{"id":269244,"date":"2024-04-04T14:33:35","date_gmt":"2024-04-04T07:33:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=269244"},"modified":"2024-04-05T06:36:13","modified_gmt":"2024-04-04T23:36:13","slug":"kota-lama-banyumas-mirip-malioboro-jogja-tapi-bernasib-sial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-lama-banyumas-mirip-malioboro-jogja-tapi-bernasib-sial\/","title":{"rendered":"Kota Lama Banyumas Disulap Mirip Malioboro Jogja, tapi Malah Bernasib Sial"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Kota Lama Banyumas. Destinasi wisata yang baru saja selesai direvitalisasi itu jadi perbincangan hangat warga ngapak. Kota Lama Banyumas yang kini jadi mirip Malioboro Jogja dengan kawasan pedestrian yang nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya daerah ini hanyalah jalan biasa yang disulap menjadi pedestrian estetik seperti Malioboro. Berbagai ornamen ditambahkan agar jalan yang biasa saja itu semakin cantik. Kawasan ini jadi semakin mirip Malioboro dengan bangku, lampu jalan, dan tanaman rindang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya nasib Kota Lama Banyumas tidak seperti Malioboro Jogja yang ramai. Jumlah wisata yang berkunjung tidak bertambah secara signifikan. Ketika saya datang ke sana, Kota Lama Banyumas tampak begitu lengang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada waktu itu saya datang di sore hari, menjelang buka. Padahal di waktu-waktu itu, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">biasanya orang-orang keluar dari rumah untuk mencari<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gorengan-menu-buka-puasa-segala-kelas-sosial-takjilanterminal07\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> menu buka puasa<\/a> atau sekadar ngabuburit. Seharusnya spot-spot seperti Kota Lama Banyumas dipadati pengunjung. Nyatanya, destinasi baru itu benar-benar sepi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau dilihat dari posisinya, Kota Lama benar-benar strategis. Lokasinya hanya berjarak sekitar 3 menit dari Alun-Alun Banyumas. Namun, siapa sangka proyek yang menelan dana hingga Rp15 miliar di tahap awal ini jauh dari harapan. Saya rasa tidak hanya revitalisasi yang dibutuhkan Kota Lama Banyumas, kawasan itu perlu membenahi banyak hal agar bisa seperti Malioboro Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menggelar acara kebudayaan di Kota Lama Banyumas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah tempat layaknya jasad manusia. Ia tidak akan hidup tanpa adanya roh. Nah, roh sebuah kawasan seperti Kota Lama ini, menurut saya, salah satunya berbagai kegiatan dan acara kebudayaan. Saya rasa acara kebudayaan seperti kirab akan membuat lokasi ini menjadi terlihat hidup. Selain itu, pemkab juga bisa memperkenalkan kebudayaan warga ngapak ke khalayak luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pemkab bisa menjadikan Kota Lama Banyumas sebagai salah satu lokasi dari rangkaian HUT Banyumas. Masa setiap ulang tahun Kabupaten Banyumas hanya Purwokerto saja yang ramai. Kalau begitu, lambat laun pamor Banyumas akan kalah dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-semarang-sebaik-baiknya-tempat-tinggal-di-jawa-tengah-adalah-purwokerto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purwokerto<\/a>. Ya, walau sekarang hal itu memang sudah terjadi sih.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Memberdayakan UMKM\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai anak muda, saya paham betul bahwa salah satu magnet atau daya tarik sebuah lokasi adalah kuliner yang terjangkau. Para muda-mudi akan menjadikan tempat sebagai sebuah &#8220;markas&#8221; jika lokasi tersebut memiliki kuliner yang murah dan enak. Selain itu, tempat yang nyaman pun menjadi pertimbangan yang tidak bisa dipisahkan. Kalau dua kriteria tersebut bisa dipenuhi, maka keramaian pengunjung bukanlah suatu hal yang mustahil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau melihat Kota Lama Banyumas, saya rasa faktor kenyamanan sudah terpenuhi. Hal ini tercermin dari pedestrian yang bersih, rapi dan jauh dari hiruk-pikuk jalan besar. Namun, jika berbicara tentang kuliner, maka masih perlu banyak pembenahan. Seharusnya, pihak pemkab bisa menyediakan lokasi khusus untuk para pedagang kaki lima agar bisa membuka lapak di area Kota Lama. Selain menarik minat pengunjung, upaya ini bisa mengurangi angka pengangguran dan melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar untuk ikut berpartisipasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, momentum Ramadan bisa menjadi waktu yang tepat untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/awas-social-commerce-siap-gulung-umkm-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">para UMKM<\/a> membuka lapak dan menjajakan takjil untuk berbuka puasa. Jika pemkab bisa melihat celah ini, pastilah kondisi Kota Lama Banyumas bisa lebih ramai dan semarak. Sayangnya, hingga menjelang akhir Ramadan, tidak ada acara apapun di lokasi tersebut. Tak ayal, jika kata &#8220;sepi&#8221; menjadi satu istilah yang pas untuk Kota Lama Banyumas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menyediakan lokasi khusus pusat oleh-oleh khas Banyumas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisatawan akan berkunjung ke sebuah lokasi lantaran berburu oleh-oleh. Nah, aspek inilah yang masih kurang menjadi perhatian pemkab. Jika saja di area Kota Lama disediakan gerai bagi para UMKM untuk menjajakan makanan khas Banyumas, maka ini menjadi sebuah pertimbangan bagi rombongan wisatawan untuk berkunjung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, jika wisatawan berkunjung ke Kota Lama, hanya ada satu aktivitas yang mereka bisa lakukan yaitu: berselfie ria. Untuk berbelanja oleh-oleh mereka harus mampir ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sokaraja,_Banyumas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sokaraja<\/a> atau Pertigaan Sawangan yang lokasinya jauh dari Banyumas. Ini tentu menyulitkan para wisatawan dengan bus-bus besar. Makanya, mayoritas para pengunjung Kota Lama Banyumas menggunakan kendaraan roda dua. Hanya sedikit diantara mereka yang menggunakan kendaraan roda empat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya harap Kota Lama Banyumas tidak sekadar menjadi wisata musiman atau tenar sekejap dan hilang cepat. Saya nggak berharap tempat yang sudah direvitalisasi dan menelan biaya miliaran itu jadi tempat wisata musiman. Semoga ada berbagai ide cemerlang dari pemkab agar bisa mempertahankan eksistensi tempat ini sehingga tidak lekas tenggelam dari ingatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warga-banyumas-merantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Katanya Banyumas Makmur, tapi kok Warganya pada Minggat?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Lama Banyumas direvitalisasi jadi mirip Malioboro Jogja, sayangnya dua kawasan itu berbeda nasib. Kota Lama sepi wisatawan. <\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":269357,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2858,115,23906,23905,23150],"class_list":["post-269244","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyumas","tag-jogja","tag-kota-lama","tag-kota-lama-banyumas","tag-malioboro-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/269244","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=269244"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/269244\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/269357"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=269244"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=269244"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=269244"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}