{"id":266984,"date":"2024-03-17T13:20:56","date_gmt":"2024-03-17T06:20:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=266984"},"modified":"2025-11-25T14:01:49","modified_gmt":"2025-11-25T07:01:49","slug":"catatan-pemakluman-masalah-di-jogja-oleh-sultan-jogja-selama-11-tahun-terakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/catatan-pemakluman-masalah-di-jogja-oleh-sultan-jogja-selama-11-tahun-terakhir\/","title":{"rendered":"Catatan Pemakluman Masalah di Jogja oleh Sultan Jogja selama 11 Tahun\u00a0Terakhir: 11 Masalah yang Tak Kunjung Selesai dan Mungkin Tak Akan Pernah Selesai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu dekade sering menjadi batu penjuru peradaban. Apa yang dicapai dalam 10 tahun menjadi rapor, apalagi urusan pemerintahan. 10 tahun bisa berarti pencapaian monumental, kegagalan, atau ya semenjana alias \u201cngene sik wae\u201d. Dan kali ini, saya akan merangkum bagaimana Jogja (baca: Daerah Istimewa Yogyakarta) berjalan selama 10 tahun terakhir. Terutama apa saja opini Sri Sultan HB X terhadap berbagai isu di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama 10 tahun terakhir, Jogja cukup sering jadi pusat perhatian. Entah masalah penetapan keistimewaan, sampai isu miring yang tak kunjung usai. Dan saya ingin merangkum bagaimana Ngarso Dalem bersuara sebagai pemerintah dan sultan kawula Jogja. Karena suara Ngarso Dalem tidak hanya menjadi suara politis, tapi sering diamini selayaknya pemimpin monarki.<\/span><\/p>\n<p>Tapi, apakah setelah satu dekade, ada perubahan? Tidak. Sebab, di tahun kesebelas, tak ada perubahan. Tanda akan ada perubahan saja tidak.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara personal, saya merangkum masalah yang ada selama 11 tahun sekaligus perjalanan saya mencintai Jogja. Dari bersuara mendukung referendum, sampai misuh-misuh melihat UMP Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cWong sudah naik kok protes.\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2014 adalah tahun penuh cerita di Jogja. Terutama karena ontran-ontran keistimewaan Jogja. Tapi di balik semangat chauvinis itu, isu perburuhan ternyata sudah menjadi masalah. Pada tahun ini, Aliansi Buruh Yogyakarta menuntut kenaikan upah minimum yang layak. Betul, isu yang masih terpelihara sampai hari Anda membaca artikel ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Patut dicatat, pada tahun ini kenaikan upah di Jogja menembus angka 10 persen. Bahkan Bantul<\/span><a href=\"https:\/\/jogja.tribunnews.com\/2013\/11\/14\/kenaikan-umk-di-bantul-tertinggi-se-yogyakarta\"> <span style=\"font-weight: 400;\">naik sampai 13 persen<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Lumayan banget daripada kenaikan upah hari ini. Tapi ABY menilai kenaikan upah 2014 masih belum layak. Yah pada tahun segitu, upah sejuta lebih sedikit memang kelewat humble sih. Apalagi Jogja mulai tidak murah lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa pendapat Ngarso Dalem? \u201cWong sudah naik kok protes.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, kenaikan upah harus disyukuri (dengan terpaksa). Dan sampai hari ini, urusan upah di Jogja masih belum selesai. Bagaimana pendapat Pemda Jogja terhadap tuntutan buruh? Ya sampai sekarang masih sama dengan pendapat Ngarso Dalem 10 tahun silam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja Ora Didol<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, tahun 2015 ini tahun yang lucu. Terlepas dari urusan pribadi, Jogja hampir saja ganti nama! Gara-gara rebranding yang mbuh gimana prosesnya, Jogja hampir ganti nama jadi Togua. Bahkan meme Togua sempat merajadi media sosial selama setahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ada yang lebih miris daripada Daerah Istimewa Togua (yang sebenarnya lucu juga), yaitu isu sumur kering akibat pembangunan masif perhotelan. Ketika sebagian masyarakat Jogja masih memperjuangkan status Daerah Istimewa, lahirlah \u201cJogja Ora Didol\u201d. Diawali dengan aksi Mas Dodok<\/span><a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2014\/08\/06\/16225191\/Sumur.Kering.Warga.Jogja.Aksi.Mandi.Tanah.di.Depan.Hotel\"> <span style=\"font-weight: 400;\">mandi tanah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, dan sampai hari ini, Jogja masih memperjuangkan krisis agraria dalam jargon Jogja Ora Didol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menemukan opini istimewa Ngarso Dalem pada tahun ini. Tidak juga menemukan tanggapan blio tentang aksi Jogja Ora Didol. Dan seperti dibiarkan, Jogja Ora Didol menjadi bisikan sumbang di tengah seru pembangunan Jojga dalam doktrin pariwisata.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/catatan-pemakluman-masalah-di-jogja-oleh-sultan-jogja-selama-11-tahun-terakhir\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Uruusan pertanahan Jogja masih muncul&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>\u201cItu urusan mereka.\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan pertanahan Jogja masih muncul pada 2016. Apalagi pada tahun ini, isu Sultan Ground (SG) mulai ramai diperbincangkan. Status tanah tumpang tindih ini menimbulkan banyak sengketa. Dan yang paling tragis adalah<\/span><a href=\"https:\/\/www.merdeka.com\/peristiwa\/sultan-lepas-tangan-soal-pkl-digugat-rp-112-m-oleh-pengusaha.html\"> <span style=\"font-weight: 400;\">gugatan 112 miliar<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> terhadap PKL di tanah SG area Gondomanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lima PKL ini digugat oleh Eka Aryawan, pengusaha yang menyewa tanah SG. Karena menempati tanah seluas 4&#215;5 meter untuk berdagang, Eka menuntut mereka lebih mahal daripada anggaran pembangunan trotoar KM 0. Parahnya, Sultan menyatakan bahwa itu bukan urusannya, dan tidak mau terlibat dalam sengketa yang jelas timpang ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya banyak opini ra mashok tentang Jogja pada 2016. Mulai dari isu separatisme hak tanah warga Tionghoa, sampai opini tidak ada tanah negara di Jogja. Tapi kejadian sengketa SG ini saya pilih karena memang istimewa. Yang seharusnya menjadi tanah adat sumber kemakmuran rakyat, tapi Sultan malah membiarkan polemik horizontal ini tak terkendali. Tidak turun tangan baik sebagai gubernur maupun raja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dari Papua, penggusuran, sampai mimpi Piyungan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2017 menjadi tahun blunder Sultan dalam urusan kenegaraan. Gara-gara opini blio yang dipandang kontroversial, Aliansi Mahasiswa Papuaa mengancam<\/span><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20160723163556-20-146557\/aliansi-mahasiswa-papua-putuskan-tinggalkan-yogya\"> <span style=\"font-weight: 400;\">untuk meninggalkan Jogja<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Sialnya, opini Sultan ini menjadi bensin pada kobaran api gesekan antara mahasiswa Papua dan penduduk Jogja. Sejak 2017 sampai sekarang, mahasiswa Papua makin terdesak di kota pendidikan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isu agraria juga lagi-lagi mencuat di tahun ini. Beberapa warga terdampak penggusuran SG sampai pergi ke Jakarta untuk meminta keadilan. Terutama agar perampasan lahan berdalih SG tidak lagi terjadi. Tapi, sampai hari ini, kasus penggusuran SG masih terus terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada upaya untuk mencari titik temu antara kepentingan Kraton (serta Pemda) dengan hajat hidup masyarakat. Yah, opini Sultan yang mempersilahkan SG menjadi perumahan rakyat hanya jadi impian semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tahun 2017 juga memberi harapan baru. Perwakilan Pemda DIY menjajaki teknologi pengolahan sampah dari Swedia. Sultan berpendapat TPST Piyungan sudah sulit karena kapasitasnya tidak memenuhi syarat. Sehingga solusi terbaik adalah pengolahan sampah. Dan penjajakan ini menjadi langkah pertama. Sebuah langkah yang embuh apa hasilnya, karena sampai 2023 isu TPST Piyungan masih belum selesai.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cTidak ada yang protes.\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Anda mengira masalah Jogja hanya seputar pertanahan, upah, dan pariwisata. Tapi Jogja juga punya masalah agraria lain, yakni perihal pertambangan. Pada 2018, para petani di Kulon Progo melakukan protes<\/span><a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-3678729\/sultan-tak-ada-lagi-yang-protes-tambang-pasir-besi-kulon-progo\"> <span style=\"font-weight: 400;\">menolak tambang pasir besi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di wilayahnya.\u00a0 Bahkan sudah berjalan selama 5 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana Sultan menanggapinya? Blio memandang sudah tidak ada yang protes perihal tambang pasir besi ini. Menurut Ngarso Dalem, protes sudah beralih ke pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Tapi apa benar para warga Kulon Progo ini sudah narimo ing pandum, menerima penambangan pasir besi yang merusak mata pencaharian mereka?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2022 menjadi peringatan 15 tahun perlawanan para petani terhadap tambang pasir besi. Lho, katanya sudah tidak ada yang protes? Kok sampai hari ini masih saja ada penolakan terhadap tambang pasir besi ini? Yo embuh sih, pokoke ISTIMEWA!<\/span><\/p>\n<h2><b>Sultan tolak jalan tol masuk Jogja?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memanas pada tahun 2018. Aksi pembakaran pos polisi UIN Sunan Kalijaga dengan tajuk \u201cbunuh Sultan\u201d menjadi headline utama. Belum lagi opini keluarga Kraton yang bernada mengusir keturunan Tionghoa. Tapi bagi saya ada opini tentang pembangunan jalan tol di Jogja lebih menarik. Karena saya jadi penasaran makna \u201cSabda Pandita Ratu tan keno wola wali.\u201d Yang artinya sabda Raja tidak boleh plin \u2013plan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sultan menyatakan<\/span><a href=\"https:\/\/otomotifnet.gridoto.com\/read\/231160144\/keberatan-sri-sultan-hamengkubuwono-x-enggan-jalan-tol-dibangun-di-jogja\"> <span style=\"font-weight: 400;\">keberatan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pada rencana pembangunan tol yang akan memasuki Jogja. Terutama karena melintasi area Prambanan yang penuh peninggalan sejarah. Realitanya? Hari ini sudah dimulai proses pelepasan lahan untuk jalan tol. Dengan dalih tol gantung, penolakan Ngarso Dalem di tahun 2018 menjadi cerita lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah cagar budaya, toh rencana jalan tol ini akan bersinggungan dengan salah satu Masjid Pathok Negoro. Masjid yang sejatinya menjadi tanda wilayah Kasultanan Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<h2><b>NRIMO ORA MANGAN!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah kemiskinan di Jogja bukan hal baru. Bahkan pada 2019, isu angka kemiskinan ini sudah mengkhawatirkan. Meskipun mengalami penurunan dari 2018, Jogja masih jadi daerah paling miskin di Jogja, bahkan ranking 12 di seluruh Indonesia. Dan sampai hari ini, Jogja belum mentas dari pusaran kemiskinan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana Ngarso Dalem menanggapi angka kemiskinan menurut BPS ini? \u201cMasyarakat itu<\/span><a href=\"https:\/\/yogya.inews.id\/berita\/soal-kemiskinan-di-diy-sultan-masyarakat-nrimo-ora-mangan\"> <span style=\"font-weight: 400;\">nrimo ora mangan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, tapi ternaknya cukup,\u201d ujar blio. Sultan juga mengedepankan masyarakat Jogja yang terlihat miskin, hidup berlantai tanah, tapi punya ternak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, ini adalah puncak opini ra mashok Ngarso Dalem. Pembiaran terhadap kemiskinan membuat masyarakat Jogja terjebak di dalamnya. Dan hingga hari ini, masih setia di papan atas daerah paling miskin di Jawa.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cYang perintahkan lockdown harus beri makan!\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2020 memberi tamparan keras pada Jogja. Pandemi Covid-19 mulai masuk dan mengancam kehidupan rakyat. Untuk mengatasi pandemi mematikan ini, banyak warga melakukan aksi sporadis. Mulai dari desinfeksi wilayah, sampai melakukan lockdown kampung. Bagaimana Sultan Jogja menanggapi ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau lockdown itu terjadi, yang memerintahkan lockdown itu<\/span><a href=\"https:\/\/nasional.tempo.co\/read\/1325680\/sultan-hb-x-yang-perintahkan-lockdown-harus-beri-makan\"> <span style=\"font-weight: 400;\">harus<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> memberi makan setiap orang di wilayahnya,\u201d ujar Ngarso Dalem. Banyak yang menilai opini ini melemahkan pengawasan terhadap pandemi yang baru masuk. Dan terbukti, beberapa tahun berikutnya Jogja mengalami ledakan angka positif COVID-19.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun Jogja menerapkan PPKM ketat, toh urusan makan malah diselesaikan dengan aksi sosial masyarakat. Dan Danais memberi pagar alun-alun yang ga penting itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cAku ora kuat ngragati.\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah pada 2021 Jogja bangkit dari pandemi? Ternyata tidak. Wajar sih, karena seluruh dunia berlutut di hadapan COVID-19. Tapi bagaimana Sultan menghadapi pandemi selaku gubernur Jogja? Apalagi pada tahun ini terjadi peningkatan angka positif Covid-19 di Jogja. Lockdown menjadi harapan untuk mencegah virus ini makin merajalela.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sultan mengaku<\/span><a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita-jawa-tengah\/d-5614761\/sultan-urung-lockdown-yogya-saya-nggak-kuat-ngragati-rakyat\"> <span style=\"font-weight: 400;\">tidak mampu<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> membiayai hidup warga jika dilakukan Lockdown. \u201cAku ora kuat ngragati,\u201d ujar blio. Suara gotong royong warga untuk melawan pandemi menjadi pilihan. Tentu ini dikritik para ekonom, karena sudah jadi kewajiban pemerintah untuk melakukan rebudgeting ketika pandemi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di mana Danais? Tentu saja kembali menjadi dana hibah beautifikasi Jogja yang istimewa.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cKlitih itu by<\/b> <b>design.\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cukup sulit untuk memilih sikap Ngarso Dalem yang ra mashok pada 2022, karena memang sangat banyak. Mulai dari masalah SG, pengupahan, dan penanganan pandemi. Kalau saya tulis semua, bisa jadi artikel tersendiri. Namun bagi saya, opini Sultan yang kebangetan adalah masalah klitih, sebuah opini yang menjadi pembiaran terhadap fenomena berbahaya ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sultan berpandangan bahwa isu klitih ini dibesar-besarkan. &#8220;Mungkin teman-teman tidak merasa kalau itu<\/span><a href=\"https:\/\/www.kompas.tv\/article\/247333\/sri-sultan-hamengku-buwono-buka-suara-soal-fenomena-klitih-di-yogyakarta-itu-by-design\"> <span style=\"font-weight: 400;\">by design<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> misalnya, jadi supaya klitih ini diperpanjang terus menjadi sesuatu yang akhirnya dinyatakan Yogya tidak aman dan nyaman,&#8221; ujar Sultan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>\u201cLha nek wes entek (lha kalau habis), istimewane opo meneh (istimewanya apa lagi)\u201d<\/strong><\/h2>\n<p>Kurang sempurna rasanya kalau tidak membahas isu pertanahan di Jogja, karena isu ini sudah jadi olok-olok banyak orang. Bagaimana tidak? Harga tanah di Jogja sudah tidak masuk akal bagi warganya. Bahkan sekali gajian UMR baru bisa membeli tanah seluas 1&#215;1 meter. Banyak warga yang mulai mempertanyakan tindakan pemprov DIY terhadap masalah ini.<\/p>\n<p>Kalau Ngarso Dalem sih santai. Justru blio lebih khawatir Sultan Ground berkurang. Bahkan jalan tol saja harus menyewa. Belum lagi sertifikasi Sultan Ground yang terkesan tubruk sana tubruk sini. Beberapa warga harus rela tanahnya turun kelas, dari SHM menjadi HGB dengan status Magersari. Bahkan salah seorang warga mengeluh pada saya bahwa biaya sewa Magersari lebih besar daripada PBB.<\/p>\n<p>Ngarso Dalem sempat berjanji untuk menjadikan Sultan Ground sebagai alternatif rumah murah. Sebenarnya bukan hal baru sih, namun kali ini sangat mendesak. Tapi sampai saya menulis ini, wacana perumahan murah ini masih jauh dari terealisasi.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*******<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya masih banyak jejak perjalanan Jogja yang terus dibiarkan nelangsa. Dan sampai tulisan ini saya tutup, masalah sebelas tahun ini tidak ada yang selesai. Jogja yang semenjana tetap ruwet dengan berbagai opini dan keputusan pemerintah daerah. Yah, semoga beberapa tahun ke depan tulisan saya sudah tidak relevan. Kalaupun masih, ya nggak kaget sih. Istimewa og!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-resmi-provinsi-termiskin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Provinsi Termiskin: Matur Nuwun Raja dan Gubernur Jogja<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>11 yang tak akan pernah tuntas.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":266989,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[23678,5193,18244,13464,16194,6094],"class_list":["post-266984","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-11-tahun","tag-klitih","tag-masalah-di-jogja","tag-sultan-ground","tag-sultan-jogja","tag-umr-jogja"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266984","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=266984"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266984\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/266989"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=266984"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=266984"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=266984"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}