{"id":266673,"date":"2024-03-14T15:15:48","date_gmt":"2024-03-14T08:15:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=266673"},"modified":"2024-03-15T13:17:23","modified_gmt":"2024-03-15T06:17:23","slug":"semarang-banjir-besar-rata-di-banyak-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-banjir-besar-rata-di-banyak-daerah\/","title":{"rendered":"Semarang Banjir Besar, Mematahkan Konsep Lagu &#8220;Semarang Kaline Banjir&#8221; karena Sekarang Semua Daerah Banjir!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Januari 2024 yang lalu, Heavita Gunaryanti Rahayu, Wali Kota Semarang mengklaim bahwa <a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2024\/01\/25\/190022078\/mbak-ita-klaim-kawasan-rawan-banjir-di-kota-semarang-tinggal-3-persen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kawasan banjir tinggal 3% saja<\/a>. Namun, baru pertengahan Maret, klaim tersebut jadi dipertanyakan. Hampir semua kawasan di ibu kota Jawa Tengah tersebut terendam oleh air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Heavita Gunaryanti Rahayu, atau warga lokal akrab menyapanya Mbak Ita, mengungkapkan bahwa sebagian besar banjir berada di 3 kecamatan, yaitu kecamatan Genuk, Pedurungan, dan Semarang Utara. Menurutnya, banjir 2024 ini sudah mulai berkurang berkat upaya Pemkot dan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 14 Maret 2024, <a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20240314043658-20-1074030\/10-titik-banjir-kepung-kota-semarang-di-tengah-hujan-deras\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CNN Indonesia<\/a> menayangkan berita yang \u201cmematahkan\u201d klaim Mbak Ita. Pasalnya, banjir besar di Semarang terjadi di 10 titik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut 10 titik banjir di wilayah Semarang dan sekitarnya:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Gebanganom \u00b1 70-80 sentimeter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Padi raya \u00b1 50-60 sentimeter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Sendang indah Kelurahan Muktiharjo lor \u00b1 15 sentimeter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Muktiharjo indah RW 15 Kelurahan Muktiharjo Kidul \u00b1 15-20 sentimeter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Muktiharjo raya Kelurahan Muktiharjo Lor \u00b1 30-70 sentimeter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Jodipati Kelurahan Krobokan \u00b1 15-40 sentimeter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Wilayah RW 7 Kelurahan Kudu \u00b1 15-20 cm<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Wilayah Kelurahan Tambakrejo \u00b1 15-30 cm<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Raya Kaligawe (Depan RSI Sultan Agung &#8211; Bawah Tol) \u00b1 20-50 sentimeter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jalan Sidorejo 3 Kelurahan Sambirejo \u00b1 20-30 sentimeter.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kenyataan di atas, klaim dari Mbak Ita jadi patah. Kalau sudah begini, lantas bagaimana?<\/span><\/p>\n<h2><b>Banjir rob mengancam Semarang Utara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah belum berhenti sampai di situ karena Semarang Utara juga terancam. Jadi, Pusat Meteorologi Maritim BMKG merilis informasi mengenai gelombang tinggi di perairan Laut Jawa bagian tengah yang dapat mencapai ketinggian 1,25-2,5 meter. Kondisi ini bisa menyebabkan banjir rob di wilayah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-di-mata-orang-jogja-panas-makanannya-nggak-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pesisir pantai utara<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak dulu, kawasan ini memang sudah menjadi langganan banjir rob. Banjir rob sendiri terjadi ketika air laut pasang dan menggenangi daratan yang berada di pesisir pantai. Warga sekitar juga sudah tidak kaget kalau banjir rob terjadi. Namanya saja konsumsi tiap tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak warga yang sudah tidak mau lagi melapor ke Mbak Ita perkara banjir ini. Lha mau bagaimana, mungkin mereka sudah malas. Seakan-akan banjir di Semarang tidak mempunyai solusi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, pada 2022, banjir rob datang dengan ketinggian mencapai 1 meter. Pemkot Semarang memang sudah bergerak untuk mengatasi. Misalnya dengan membangun sheet pile atau sistem penampungan air. Pemkot menargetkan akan membangun 10 polder atau sheet pile lagi dan direncanakan selesai pada Mei 2024.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih hati-hati membuat klaim<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Mbak Ita, sejak pembangunan sheet pile selesai, tidak ada lagi laporan warga terkait rob. Namun kenyataannya, pembangunan polder itu tidak dapat menjadi solusi permanen mengatasi banjir rob. Hal ini karena banjir rob di Semarang juga disebabkan oleh perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, warga Semarang Utara mengatakan, jika \u201csi tamu agung&#8221; datang, warga sekitar bergotong-royong untuk melakukan penanganan sendiri tanpa melibatkan Pemkot. Konon mereka sudah \u201cberdamai\u201d dengan keadaan. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-kaligawe-semarang-pusatnya-jalanan-rusak-dan-banjir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Meskipun ini sebenarnya menyedihkan karena warga seakan-akan tidak punya solusi lagi<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kondisi seperti itu, klaim Mbak Ita tentang banjir di Semarang tinggal 3% tentu jadi menimbulkan pertanyaan. Khususnya bagi untuk warga Semarang Utara. Mungkin kalau klaim itu benar ya 3% dibagi jadi 3. Yaitu 1% untuk Kecamatan Semarang Utara, 1% untuk Kecamatan Genuk, 1% terakhir untuk Kecamatan Tlogosari. Ya apa, sih, perbedaan yang terasa dari perubahan senilai SATU PERSEN SAJA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kenyataan yang terjadi hari ini, di mana banjir besar sedang terjadi, saya rasa Pemkot harus lebih serius menangani banjir. Dan lebih berhati-hati membuat klaim. Bisa jadi alam punya \u201ckehendak lain\u201d dan jadilah banjir besar hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, mari melakukan upaya-upaya ekstra. Misalnya dengan melakukan reklamasi pantai. Selain itu, perlu juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Apalagi mengingat Semarang memang rawan banjir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dhila Agustin<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-kaligawe-semarang-pusatnya-jalanan-rusak-dan-banjir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Kaligawe Semarang, Pusatnya Jalanan Rusak dan Banjir yang Bikin Rakyat Sengsara<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semarang banjir besar. Padahal, Januari 2024 yang lalu, Mbak Ita, Wali Kota, mengklaim bahwa banjir tinggal 3%. Klaim yang serampangan.<\/p>\n","protected":false},"author":2602,"featured_media":266674,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[16532,23641,23642,4652,23639,23640,23643],"class_list":["post-266673","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-banjir-rob","tag-heavita-gunaryanti-rahayu","tag-mbak-ita","tag-semarang","tag-semarang-banjir","tag-semarang-utara","tag-wali-kota-semarang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266673","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2602"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=266673"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266673\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/266674"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=266673"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=266673"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=266673"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}