{"id":268252,"date":"2024-03-27T11:20:43","date_gmt":"2024-03-27T04:20:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=268252"},"modified":"2024-03-27T11:20:43","modified_gmt":"2024-03-27T04:20:43","slug":"kenapa-sih-kalian-selalu-nyinyirin-kpr-rumah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-kalian-selalu-nyinyirin-kpr-rumah\/","title":{"rendered":"Kenapa sih Kalian Selalu Nyinyirin KPR Rumah? Kenapa Nggak Fokus Menuntut Pemerintah untuk Menjaga Harga Rumah agar Tidak Makin Gila?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya nggak pernah memahami nyinyiran orang terhadap KPR. Kalau baca nyinyiran terhadap hal tersebut, rasanya kok kayak pelakunya hina banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, riding the wave adalah kebutuhan primer untuk manusia zaman kini. Cuman, untuk perkara KPR rumah, saya rasa udah kelewatan sih riding the (hate) wave-nya, kayak udah nggak bisa lagi sehat dan adil memandang hal ini. Kayak udah nggak ada lagi gitu lho ruang untuk mengutarakan pendapat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pelaku KPR rumah, saya setuju lho sebenarnya sama omongan banyak orang. Kayak KPR itu ruginya gede banget, nggak sebanding sama usaha nyicil, atau permainan bank zaman sekarang udah nggak masuk akal. Saya setuju sama itu, wong saya ngerasain. Tapi ada beberapa pendapat tentang KPR yang saya tolak mentah-mentah, terutama pendapat yang bilang \u201ckalau nggak punya duit jangan maksa punya rumah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, tong, kagak ada yang (kepengin) maksa juga anjing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin orang yang bilang maksa kayak gini lihatnya cuman kasus gagal bayar doang. Itu pun masih nggak adil dalam mandang. Gagal bayar=miskin tapi maksa. Kan nggak semua kayak gitu kejadiannya.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Bisa KPR rumah justru dianggap mampu<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sini sa kasih tau. Kalau ente bisa lolos <a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2023\/08\/25\/121655426\/pahami-ini-pengertian-bi-checking\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BI checking<\/a>, lalu lolos permohonan KPR, artinya ente dianggap oleh bank bisa bayar cicilan dan dianggap punya kapital yang cukup untuk itu. Meski ente nggak punya duit buat bayar rumah cash, tapi bank punya anggapan ente bisa nyicil utang segede itu. Jangan anggap karyawan bank dan bank pada umumnya segoblok itu plis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak perlu cerita berapa gaji saya, tapi saat saya ngajuin KPR, pegawai banknya bilang kalau gaji saya dianggap amat layak. Harusnya malah ngajuin utang yang lebih gede, katanya. Tapi saya tolak lah, saya tahu betul kapasitas saya dan marketingnya bank. Proses pengajuan amat lancar ya karena gaji saya dianggap amat layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski pada kenyataannya saya lumayan terseok-seok mengatur keuangan, tapi sekali pun saya nggak pernah telat bayar KPR. Selalu tepat waktu, tanpa disemprit sama bank. Saya juga nggak pernah kelaparan gara-gara bayar cicilan rumah sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kalau misal ada yang bilang saya maksa punya rumah, lho, nggak juga. Saya emang nggak bisa beli cash, tapi kalau ada opsi KPR, ya nggak ada salahnya kan? Wong saya dianggap bisa bayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini emang ambigu, tapi saya paham kok kenapa ini bikin kalian bingung. Saya lanjut dulu bahas yang lain.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Gagal bayar memang ada<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak memungkiri kalau kasus gagal bayar itu emang ada dari kalangan yang maksa. Tapi ini menurutku anomali. Contoh aja nih, kalau gaji 2.5 juta, di pikiran saya, harusnya nggak bisa nurunin utang KPR rumah sebesar 150 juta. Sebab cicilannya akan ada di kisaran 1.3-1.5 per bulan, tergantung tenornya. Itu udah mendekati dan lebih dari separuh gaji. Masak bisa lolos bank?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bisa lolos, berarti emang ini udah ada kongkalikong. Sistem diakali. Bagian ini saya nggak ngerti sih. Soalnya kadang ada yang gajinya nggak gede, tapi lolos KPR karena DP-nya guede. Ada yang kayak gini. Sumpah, realitas KPR itu kompleks. Kalian yang bacot di medsos nggak paham perkara ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sebenarnya perkara ini harusnya nggak perlu kalian lihat. Justru ada hal lain yang perlu kalian maki ketimbang orang-orang yang maksa punya rumah.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Yang perlu dimaki itu bukan pelaku kreditnya, tapi&#8230;<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang perlu kalian maki itu bukan KPR rumah dan pelakunya, tapi kenapa harga rumah bisa segila ini, dan pemerintah diem aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, kenapa KPR laku? Ya karena harga rumah nggak masuk akal naiknya, tapi kenaikan pemasukan lambatnya minta ampun. Udah, itu aja. Nggak ada orang fetish punya utang gede terus ngajuin KPR. Basically orang pada umumnya udah nggak mungkin banget beli rumah cash.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya KPR rumah jadi hal paling masuk akal. Orang punya gaji 4 juta, mau beli rumah harga 250 juta ya kudu nabung luama. Harga rumahnya naik terus, gajinya segitu-gitu aja. Akhirnya ya KPR. Paling yaaaa kepotong 1.5 juta lah gaji bulanan buat kredit rumah. Tinggal gimana caranya hidup dengan uang 2.5 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih bilang maksa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian justru harusnya maki pemerintah yang hanya bisa sediakan rumah subsidi sebagai alternatif hunian. Tidak dengan menjaga harga rumah tetap affordable untuk rakyat. Kalian harusnya tidak memaki sesama warga sipil. Wong berbagi masalah yang sama, kok cocotan. Menungso og aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesama rakyat justru kudunya saling menguatkan, saling mendukung. Bukan malah saling maki. Ini yang bikin saya heran sama orang-orang. Benci amat sama orang miskin, tapi ditindas negara diam aja.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Opsi selain KPR memang ada, tapi ya&#8230;<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, ada opsi kontrak rumah selain KPR rumah. Tapi ya diitung-itung sih sama aja, nggak beda jauh. Dan nggak selalu orang mau ngontrak rumah dengan banyak pertimbangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya ya, nggak usahlah sesama warga sipil saling kutuk. Yang memilih KPR sudah tahu risikonya, sudah merasakan deritanya, nggak usah kalian tambahin dengan nyinyiran. Baiknya ya, arahkan bidikannya ke bank yang pasang bunga kegedean dan tentu saja pemerintah yang nggak kunjung memberi solusi rumah pada rakyatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Justru itu yang harusnya jadi fokus. Clear? Cetha?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/serba-serbi-kpr-tips-dan-trik-agar-pengajuan-kpr-diterima-dan-bisa-dapat-bunga-yang-rendah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Serba-serbi KPR: Tips dan Trik agar Pengajuan KPR Diterima dan Bisa Dapat Bunga yang Rendah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>T<\/em><em>erminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nyerang kok sesama sipil.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":267525,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[6775,13488,23830,2642,3342],"class_list":["post-268252","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bank","tag-cicilan","tag-kpr-rumah","tag-nyinyiran","tag-pemerintah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/268252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=268252"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/268252\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/267525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=268252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=268252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=268252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}