuk dikunjungi. <\/p>\n","protected":false},"author":2008,"featured_media":270527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[23636,4982,23993,1944,23992,5533],"class_list":["post-270321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kota-pahlawan","tag-mal","tag-mal-surabaya","tag-sejarah","tag-surbaya","tag-tempat-wisata"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/270321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2008"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=270321"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/270321\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/270527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=270321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=270321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=270321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}