{"id":269059,"date":"2024-04-03T10:17:30","date_gmt":"2024-04-03T03:17:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=269059"},"modified":"2024-04-03T10:21:54","modified_gmt":"2024-04-03T03:21:54","slug":"bahasa-jawa-menempel-dari-nemplek-hingga-rengket","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-menempel-dari-nemplek-hingga-rengket\/","title":{"rendered":"6 Istilah dari Kata &#8220;Menempel&#8221; dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Nemplek hingga Rengket. Beda Konteks Beda Penggunaan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buka-bersama-itu-tak-seburuk-yang-kalian-pikirkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bukber bersama teman-teman<\/a> tongkrongan. Sebagaimana obrolan tongkrongan, kami membahas banyak hal. Mulai dari cerita nabi-nabi hingga membedah penggunaan bahasa Jawa. Obrolan kami benar-benar panjang dan ngalor ngidul. Bahkan, kami melanjutkan pembicaraan hingga sahur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu topik obrolan yang menarik perhatian saya adalah kata menempel dalam bahasa Jawa ada banyak tergantung konteksnya. Persis seperti <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-jatuh-dari-kesrimpet-sampai-ngglundung\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">istilah jatuh dalam bahasa Jawa<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0 Di bawah ini saya jelaskan beberapa perbedaannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Nemplek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata paling umum dan sering digunakan adalah \u201cnemplek\u201d. Ya, kata ini memang cukup fleksibel digunakan dalam berbagai konteks. Mungkin kata ini adalah padanan dalam bahasa Jawa yang paling mendekati dengan kata menempel. Namun perlu diperhatikan, nemplek menjadi lebih tepat untuk menjelaskan sebuah benda yang menempel pada suatu media atau benda lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya beritahu penggunaannya dalam kalimat, \u201cKoe wes moco poster sek nemplek ning papan pengumuman?\u201d (Kamu sudah membaca poster yang menempel di papan pengumuman?).<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Nemplok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNemplok\u201d sebenarnya juga memiliki arti menempel. Perbedaannya, kata \u201cnemplok\u201d lebih cocok digunakan untuk sebuah benda asing entah itu hewan sampai entitas lain. Selain itu, kata ini juga biasa digunakan sebagai kiasan seseorang yang \u201cmenempel\u201d terus dengan orang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh penggunaannya dalam kalimat, \u201cKae opo putih-putih nemplok ning tiang lampu?\u201d (Apa itu ada putih-putih menempel di tiang lampu?). Contoh lain, \u201cHalah, cah cilik kae nemplok terus ning mbokne!\u201d (Halah anak kecil itu menempel terus dengan ibunya!)<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kelet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKelet\u201d dalam bahasa Jawa menjelaskan sebuah benda yang menempel dengan tidak terlalu kuat. Konteks menempel di sini merujuk pada sebuah benda (biasanya cair) yang membuat benda lain bisa menempel. Nah, dikarenakan ada benda perekat itu, sesuatu jadi bisa menempel satu sama lain. Walaupun, tingkat menempelnya nggak terlalu kuat dan mudah dilepas. Contoh kalimatnya, \u201cGara-gara lem kui, kertase dadi kelet ning klambiku.\u201d (Gara-gara lem itu, kertasnya jadi menempel di bajuku.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kraket<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKraket\u201d sangat mirip dengan kelet. Bedanya, kata \u201ckraket\u201d di sini merujuk pada sebuah benda (tidak harus cair) yang membuat benda lain bisa melekat dengan kuat. Beberapa benda yang dimaksud antara lain<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Velcro#:~:text=Velcro%20adalah%20peranti%20populer%20untuk,pada%20akhir%20tahun%201950%2Dan.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> perekat velcro<\/a> hingga lem super. Benda-benda tersebut bisa merekat dengan tingkatan yang sangat kuat sampai sulit dilepas atau butuh effort lebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimatnya, \u201cTasmu ditutup sek bener, rung kraket kui.\u201d (Tasmu ditutup dulu dengan benar, belum menempel itu. -merujuk pada perekat velcro-). Contoh lain, \u201cLem e kakean iki, nganti kraket banget.\u201d (Lemnya kebanyakan ini, sampai menempel banget.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Pliket<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPliket\u201d berarti menempel, tapi cenderung ke arah lengket-lengket yang nggak nyaman. Istilah dalam bahasa Jawa ini biasanya digunakan dalam konteks yang negatif, bahkan menjijikan. Contoh kalimatnya, \u201cHiii opo kui ning sandalmu? Kok pliket ngono!\u201d (Apa itu yang ada di sandalmu? Kok lengket begitu!). Itu mengapa istilah pliket biasanya diikuti oleh objek yang menjijikan atau kotor seperti tai, tumpahan makanan, keringat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Rengket<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, \u201crengket\u201d cukup berbeda dengan istilah-istilah sebelumnya. \u201cRengket\u201d lebih banyak digunakan untuk menggambarkan pertemanan yang sudah sangat menempel alias akrab. Bisa dibilang, istilah ini bisa digunakan ketika tingkat pertemanan sudah mencapai level bestie. Biasanya, istilah ini digunakan untuk memotivasi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/musuh-terbesar-organisasi-ekstra-kampus-adalah-kadernya-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">suatu organisasi<\/a> atau sebuah perkumpulan agar lebih meningkatkan rasa pertemanan di antara mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimatnya, \u201cMbok ayo antar pemuda sek rengket, ojo mikir penake wae!\u201d (Ayolah antar pemuda bisa lebih menempel lagi, jangan mikir enaknya saja!)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas adalah berbagai istilah menempel dalam bahasa Jawa. Tentu penggunaan istilah itu bisa diperdebatkan. Mengingat, hal-hal di atas hanyalah hasil diskusi saya dan teman-teman di tongkrongan yang bukan merupakan ahli bahasa. Yang jelas, kami kini jadi menyadari khazanah bahasa Jawa memang sangat beragam. Bisa saja apa yang saya pahami di Jogja belum tentu sama dengan daerah lain. Kalian tahu kata dalam bahasa Jawa lainnya yang berarti menempel?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia\/\"><b>11 Istilah Bahasa Jawa yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Istilah menempel dalam bahasa Jawa ada beragam, tergantung konteksnya. Ada nemplek, nemplok, kelet, kraket, pliket, dan rengket. <\/p>\n","protected":false},"author":1167,"featured_media":269122,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,1164,763,623,23888],"class_list":["post-269059","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-jawa","tag-jawa","tag-menempel"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/269059","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1167"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=269059"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/269059\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/269122"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=269059"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=269059"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=269059"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}