{"id":267917,"date":"2024-03-25T11:52:57","date_gmt":"2024-03-25T04:52:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=267917"},"modified":"2024-03-25T11:52:57","modified_gmt":"2024-03-25T04:52:57","slug":"karang-taruna-di-desa-sulit-disaingi-orang-kota","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/karang-taruna-di-desa-sulit-disaingi-orang-kota\/","title":{"rendered":"4 Skill Karang Taruna di Desa yang Sulit Disaingi oleh Warga Kota"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membahas kehidupan di desa nggak bakal ada habisnya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasaan di desa yang nggak relate dengan orang kota. Saya ambil contoh resepsi pernikahan atau hajatan orang desa. Hingga saat ini, sistem <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gotong-royong-yang-masih-lestari-di-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gotong royong<\/a> masih berlaku ketika ada hajatan. Biasanya, karang taruna menjadi garda terdepan yang turun tangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, skill atau kemampuan karang taruna ketika membantu hajatan tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan, terkadang, muda-mudi karang taruna sudah memiliki spesialisasi kerja sendiri ketika dalam sebuah hajatan. Sebutannya cukup unik dan menggelitik dan di bawah ini beberapa di antaranya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Matean, tugas karang taruna yang sepele, tapi dibutuhkan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak ngerti arti kata mantean, tapi di karang taruna desa, sebutan ini disematkan kepada mereka yang kerap kebagian tugas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kesalahan-mencuci-piring-yang-lazim-dilakukan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mencuci piring hajatan<\/a>. Matean biasanya laki-laki, tapi beberapa waktu terakhir banyak juga perempuan yang diserahi tugas ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya mencuci piring dan gelas, tugas dari matean juga mencakup merebus air untuk dijadikan teh. Menariknya lagi, dandang yang digunakan bukan sembarang dandang. Ukuran dandang begitu besar supaya cukup untuk seluruh tamu hajatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau pekerjaan ini terlihat sepele, kontribusi mereka dalam acara begitu besar lho. Bayangkan kalau nggak ada mereka, bisa jadi hajatan nggak ada minuman. Alat makan hajatan pun terbatas karena nggak ada yang mencucinya hingga bersih. Tamu hajatan jadi nggak nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Karang taruna di desa nggak asing dengan banyu mili<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyu mili bisa dibilang skill yang nggak istimewa. Hampir setiap anggota karang taruna desa pasti bisa melakukannya. Banyu mili adalah tugas untuk menjamu tamu. Biasanya ini dilakukan dengan karang taruna berjejer kemudian mendistribusikan jamuan dari tangan ke tangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara filosofis, banyu mili berarti air yang mengalir. Semakin banyak orang ikut menyalurkan makanan dari tangan ke tangan, maka semakin cepat pula makanan yang sampai ke orang yang membutuhkan. Walau terlihat sepele, tugas ini juga punya risiko lho. Kalau tidak hati-hati, tangan bisa terkena panasnya makanan atau minuman.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Perlu jago menghitung isi kandhi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hajatan di desa, khususnya di desa-desa Jawa, masih identik dengan sumbangan berupa bahan pokok. Sangat jarang orang desa yang memberi sumbangan dalam bentuk amplop. Bahan pokok yang dimaksud biasanya berupa beras, bihun, gula, telur, minyak, hingga kelapa.Semua bahan pokok itu dimasukkan ke dalam kandhi atau karung beras. Ada satuan tersendiri dalam menghitungnya, yakni bojog, setengah bojong, hingga satu sak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghitung isi kandhi perlu kemampuan khusus apalagi ketika tamu hajatan membludak. Perlu seorang karang taruna yang sudah terbiasa karena hitungan hanya dilakukan dengan cara merabanya. Menghitung sumbangan yang diberikan para tamu diperlukan karena nantinya akan diganti dengan isian, biasanya roti atau makanan ringan khas desa seperti Roti Roma atau<a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/jateng\/read\/4873304\/kerap-disangka-dari-belanda-ternyata-roti-bagelen-asli-purworejo-jawa-tengah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Bagelen<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Menghitung tamu secara manual<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di berbagai hajatan di kota, sistem menghitung tamu suah terstruktur dan menggunakan teknologi. Berbeda dengan hajatan di desa yang menghitung tamu masih dengan cara manual. Biasanya, ada dua orangkarang taruna yang ditugasi di dekat pintu masuk untuk menghitung tamu. Mereka akan ditemani oleh seseorang yang berusia sepuh dan hafal wajah-wajah kerabat yang menikah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tamu-tamu yang datang itu dicatat dalam buku Gelatik Kembar yang nantinya akan jadi arsip untuk keluarga. Tujuan dari pencatatan tamu ini untuk mengetahui kebutuhan yang akan diperlukan untuk menjamu tamu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menarik bukan tugas-tugas karang taruna di desa. Tugas-tugas yang mereka jalankan mungkin terdengar sepele, tapi sulit dilakukan apalagi kalau tidak memiliki niat untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menolak-falsafah-ra-srawung-rabimu-suwung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">srawung<\/a> dan membantu sesama. Niat-niat seperti inilah yang kini mulai sulit dijumpai pada orang kota. Tidak heran kalau kebiasaan membantu hajatan semacam ini mulai pudar di perkotaan. Kalau di tempat kalian, masih ada nggak kebiasaan dan skill seperti di atas?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-magelang-semarang-adalah-halang-rintang-berkedok-jalan-raya\/\"><b>Jalan Magelang-Semarang Adalah Halang Rintang Berkedok Jalan Raya\u00a0<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Skill karang taruna di desa yang nggak bisa dipandang sebelah mata ada mantean, banyu mili, menghitung isi kandhi, dan menghitung tamu.<\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":268014,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[322,363,3227,779,2758],"class_list":["post-267917","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-desa","tag-hajatan","tag-karang-taruna","tag-kondangan","tag-resepsi-pernikahan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267917","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=267917"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267917\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/268014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=267917"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=267917"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=267917"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}