{"id":267783,"date":"2024-03-25T10:21:44","date_gmt":"2024-03-25T03:21:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=267783"},"modified":"2024-03-25T10:58:20","modified_gmt":"2024-03-25T03:58:20","slug":"mahasiswa-unesa-ketintang-surabaya-anak-tiri-kampus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-unesa-ketintang-surabaya-anak-tiri-kampus\/","title":{"rendered":"UNESA Ketintang Surabaya Adalah Anak Tiri Kampus yang Selalu Nelangsa Jika Dibandingkan UNESA Lidah, bahkan di Bulan Ramadan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah pernah menuliskan kecemburuan saya sebagai mahasiswa UNESA Ketintang Surabaya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fasilitas-di-unesa-lidah-wetan-bikin-mahasiswa-unesa-ketintang-cemburu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a>. Tapi, rasa-rasanya, tulisan itu nggak membuat para petinggi universitas maupun kelompok BEM-U untuk berbenah. Sampai saat ini, saya dan kawan-kawan lain masih merasa kalau kampus meng-anaktirikan-kan kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha, gimana nggak, berbagai acara untuk mengisi bulan puasa sangat nggak ramah bagi mahasiswa UNESA Ketintang Surabaya. Kalau menganalogikannya dengan lagu, yang paling pas adalah \u201cSakit tak Berdarah\u201d milik Fitri Carlina. Sebab, bukannya bisa ikut merasakan, kami hanya bisa tersenyum masam sambil melihat berbagai keseruan Instastory mahasiswa UNESA Lidah Wetan. Perih!<\/span><\/p>\n<h2><b>Kampus hanya menyelenggarakan acara buka bersama di UNESA Lidah Wetan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak awal bulan puasa, kampus UNESA punya agenda <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tutorial-menolak-ajakan-bukber-menyebalkan-yang-patut-dicoba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">buka bersama<\/a> setiap hari. Acara ini nggak hanya untuk mahasiswa UNESA aja, tapi juga masyarakat umum. Uniknya, kegiatan berbaginya nggak cuma bagi-bagi bingkisan terus selesai. Tapi, setiap orang yang datang akan mendapatkan makanan di piring, minum, dan jajan. Terus makan bersama di lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan ini diselenggarakan di UNESA Lidah, tepatnya depan gerbang masuk. Sejak awal bulan puasa, bukber ini berhasil menarik antusias masyarakat. Jadi, setiap sore UNESA Lidah selalu penuh orang yang mengantre buka bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, masalahnya, sejauh yang saya tahu, nggak ada wacana jadwal gantian untuk dipindahkan ke UNESA Ketintang Surabaya. Tentu ini kabar nelangsa untuk kami, apalagi mahasiswa rantau yang nggak punya motor. Wong jarak dari Ketintang ke Lidah sekitar 9 kilometer. Masak harus kami tempuh dengan mersikel? Bisa-bisa pingsan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecemburuan saya makin menjadi-jadi ketika mahasiswa UNESA Lidah bisa berbuka gratis bareng temen-temennya, sambil ketawa-ketiwi, foto pakai kamera 0.5, makan bareng, dan keseruan lainnya. Lha, nasib kami yang di UNESA Ketintang Surabaya gimana? Sebagai mahasiswa yang dompetnya selalu kering-kerontang, kami juga mau dapat makan untuk buka puasa, gratis lagi!<\/span><\/p>\n<h2><b>Kemeriahan festival ramadan hanya di lapangan rektorat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada sebuah hari yang membuat saya sebagai warga UNESA Ketintang Surabaya makin ndersulo. Pasalnya, selain bikin acara buka bersama, Unesa juga bikin kegiatan yang namanya \u201cUnesa Ramadhan Carnival\u201d dari 22 hingga 28 Maret 2024. Kegiatannya banyak. Mulai dari bazar kuliner, pameran, wahana bermain, berbagai lomba, senam, hingga pengajian akbar. Seru banget, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, lagi-lagi, semua acara di atas nggak ramah bagi mahasiswa Ketintang. Kalau ada motor sih, enak, tapi yang nggak gimana? Padahal, kami sebagai sesama mahasiswa UNESA, juga pengin ikutan keseruan acaranya, lho. Jadi, teruntuk Bapak Rektor tercinta, kami mahasiswa Ketintang ini juga rakyatmu Pak, tolong diperhatikan juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Transportasi sulit dan mahal bagi banyak mahasiswa UNESA Ketintang Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jarak tempuh UNESA Ketintang Surabaya ke Lidah lumayan jauh. Artinya, memakai ojek online pasti kena biaya yang mahal pula. Setelah saya cek di salah satu aplikasi ojek online, biaya ke Lidah sebesar Rp22 ribu. Itu hanya berangkat saja. Berarti kalau pulang-pergi harus ngeluarin uang sebesar Rp44 ribu. Larang nemen, Rek!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau pakai transportasi umum juga bisa dan pasti lebih murah. Tapi, estimasi waktunya juga panjang. Kalau naik motor bisa 25-30 menit. Sedangkan, kalau naik transportasi umum, bisa 90 menit. Mulai dari jalan ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Royal_Plaza\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Royal Plaza<\/a>, nunggu busnya, harus oper dari Suroboyo Bus ke Wira-wWri, belum lagi perjalanan dari Joyoboyo ke UNESA yang memakan waktu 1 jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, kami harus mengeluarkan upaya yang besar kalau mau menikmati berbagai kegiatan yang sedang diselenggarakan di UNESA Lidah. Andai lokasi kegiatannya seimbang, kadang di Lidah, kadang di UNESA Ketintang Surabaya. Pasti kami nggak akan cemburu seperti sekarang ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, besar harapan saya sebagai mahasiswa Ketintang agar pihak kampus bisa menyelenggarakan acara secara adil. Kalau nggak bisa, tolong sediakan transportasi khusus bagi kami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehingga, berbagai urusan yang harus diselesaikan atau acara yang ingin diikuti, bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Dengan begitu, perasaan dianaktirikan nggak akan terus terulang. Yuk bisa yuk!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Naimatul Chariro<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-ada-hajatan-yang-menguntungkan\/\">Tidak Ada Hajatan yang Menguntungkan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em style=\"font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'segoe ui', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'helvetica neue', sans-serif;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa UNESA Ketintang Surabaya seperti anak tiri saja. Semua acara selama puasa digelar di kampus Lidah Wetan. Bikin sedih saja.<\/p>\n","protected":false},"author":2178,"featured_media":267922,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[23800,405,6006,16281,23799,23801,21031,23045],"class_list":["post-267783","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-ketintang-surabaya","tag-surabaya","tag-unesa","tag-unesa-ketintang","tag-unesa-ketintang-surabaya","tag-unesa-lidah","tag-unesa-lidah-wetan","tag-unesa-surabaya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2178"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=267783"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267783\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/267922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=267783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=267783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=267783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}