{"id":266733,"date":"2024-03-16T12:06:49","date_gmt":"2024-03-16T05:06:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=266733"},"modified":"2024-03-16T12:06:49","modified_gmt":"2024-03-16T05:06:49","slug":"suara-hati-anak-haram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suara-hati-anak-haram\/","title":{"rendered":"Suara Hati Anak Haram: Berhentilah Mengaitkan Saya dengan Dosa yang Tidak Saya Lakukan dan Jelas Tidak Saya Inginkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah (mungkin pembaca seumuran saya juga) nonton sinetron lawas yang dibintangi Tante Mer (Meriam Bellina) dengan judul \u201cAnak Haram, Lahir Tak Diharap Hidup Menanggung Beban\u201d dan percayalah itu semua adalah nyata. Tidak berlebihan, kok. Ini bukan kata orang, bukan pengaruh sinetron, tapi saya alami sendiri. Sejak lahir hingga saat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengalami banyak hal, dan tentu saja bisa kalian tebak, banyak yang tidak menyenangkan. Tapi, saya sudah berdamai dengan hal itu, atau memaksa untuk berdamai. Itu tidak begitu penting, karena itu hal lain, sedangkan yang coba saya bahas adalah, kenapa seakan-akan jadi \u201canak haram\u201d adalah salah si anak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, saya harus cerita dulu agar kalian paham maksud saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kehadiran anak haram di dunia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut orang tua saya (angkat), saya dilahirkan oleh seorang gadis. Gadis desa yang mencoba peruntungan dengan merantau ke kota agak besar pada 1986 jelasnya Kota Solo. Menjadi buruh pabrik yang pulang-pulang berbadan dua dan terus bungkam siapa pelakunya hingga bayinya lahir. Setelah hitungan minggu melahirkan, sang bayi dibawa mencari bapaknya. Beberapa bulan kemudian kembali pulang masih tanpa bapak, menitipkan sang bayi di kampung, lalu menghilang hingga kini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika pada akhirnya saya diadopsi oleh orang baik, tanggal lahir saya dibuat sesuai tanggal pembuatan akta kelahiran. Walhasil umur asli saya lebih tua dari yang tertera pada akta. Entah dasar mana yang nanti akan digunakan malaikat pencabut nyawa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penerimaan oleh lingkungan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan pintar. Sayangnya kerumunan emak-emak pencari kutu suka nyeletuk ketus kalau saya lewat. Ada yang bilang saya anak pelacur, anak perempuan simpanan, dan anak-anak tidak jelas lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya mengadu, orang tua angkat saya selalu bilang jangan dihiraukan. Ya sudah, saya cuma nangis di pojokan. Saya selalu hidup dalam keterasingan, merasa berbeda, hina, dan malu. Bahkan dalam keluarga besar (angkat) tidak semua bisa menerima kehadiran saya. Salah saya di mana?<\/span><\/p>\n<h2><b>Asmara anak haram yang selalu kandas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan asmara pun tak terkecualikan dari kesialan si anak haram. Sudah menjalani hubungan bertahun-tahun selalu berakhir kandas karena terhalang restu calon mertua. Tak cuma sekali, sudah tiga kali. Bahkan saya pernah ditolak dengan kata menyakitkan. Bagaimana kalau saya anak preman atau penipu? Atau keturunan maling? Atau anak orang penyakitan? Tidak jelas asal-usulnya, merusak garis keturunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehina itukah saya? Apakah ini beneran salah saya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski pada akhirnya saya berhasil menemukan jodoh di usia tiga puluh tahun, saya masih harus dipusingkan dengan urusan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sulsel\/berita\/d-6626318\/4-urutan-wali-nikah-bagi-perempuan-muslim-serta-ketentuannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wali nikah<\/a>. Menelusuri silsilah dan berakhir dengan dinikahkan wali hakim. Saya bersyukur masih disisakan sebuah keluarga yang bersedia menerima saya sebagai saya. Tidak mempermasalahkan bagaimana saya ada didunia ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Berusaha menaikkan nilai diri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski didera kepedihan sebagai anak haram serta berbagai label negatif yang saya sandang, saya tidak pasrah dalam diam. Saya berontak tapi dengan elegan dengan selalu berusaha menaikkan nilai diri. Saya berprestasi di sekolah, aktif dalam kegiatan sosial, bisa dikatakan juga sukses dalam kareir. Di kampung kecil pelosok <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/wonogiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wonogiri,<\/a> saya bisa menjadi PNS. Profesi yang menjadikan penyandangnya sebagai orang terhormat di kalangan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja di balik senyum manis, sambutan hangat, dan ramah tamah warga sekitar terhadap saya ada saja yang masih menatap sinis. Berbisik-bisik dengan bibir menya-menyo macam presenter gosip. Belum lagi yang terang-terangan berkata tidak menyangka anak haram bisa naik derajat. Ada juga yang bilang pasti orang tua kandungmu menyesal meninggalkanmu. Dan banyak lagi. Jelas itu bukan sebuah simpati. Bukan pula empati. Masih tentang memandang rendah saya, si anak haram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apapun yang saya lakukan, yang saya raih sejauh ini tak bisa membuat orang lupa tentang saya si anak haram. Tolonglah, apa salah saya? Berhentilah memandang saya sebagai buah dari dosa karena saya sama sekali tidak ambil andil di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tetangga saya membaca tulisan ini, mohon disosialisasikan kepada yang lain bahwa saya sangat lelah. Bukankah kita tidak bisa request untuk dilahirkan oleh siapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Juga kepada seluruh pembaca yang budiman, yang masih sepemikiran dengan tetangga saya, tolong hentikan semua itu. Bebaskan kami dari jeratan masa lalu hina yang amat menyiksa ini. Merdeka!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Santi Nurma Indriyani<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ump-jogja-memang-naik-tapi-tak-ada-efeknya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMP Jogja Memang Naik, tapi Tetap Saja Tak Ada Efeknya, Tetap Tak Bisa Beli Apa-apa!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>T<\/em><em>erminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Blame it all on me?<\/p>\n","protected":false},"author":2603,"featured_media":266842,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[23663,2384,226,4772],"class_list":["post-266733","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-anak-haram","tag-dosa","tag-kesalahan","tag-stigma"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266733","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2603"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=266733"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266733\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/266842"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=266733"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=266733"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=266733"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}