{"id":266754,"date":"2024-03-15T13:30:58","date_gmt":"2024-03-15T06:30:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=266754"},"modified":"2024-03-15T13:04:41","modified_gmt":"2024-03-15T06:04:41","slug":"kalian-masih-membela-gaji-di-jogja-ketika-defisit-gaji-jadi-realitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalian-masih-membela-gaji-di-jogja-ketika-defisit-gaji-jadi-realitas\/","title":{"rendered":"Kalian Masih Membela Upah Murah Jogja ketika Defisit Gaji Jadi Realitas? Mending Kita Gelut!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian bosan dengan isu upah murah Jogja (baca: Daerah Istimewa Yogyakarta)? Merasa isu ini hanya gorengan orang sok intelek? Atau malah menilai isu ini bukti anak muda Jogja kurang bersyukur? Mending kita gelut saja di tengah Alkid. Karena isu UMR memang harus disuarakan sampai kuping para ndoro pemerintahan meleleh. Tidak ada kata nanti atau sabar, karena gaji anak muda di Jogja sudah defisit!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, sudah defisit alias boncos! Gaji yang diperoleh sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan untuk sekadar hidup layak dan belum sejahtera. Masalah seperti ini masih mau bawa-bawa narimo ing pandum?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah ini harus jadi ketakutan bersama. Kalau perlu, satu provinsi harus panik. Sebelum semua terlambat dan berakhir nestapa. Hanya karena pemerintah yang pongah serta rakyatnya yang kebanyakan narimo.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gaji di Jogja kok bisa defisit?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membaca \u201cdefisit gaji,\u201d saya cuma bisa melongo. Apakah hanya masalah manajemen keuangan pribadi? Atau masalah yang lebih kompleks?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi defisit gaji adalah kurangnya gaji yang diperoleh pekerja untuk hidup layak. Harus digaris bawahi, untuk hidup layak. Berarti ini bukan perkara manajemen keuangan semata. Bukan karena gaji tiris setelah open table atau karaokean. Bukan juga karena gaji yang diterima habis di <a href=\"https:\/\/bisnis.tempo.co\/read\/1788496\/mengenal-trading-forex-cara-kerja-dan-keuntungannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">forex<\/a> ataupun slot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Defisit gaji di Jogja terjadi bukan hanya karena upah rendah. Tapi juga harga kebutuhan yang tidak sepadan. Meskipun jadi daerah dengan upah dua juta koma belas kasihan, pengeluaran di Jogja tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Apalagi di Kota Jogja yang kini mulai tumbuh menjadi kota besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inflasi ikut menyumbang defisit gaji ini. Ketika upah murah tidak mengalami peningkatan signifikan, inflasi terjadi terus menerus. Belum lagi isu inflasi pangan yang lebih tinggi dari rerata kenaikan gaji nasional. Makin mengerikan? Tentu saja!<\/span><\/p>\n<h2><b>Bisa saja gaji di Jogja untuk foya-foya, tapi\u2026..<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, anak muda Jogja masih bisa tuh foya-foya! Outfitnya masih bagus!\u201d Mungkin di benak Anda terlintas ungkapan itu. Sebelum saya ajak gelut, mari kita pahami situasinya. Memang, banyak anak muda Jogja tetap hidup mapan bahkan foya-foya dengan gaji mengenaskan. Tapi apakah gaji mereka yang menyelamatkan? Belum tentu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu penyelamat anak muda Jogja dari gaji mencekik adalah hidup bersama orang tua. Dari biaya perumahan sampai pangan masih ditanggung penuh ataupun sebagian. Belum lagi kebutuhan lain seperti kendaraan serta dana darurat. Selama orang tua memiliki kapital yang cukup, maka upah rendah Jogja masih bisa ditolerir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga muda-mudi Jogja yang memiliki gaji setingkat Jakarta. Syaratnya adalah kerja remote di perusahaan di luar Jogja. Ini jadi solusi paling masuk akal untuk meromantisasi, \u201cJogja itu murah.\u201d Dengan gaji di atas 5 juta, pemenuhan kebutuhan hidup di Jogja tidak terlalu berat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, berapa banyak orang yang punya privilese di atas? Sedangkan masih banyak muda-mudi Jogja yang hidup hanya mengandalkan gaji semata. Belum lagi yang jadi generasi roti lapis yang harus menanggung banyak orang. Kita tidak bisa menjadikan kelompok dengan privilese itu sebagai pembelaan terhadap upah murah. Karena justifikasi macam ini yang ikut mendorong defisit gaji di Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Stop membudayakan solusi merantau dan kerja sampingan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa kalau mau cukup, cari kerjaan sampingan lah! Kalau perlu merantau sekalian\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin hati Anda kini menjerit demikian. Jujur saja, sudah waktunya kita gelut! Tapi saya coba bersabar dan jelaskan pelan-pelan. Budaya merantau dan kerjaan sampingan tidak pernah jadi solusi bagi kasus defisit gaji. Justru malah menjadi bom waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara merantau, jelas tidak semua orang punya kesempatan. Ada yang punyan tanggungan menjaga keluarga. Ada pula yang tidak punya modal. Tapi yang pasti, merantau tidak akan pernah menyelesaikan isu upah gaji di Jogja. Yang ada, pasar tenaga kerja di daerah lain makin ketat yang bisa menimbulkan tren upah murah baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerja sampingan juga tidak boleh menjadi solusi. Harusnya, upah dari satu pekerjaan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan serta penghargaan atas skill yang dimiliki. Sedangkan pekerjaan sampingan dilakukan sebagai pemenuhan aspirasi ataupun kebutuhan tersier. Yang terjadi, pekerjaan sampingan malah ikut menutup kebutuhan dasar untuk hidup layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua pendapat saya terdengar utopis? Tidak! Sudah selayaknya kita bekerja dengan situasi aman. Baik aman untuk hidup layak, maupun aman dari bahaya kerja. Jadi stop menormalisasi merantau dan kerja sampingan sebagai solusi. Masalah upah murah dan defisit gaji di Jogja tidak bisa diselesaikan dengan jalan pintas di atas. Karena ini masalah besar yang perlu penyelesaian dari pemerintah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gaji defisit adalah masalah struktural dan kultural<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLalu apa solusinya? Jangan cari kesalahan terus!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah Anda kini berpikir demikian? Tolong logikanya dipakai sedikit saja. Isu defisit gaji di Jogja dan upah murah tidak akan selesai di tangan rakyat. Tapi harus ada keterlibatan pemerintah! Ini bukan cari-cari kesalahan, lha wong memang salah pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemprov DIY harus menyiapkan solusi, baik jangka pendek atau panjang. Karena masalah ini adalah masalah struktural. Selama pemerintah mengikuti skema kenaikan upah tanpa ada tindakan lain, masalah ini akan tetap ada. Harus ada insentif demi mengontrol biaya kebutuhan hidup. Belum lagi solusi perumahan yang kini makin mencekik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana solusi konkritnya? Ya silahkan pemerintah pikirkan. Masak gaji kami sudah defisit, masih harus mikir solusi gratisan? Yo rungkat bosku!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah upah murah ini juga kultural. Selama upah murah dibenarkan masyarakat, maka tekanan untuk perbaikan sistem pengupahan makin lemah. Yang terjadi, kelompok miskin baru akan lahir sebagai hal yang (dianggap) normal. Kelompok yang tidak layak dapat subsidi, namun tidak mampu memenuhi kebutuhan hanya demi hidup layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah setelah melihat realitas ini, Anda masih membela gaji di Jogja? Masih percaya upah hari ini layak asalkan hidup sederhana dan narimo ing pandum? Sudahlah, mending kita gelut saja! Sudah kelewat tumpul hati dan pikiran Anda!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ump-jogja-memang-naik-tapi-tak-ada-efeknya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMP Jogja Memang Naik, tapi Tetap Saja Tak Ada Efeknya, Tetap Tak Bisa Beli Apa-apa!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>T<\/em><em>erminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gelut!<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":266756,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[23651,23650,115,4602,6094],"class_list":["post-266754","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-defisit-gaji","tag-gaji-di-jogja","tag-jogja","tag-umr","tag-umr-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266754","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=266754"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266754\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/266756"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=266754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=266754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=266754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}