{"id":267661,"date":"2024-03-23T09:06:07","date_gmt":"2024-03-23T02:06:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=267661"},"modified":"2024-03-23T09:06:07","modified_gmt":"2024-03-23T02:06:07","slug":"film-horor-indonesia-overdosis-eksploitasi-agama-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-horor-indonesia-overdosis-eksploitasi-agama-islam\/","title":{"rendered":"Film Horor Indonesia Overdosis Eksploitasi Agama Islam dan Jawa untuk Menakut-nakuti semata Biar Laku"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jagat film Indonesia sudah berkembang dengan baik, bahkan sangat bagus, sih menurut saya. Masyarakat bisa menerima produk-produk lokal, bahkan ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mencoba-memahami-kenapa-kkn-di-desa-penari-jadi-film-terlaris-sepanjang-masa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">film yang bisa tembus 10 juta penonton<\/a>. Nah, salah satu genre yang ramai dan selalu ada \u201cyang baru\u201d adalah film horor Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa-rasanya, hampir setiap bulan, saya melihat ada poster atau iklan film horor Indonesia. Wajar, sih, kalau melihat sejarah film Indonesia. Dulu, sekitar tahun 2000, banyak film horor yang laku keras karena menjual tubuh perempuan. Kalau sekarang lebih mendingan, agak normal, dengan sinematografi yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada satu kesamaan dari film horor Indonesia zaman dulu dengan sekarang. Mereka Sama-sama fomo melakukan eksploitasi. Kalau dulu eksploitasi cewek seksi, sekarang banyak film horor eksploitasi agama Islam maupun hal-hal yang berbau Jawa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Film horor Indonesia overdosis jualan agama Islam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, kita sama-sama tahu aja betapa seksinya eksploitasi agama. Termasuk untuk tema film, khususnya film horor Indonesia. Kalau menjelajah Twitter\/X, kamu bisa dengan mudah menemukan bahasan tentang eksploitasi tema-tema Islam untuk menjadi sebuah tema film baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya saya, menemukan sebuah twit yang menggelikan. Adalah akun dengan nama Faza Meonk membuat sebuah kompilasi. Kamu bisa melihatnya sendiri di sini:<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"en\">sholat cinematic universe <a href=\"https:\/\/t.co\/iz3aCUm0OW\">pic.twitter.com\/iz3aCUm0OW<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Faza Meonk (@FazaMeonk) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/FazaMeonk\/status\/1770784131980353789?ref_src=twsrc%5Etfw\">March 21, 2024<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faza menggunakan kalimat \u201csholat cinematic universe\u201d untuk twitnya. Lagi dan lagi, menggunakan unsur agama untuk dieksploitasi. Padahal, beberapa teman saya yang muslim merasa kurang nyaman dan agak nggak terima dengan kondisi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, baru-baru ini muncul film horor yang bikin umat muslim lelah, judulnya \u201cKiblat\u201d. Entah kenapa, alih-alih membuat film yang membuat para pendosa lebih takut setan, filmmaker Indonesia malah lebih memilih membuat salat maupun zikir menjadi seram.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau semua formula itu terasa kurang nendang, pakai saja \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-film-pocong-paling-seram\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pocong<\/a>\u201d di film. Seakan-akan pocong nggak punya harga diri lagi di kancah film horor Indonesia<\/span><\/p>\n<h2><b>Eksploitasi budaya Jawa juga terjadi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain eksploitasi agama Islam, film horor Indonesia banyak menggunakan unsur Jawa untuk menakut-nakuti. Seakan-akan kalau mau laris, pakai saja atribut Jawa. Misalnya, temanya setan \u201casli\u201d Jawa, menggunakan kosakata Jawa di judul, dan bikin adegan kesurupan lalu artisnya mengigau kata-kata pakai Bahasa Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oya, jangan sampai lupa menambahkan tembang Jawa, yang liriknya sebenarnya tentang cinta. Lalu, akhirnya, filmnya bikin itu lagu itu terkesan mistis. Ya kayak lagu \u201cLingsir Wengi\u201d, yang katanya lagu pemanggil kuntilanak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya setuju dengan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/film-horor-indonesia-dan-primbon-menistakan-budaya-jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mas Paksi Raras<\/a> dalam tulisannya yang berjudul \u201cFilm Horor Indonesia Semakin Menistakan Budaya Jawa\u201d. Dia menulis begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa yang dilakukan oleh sineas film horor Indonesia ini melanggengkan konstruksi sosial akan unsur-unsur kejawaan yang negatif. Pemaknaan masyarakat akan kejawaan yang mistis akan semakin tebal. Cara filmmaker horor mendiskreditkan kejawaan dengan terus-menerus ini, pada akhirnya berdampak pada \u201ckenyataan\u201d di masyarakat yang cenderung diskriminatif dan menganggap negatif segala aspek kejawaan yang sebenarnya bisa saja berarti positif, jika mau dibaca lebih mendalam.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, sineas Indonesia itu pasti kreatif. Kalau mau bikin film yang unik dan memenuhi unsur kebaruan pasti bisa. Saya yakin pasti ada pakem baru, yang nggak perlu mengeksploitasi agama dan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/budaya\/d-7004078\/5-film-horror-indonesia-dengan-konsep-budaya-jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">budaya Jawa<\/a> supaya laku. Yang penting, penikmat dan penonton film seram itu besar. Pasarnya sudah ada, tinggal bagaimana menangkap atensi mereka dengan sesuatu yang baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arsyanisa Zelina<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/exhuma-film-horor-korea-yang-menampar-sineas-horor-lokal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Exhuma, Film Horor Korea yang Menampar Sineas Horor Lokal Penjual Gimik, Mitos Agama, dan Jumpscare Murahan<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasa-rasanya, hampir setiap bulan, saya melihat ada poster atau iklan film horor Indonesia. Kalau nggak eksploitasi agama Islam ya budaya Jawa.<\/p>\n","protected":false},"author":2422,"featured_media":267779,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[2895,1053,13249,23789,21298,623,7980,3432],"class_list":["post-267661","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-budaya-jawa","tag-film-horor","tag-film-horor-indonesia","tag-horor-indonesia","tag-horor-jawa","tag-jawa","tag-jualan-agama","tag-lingsir-wengi"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267661","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2422"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=267661"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267661\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/267779"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=267661"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=267661"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=267661"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}