{"id":267247,"date":"2024-03-19T15:25:39","date_gmt":"2024-03-19T08:25:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=267247"},"modified":"2024-03-19T20:12:29","modified_gmt":"2024-03-19T13:12:29","slug":"perayaan-ujian-magang-alias-magangtulation-itu-budaya-bodoh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perayaan-ujian-magang-alias-magangtulation-itu-budaya-bodoh\/","title":{"rendered":"Magangtulation Itu Perayaan Ujian Magang, Budaya yang Lebih Bodoh daripada Semprotulation"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan di Mojok berjudul\u00a0 <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semprotulation-budaya-bodoh-yang-menyusahkan-mahasiswa\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Semprotulation, Budaya Bodoh yang Menyusahkan Mahasiswa dengan Ekonomi Pas-pasan<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti penulis artikel tersebut, saya merasa semprotuliation adalah hal paling bodoh dan sia-sia. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu semua anggapan\u00a0 saya sebelum bertemu dengan istilah magangtulation.\u00a0 Istilah yang beberapa waktu belakangan mulai muncul itu untuk menyebut perayaan atas selesainya ujian magang atau sidang laporan magang mahasiswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, ujian atau sidang laporan magang sama sekali tidak pantas untuk dirayakan. Tahapan studi ini hanyalah bagian yang sangat kecil dari proses studi di perguruan tinggi. Perjalanan untuk menjadi sarjana masih sangat panjang. Magangtulation hanyalah sepertiga perjalanan menuju lulus. Setelah ini masih banyak tahapan-tahapan yang harus dilalui.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merasa beruntung nggak masuk dalam circle mahasiswa yang merayakan ujian magang. Bagi kalian yang merayakan perayaan semacam ini, mohon maaf ya. Bukannya saya melarang magangtulation, saya hanya merasa perayaan atas selesainya ujian magang adalah hal paling sia-sia.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Perjalanan masih panjang, ujian magang nggak layak dirayakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Magang biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang tengah menginjak semester lima atau enam. Artinya, setelah itu masih banyak tahapan yang perlu dilalui mahasiswa misalnya Kuliah Kerja Nyata (KKN), seminar proposal hingga<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sidang-skripsi-wajib-dirayakan-meriah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> sidang skripsi<\/a>. Dengan kata lain, ujian magang hanyalah awal dari perjalanan panjang mahasiswa menuju kelulusan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa merayakan magangtulation sebenarnya sah-sah saja. Hanya saja, mereka perlu mawas diri. Mereka perlu ingat bahwa selesai ujian magang bukanlah segalanya. Itu beru titik awal menuju kelulusan. Jadi jangan bangga dan santai-santai dahulu ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut hemat saya, daripada menghabiskan waktu dan energi untuk magangtulation, lebih baik mahasiswa melakukan revisi laporan magang. Mahasiswa juga bisa menggunakan waktu dan energi untuk menyusun strategi studi setelah selesai magang. Lebih bermanfaat dan hemat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Magangtulation lebih aneh daripada semprotulation<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan perayaan setelah sidang magang. Saya juga nggak tahu siapa yang menciptakan istilah magangtulation. Hanya saja, sejauh pengamatan saya, kebiasaan ini kian populer ketika <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Generasi_Z\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Generasi Z atau Gen Z<\/a> memasuki dunia perkuliahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlahan magangtulation menjadi kegiatan yang wajib dilakukan, menyusul semprotulation yang lebih dahulu populer. Dari kacamata saya yang tidak begitu setuju dengan perayaan-perayaan semacam itu, perayaan atas selesainya ujian magang hanyalah alat untuk memuaskan gengsi. Saya nggak menemukan esensi penting dari berfoto sambil menunjukkan hasil laporan magang yang penuh revisi dan hadiah dari kawan-kawan. Itu semua hanya demi konten estetik media sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Penjual buket bunga untung, kami yang buntung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melakukan perayaan, baik semprotulation maupun magangtulation, kurang afdal rasanya kalau tidak membawa buah tangan untuk teman yang merayakan. Jelas penjual <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buket-wisuda-itu-perayaan-yang-goblok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">buket bunga<\/a> atau hadiah menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan budaya bodoh ini. Sementara kami, mahasiswa yang masih bergantung dari orangtua ini, semakin terkuras kantongnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi beberapa mahasiswa dengan kondisi ekonomi pas-pasan, perayaan seperti ini akan semakin memberatkan secara ekonomi. Sudah memberatkan, perayaannya nggak punya esensi lagi. Memang sih magangtulation atau semprotulation nggak wajib sifatnya, namun kalau tidak ikut merayakan bukan tidak mungkin akan dikucilkan dari pergaulan. Apalagi kalau seorang mahasiswa sudah terlanjur bergaul di circle pertemanan yang menganggap magangtulation hal yang biasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berharap ke depan nggak ada perayaan-perayaan bodoh lain bermunculan. Kalau dipikir-pikir, daripada merayakan hal-hal yang nggak punya esensi, mending melakukan kegiatan lain yang bisa menunjang studi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Fitrotin Nisak<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sempro-bisa-cepat-kalau-mahasiswa-menguasai-hal-sepele-ini\/\"><b>3 Hal Sepele yang Bisa Mempercepat Proses Sempro Mahasiswa<\/b><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">T<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">erminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perayaan ujian magang alias magangtulation adalah hal paling bodoh dan sia-sia setelah semprotulation. Perjalanan untuk lulus masih panjang. <\/p>\n","protected":false},"author":2267,"featured_media":267287,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[921,9522,23721,34,18786,23723,23722],"class_list":["post-267247","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kampus","tag-kelulusan","tag-magangtulation","tag-mahasiswa","tag-semprotulation","tag-sidang-magang","tag-ujian-magang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267247","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2267"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=267247"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/267247\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/267287"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=267247"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=267247"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=267247"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}