{"id":267275,"date":"2024-03-19T14:05:11","date_gmt":"2024-03-19T07:05:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=267275"},"modified":"2024-03-20T13:40:49","modified_gmt":"2024-03-20T06:40:49","slug":"fakta-keliru-terkait-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fakta-keliru-terkait-semarang\/","title":{"rendered":"6 Fakta Keliru Terkait Semarang yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, banyak orang mengenal Kota Semarang sebagai kawasan industri dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kecamatan-tembalang-semarang-tempat-hidup-sobat-umk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kota pendidikan<\/a>. Tentu, kita juga mengenalnya sebagai kota atlas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun pengetahuan soal kota ini sudah jadi informasi umum, tapi ada beberapa hal yang ternyata kurang pas. Namun, celakanya, banyak orang telanjur percaya, sehingga menjadi salah paham.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut 5 di antaranya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Lawang Sewu pintunya ada seribu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gedung peninggalan Belanda ini namanya memang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gedung-birao-tegal-kembaran-lawang-sewu-yang-bernasib-sial\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lawang Sewu<\/a>. Namun, jumlah pintu dari gedung bersejarah ini nggak sampai seribu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jumlah pintu di salah satu landmark Kota Semarang ini \u201chanya\u201d terdapat 928 buah saja. Memang beda sedikit untuk mencapai jumlah seribu pintu. Tapi ya tetap saja nggak sampai seribu. Fakta tersebut otomatis mematahkan anggapan banyak orang yang mengatakan bahwa pintu di gedung Lawang Sewu memang sesuai namanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Lawang Sewu ikon seram Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seingat saya, kesan seram Lawang Sewu lahir sejak trendingnya video uji nyali di sana. Mulai saat itu, semakin banyak kisah keangkeran dari Lawang Sewu. Mulai dari media mainstream sampai blog, banyak yang menceritakan kisah seram dari bangunan yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau kita meninjau bersama, berdasarkan nilai sejarahnya, Lawang Sewu memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Bukan hanya bagi Kota Semarang saja, tapi untuk juga Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, Belanda menggunakan Lawang Sewu sebagai kantor pusat perusahaan rel kereta api. Saat ini, gedung Lawang Sewu menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi Kota Semarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu sisi menarik dari bangunan ini adalah arsitektur bangunannya. Khas zaman kolonial. Kesan seram pada gedung Lawang Sewu jadi biasa saja. Apalagi lokasinya berada di tempat strategis yang ramai dilalui orang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Bandeng Juwana, oleh-oleh khas Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap tempat memiliki beragam daya tarik wisata, salah satunya oleh-oleh khas daerah. Misal Jogja punya bakpia dan gudeg atau Malang dengan olahan apel yang enak banget itu. Begitu juga Kota Semarang yang memiliki oleh-oleh khasnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, sudah banyak orang menganggap oleh-oleh khas ini sebagai punyanya Semarang. Padahal, sebenarnya, bukan dari kota tersebut. Salah satu contohnya adalah <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2021\/12\/15\/210700475\/sejarah-bandeng-juwana-elrina-semarang-mulai-dari-jualan-depan-rumah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bandeng Juwana Elrina<\/a>. Banyak\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">yang menganggap bahwa itu berasal dari Semarang, padahal sebenarnya berasal dari daerah Juwana, Kabupaten Pati. Kekeliruan ini terjadi karena memang banyak toko oleh-oleh Bandeng Juwana Elrina di setiap sudut kota.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kampus UNDIP hanya ada di Kota Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Universitas Diponegoro (UNDIP) adalah perguruan tinggi negeri paling termasyhur di Semarang. Banyak mahasiswa UNDIP yang berasal dari daerah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-surabaya-bikin-culture-shock-mahasiswa-jabodetabek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jabodetabek<\/a>. Beberapa teman saya dari daerah Jabodetabek yang pernah main ke UNDIP, menganggap bahwa UNDIP lokasinya hanya ada di Kota Semarang atau lebih tepatnya di Pleburan atau Kecamatan Tembalang saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, mulai tahun akademik 2021\/2022, UNDIP telah membuka 2 program studi di kampus mereka yang berada di Jepara. Dua program yang ada di kampus UNDIP Jepara adalah S1 Ilmu Hukum dan S1 Keperawatan. Hal ini membuat warga Jepara dan sekitarnya nggak perlu ke Semarang lagi untuk berkuliah di UNDIP.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Masyarakat yang katanya nggak toleran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma masyarakat Kota Semarang kurang toleran muncul sejak adanya penolakan terhadap pendirian cabang dari salah satu ormas Islam. Pada akhirnya, ormas Islam tersebut sudah bubar dan dilarang ada di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, kalau mau tahu sikap toleransi masyarakat seperti apa, kamu bisa melihatnya dari berbagai rumah ibadah minoritas yang masih berdiri tegak di tempat-tempat strategis atau jalan protokol seperti Gereja Blenduk, Klenteng Sam Poo Kong, Vihara Buddhagaya Watugong, dan lain sebagainya. Gimana, masih mau meragukan sisi toleransi masyarakat sini?<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Banjir nggak cuma di utara, padahal ya rata kena semua<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, banyak orang yang tahunya banjir itu ada di kawasan utara saja. Maklum, karena di utara, memang rawan banjir rob. Anggapan itu memang benar adanya, tapi itu dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-banjir-besar-rata-di-banyak-daerah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sekarang, banjir di ibu kota Jawa Tengah itu sudah merata. Rata, kena semua<\/a>. Nggak cuma di utara saja, tapi sampai ke bagian kota. Tentu ini keprihatinan bersama dan semoga keluarga yang terdampak selalu dalam lindungan Tuhan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hal keliru di atas berdasarkan pengalaman saya selama berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang. Semoga dapat meluruskan hal-hal keliru terkait kota ini di mata masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Arief Widodo<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/undip-unnes-bukan-kampus-terbaik-di-semarang-tapi-uin-walisongo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menolak UNDIP dan UNNES Menjadi Kampus Terbaik di Semarang karena Status Itu Milik UIN Walisongo<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Semarang menyimpan banyak fakta menarik. Namun, di antara fakta-fakta tersebut jauh dari kebenaran dan bikin orang salah paham.<\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":267276,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[15985,19833,10003,15984,4652,14921,23480],"class_list":["post-267275","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandeng-juwana","tag-banjir-semarang","tag-kota-semarang","tag-lawang-sewu","tag-semarang","tag-undip","tag-universitas-diponegoro"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267275","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=267275"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267275\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/267276"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=267275"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=267275"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=267275"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}