{"id":269259,"date":"2024-04-04T11:59:30","date_gmt":"2024-04-04T04:59:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=269259"},"modified":"2024-04-04T11:59:30","modified_gmt":"2024-04-04T04:59:30","slug":"jurusan-pgsd-butuh-mata-kuliah-cara-menghadapi-orang-tua-murid-ini-serius","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-pgsd-butuh-mata-kuliah-cara-menghadapi-orang-tua-murid-ini-serius\/","title":{"rendered":"Jurusan PGSD Butuh Mata Kuliah Cara Menghadapi Orang Tua Murid. Ini Penting dan Saya Serius!"},"content":{"rendered":"<p><em>Jurusan PGSD sebaiknya nggak cuma fokus mempelajari soal siswanya, tapi juga cara menghadapi orang tuanya mengingat orang tua siswa SD zaman sekarang barbar banget.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba sebutkan 5 profesi yang kamu tahu. Saya yakin ada satu profesi yang pasti kamu sebutkan sebagai jawaban. Profesi itu adalah guru. Bener nggak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak lama, profesi guru memang begitu dekat dengan kehidupan bermasyarakat. Ndilalah, semesta pun mendukung. Yaitu dengan adanya peringatan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesenjangan-di-hari-guru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hari Guru<\/a>, lagu nasional tentang guru, gelar &#8220;Guru pahlawan tanpa tanda jasa&#8221;, hingga anekdot yang menyebut bahwa calon menantu terbaik adalah guru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka jika di musim seleksi masuk perguruan tinggi seperti saat ini kamu terpikirkan untuk mendaftar di Program Studi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), sungguh itu adalah hal yang wajar. Lanjutkan mimpimu, Dek. Bahkan ketika mau ambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) pun, tak apa. Lanjutkanlah. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja pesan saya, nanti kalau misalnya kamu jadi guru SD, jangan kaget, ya. Ada hal yang tidak kamu pelajari di bangku kuliah, tapi nyatanya berdampak fatal bagi kehidupan yang kamu jalani.<\/span><\/p>\n<h2><b>Memahami mata kuliah di jurusan PGSD<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini. Di <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">prodi PGSD, selayaknya prodi keguruan lainnya, mahasiswa jurusan PGSD akan mendapatkan mata kuliah umum seperti Pengantar Pendidikan, Psikologi Pendidikan, Profesi Keguruan, dll. Ada pula mata kuliah khusus seperti Pengembangan Kurikulum SD, Strategi Belajar Mengajar SD, Media Pembelajaran di SD, hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/mata-kuliah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mata kuliah<\/a> Pendidikan Kewarganegaraan, IPA, IPS, atau pelajaran lain yang biasanya diajarkan oleh guru di tingkat SD.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mata kuliah tersebut tentu sangat bermanfaat sebagai bekal seorang guru dalam mengajar. Jika diibaratkan, pelajaran yang mahasiswa PGSD dapatkan di bangku kuliah itu seperti senjata yang akan dibawa ke medan perang. Bukankah konyol namanya jika pergi berperang tanpa membawa senjata?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, ada satu hal yang terlewat di sini, yaitu fakta bahwa ketika seseorang pergi berperang, mereka tidak hanya butuh senjata tapi juga butuh tameng untuk menangkal serangan dari lawan. Tameng inilah yang tidak didapatkan mahasiswa jurusan PGSD di bangku kuliah. Tameng yang bernama mata kuliah \u201ccara menghadapi orang tua murid\u201d. Ini penting dan saya serius.<\/span><\/p>\n<h2><b>Guru di mata orang tua murid<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, menjadi guru masa kini, terutama guru di tingkat pendidikan rendah, tantangannya berat sekali. Guru tidak hanya harus menghadapi kebijakan pemerintah dan sekolah serta murid yang kelakuannya macam-macam, tapi juga harus menghadapi, katakanlah, serangan dari orang tua murid. Dan untuk menghadapi serangan ini nggak ada dalam kurikulum jurusan PGSD.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar, jika kata \u201cserangan\u201d terlalu kejam, baiklah, mari kita gunakan kata \u201cintervensi\u201d saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, intervensi bagaimana yang dimaksud?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak, Pak. Banyak, Bu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rapor nggak ada rankingnya, protes. Bahasa Inggris ditiadakan di kelas rendah, ribut. Anak pulang-pulang ngadu dinakali temannya, langsung geger tanpa mau mencari tahu terlebih dahulu duduk perkaranya. Nanti kalau jebul anaknya yang salah, nggak terima.<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAnak saya di rumah nggak gitu, kok. Nurut anaknya.\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebelumnya nggak pernah gini, kok.\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu waktu diajar sama Bu X nggak pernah kayak gini.\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya di mata orang tua murid, guru selalu yang salah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fenomena monster parents, bukti nyata intervensi orang tua. Kurikulum jurusan PGSD tidak mempelajari soal intervensi orang tua ini\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentang intervensi orang tua ini jika kita perhatikan, semakin muda umur anak akan semakin besar intervensi yang dilakukan orang tua terhadap guru. Logikanya sederhana. Di usia TK ataupun SD, banyak orang tua merasa anaknya belum mandiri sehingga butuh pelindung. Siapa lagi kalau bukan orang tuanya? Sayangnya, ya itu tadi, sering kali orang tua kebablasan hingga terkesan mendikte dan menggurui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Monster parents. Itulah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku orang tua yang terlalu ikut campur dengan urusan anaknya di sekolah. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Monster_parents\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">monster parents<\/a> sendiri diciptakan oleh pendidik Jepang, Yoichi Mukoyama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi ingat pesan kepala sekolah kepada wali murid dulu, beberapa hari sebelum pelaksanaan kemah sabtu-minggu di sekolah anak saya. Beliau, dengan penuh kerendahan hati memohon agar para orang tua tidak perlu khawatir dengan anak-anaknya selama masa perkemahan. Pesan ini tentu bukannya tanpa alasan. Pengalaman membuktikan, sering kali, anaknya yang kemah, orang tuanya yang rempong. Ikut riweuh bangun tenda, bantuin masak, bolak-balik nengok keadaan anaknya selama kemah, dll.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesehatan mental guru terancam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena monster parents ini makin menggila dengan adanya grup WA wali murid. Ya Rabb, kalian mungkin nggak percaya. Tapi, ketikan orang tua murid di grup WA itu kadang kejam-kejam sekali. Maka, jangan heran jika profesi guru ini rentan dengan ancaman kesehatan mental. Dan lagi-lagi kurikulum jurusan PGSD tidak ada yang membahas soal bagaimana seorang guru menghadapi orang tua murid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian tahu? Juli tahun lalu, seorang guru SD sekaligus wali kelas 1 di Seoul Korea Selatan yang baru memulai kariernya, ditemukan <\/span><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/articles\/cd1gy1w4ny1o\"><span style=\"font-weight: 400;\">bunuh diri<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Berdasarkan penyelidikan, korban bunuh diri karena stres dan tertekan akibat tuntutan dan keluhan menyakitkan yang datang terus menerus dari orang tua murid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, memang belum terdengar adanya kasus guru bunuh diri karena tidak kuat dengan tekanan orangtua siswa. Namun, bukan berarti kondisinya baik-baik saja. Entah berapa banyak air mata para guru yang tumpah karena menanggung luka yang ditorehkan para orang tua murid.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian guru memilih untuk menahannya sendiri. Sebagian lagi mencari ketenangan dengan curhat kepada rekan kerja. Dan sisanya memilih untuk resign.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, alih-alih membicarakan segala hal yang serba siswa dalam mata kuliahnya, bukankah sudah selayaknya mahasiswa jurusan PGSD juga dibekali dengan mata kuliah yang membahas seputar karakteristik orangtua? Harapannya, kelak ketika menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/guru-sd\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">guru SD<\/a>, mereka sudah punya bekal bagaimana cara menghadapi serangan dari orang tua murid.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/calon-mahasiswa-kayak-gini-nggak-cocok-masuk-di-jurusan-pgsd\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Hal yang Bikin Calon Mahasiswa yang Nggak Cocok Masuk di Jurusan PGSD<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kurikulum jurusan PGSD sebaiknya tak hanya fokus untuk siswa, tapi juga harus memberi tahu para calon guru cara menghadapi orang tua murid.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":269300,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[21433,16943,16058,22354,22355,200,13552],"class_list":["post-269259","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-calon-guru","tag-guru-sd","tag-jurusan-pgsd","tag-mahasiswa-jurusan-pgsd","tag-mahasiswa-pgsd","tag-orang-tua","tag-pgsd"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/269259","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=269259"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/269259\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/269300"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=269259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=269259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=269259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}