{"id":266508,"date":"2024-03-13T13:00:25","date_gmt":"2024-03-13T06:00:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=266508"},"modified":"2024-03-13T18:28:32","modified_gmt":"2024-03-13T11:28:32","slug":"bilang-uin-suka-lebih-unggul-ketimbang-ugm-itu-halu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bilang-uin-suka-lebih-unggul-ketimbang-ugm-itu-halu\/","title":{"rendered":"Bangga sih Bangga, tapi kalau Bilang UIN SUKA Lebih Unggul ketimbang UGM, Itu mah Bukan Bangga, tapi Halu!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca tulisan mas Ahmad Nadlif dengan judul<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-ugm-atau-uny-uin-sunan-kalijaga-adalah-kampus-paling-unggul-di-jogja\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">\u200b\u200b\u200b\u200b<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan UGM Atau UNY, UIN Sunan Kalijaga Adalah Kampus Paling Unggul di Jogja<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat perut saya sakit karena tertawa. Bukan hanya saya, teman di samping saya ketika membaca itu juga demikian. Entah apa yang dipikirkan mas Nadlif saat membuat tulisan tersebut. Apa itu hanya bentuk kebanggaan seorang mahasiswa terhadap kampus tempat dia belajar? Mungkin kalau mas Nadlif ngampus di UGM beda cerita, tulisan yang dia buat judulnya pasti akan begini \u201c5 Alasan Kenapa UGM Masih Menjadi Kampus Terbaik di Jogja Sampai Saat Ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya di sini bukan mau menjelek-jelekkan UIN SUKA, kampusnya gak buruk kok. Dari kualitas dosen, banyak di antara mereka adalah orang yang sudah punya nama di kancah nasional bahkan internasional. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam misalnya, ada nama-nama seperti Fahruddin Faiz yang terkenal dengan ngaji filsafatnya, Sahiron Syamsuddin penggagas teori Ma\u2019na cum Maghza, Abdul Mustaqim dengan Tafsir Maqasidinya, dan tentu saja Amin Abdullah dengan paradigma Integrasi-Interkoneksi. Anak Ushuluddin mana yang tidak kenal mereka berempat?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jujur, 4 indikator terakhir yang dijadikan patokan \u2018keunggulan\u2019 UIN SUKA oleh mas Nadlif sebenarnya nggak banget, dia terlalu positif dalam menilai kampus. Malah dalam pandangan saya, beberapa indikator yang diajukan sebenarnya membuat UIN SUKA justru terlihat tidak unggul dibanding UGM dan UNY. Kenapa begitu? Saya jelaskan satu-satu.<\/span><\/p>\n<h2><b>UIN SUKA Strategis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di poin ini saya sepakat dengan Mas Nadlif. Letaknya sangat strategis di jalan utama Solo-Jogja. Teman kelas saya yang mondok di daerah Prambanan jadi tidak perlu repot-repot belok sana belok sini kalau ngampus. Cukup lurus, jalan 15 menitan sampai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lokasi ini juga membuat anak UIN SUKA terhindari dari macetnya kota Jogja. Mungkin ada sedikit di gang-gang kecil daerah Sapen. Tapi macetnya jauh tidak separah di pertigaan jalan Colombo, Gejayan. Bandingkan saja pertigaan depan gerbang UNY itu dengan jalanan dekat UIN, apalagi kalau maghrib.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Ilusi tingginya IPK<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari sini saya tidak sepakat dengan mas Nadlif, aneh rasanya jika membanggakan tingginya IPK para mahasiswa. Menurut saya justru ini poin yang sangat fatal dan tidak perlu dibanggakan. Coba bayangkan, banyak di antara teman kelas saya yang IPK nya di atas 3.70, tapi kalau ditanya dosen tentang kejelasan teori dari tokoh A semua terdiam seribu bahasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen UIN SUKA dan PTKIN lain\u2013setidaknya di jurusan non-saintek, menurut saya terlalu gampang memberi nilai. Yang selama ini saya lihat, IPK tinggi dari mahasiswa tidak berbanding lurus dengan kemampuan mereka. Bisa saja selama ini mereka dapat nilai tinggi hanya karena rajin hadir, tidak lupa mengerjakan tugas, aktif memberi pertanyaan, kritik dan saran di forum diskusi, atau senantiasa membalas pesan dosen di WA grup. Padahal kalau diukur kemampuannya minim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi jangan heran kalau banyak wisudawan UIN dengan predikat Cumlaude. Dapat nilai di UIN itu pol mudah banget. Lantas apa yang harus dibanggakan para pemegang IPK tinggi? Kalau teman kelasnya Mas Nadlif insecure dengan IPK tinggi, saya kasih tau, \u201cguys, itu cuma ilusi.\u201d Sebab yang terpenting di bangku perkuliahan adalah tingkat pemahaman kita, bukan semata-mata IPK.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian situ kok pede banget jadiin IPK sebagai tolok ukur. Memangnya mahasiswa UGM IPK-nya pada jongkok? Situ kalau tahu bisa kejang ndangak-ndangak. Mosok kampus favorit di Jogja mahasiswanya jongkok, kan ya nggak mungkin.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bilang-uin-suka-lebih-unggul-ketimbang-ugm-itu-halu\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Kampus sempit, parkiran sulit<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>UIN SUKA: kampus sempit, parkiran susah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan mudah mencari gedung fakultas, malah justru karena sempitnya kampus UIN SUKA, saya dan teman-teman kadang bingung. Bayangkan saja, ada gedung yang isinya dua fakultas sekaligus. Entah konsepnya ingin dibuat nyambung antar fakultas atau bagaimana, tapi jujur ini bala\u2019, terutama untuk Maba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah satu ketika saya dan beberapa kawan Ushuluddin punya jadwal kuliah di ruang 304. Kala itu kita masih Maba dan tidak tahu mana area Ushuluddin dan mana area Dakwah, karena memang dua fakultas itu gedungnya nyambung\u2013kalau memang tidak ingin dibilang satu, juga tidak ada pembatas jelas antar keduanya. Kemudian dengan dengan PD kita masuk ke ruangan dengan nomor 304. Tapi beberapa waktu setelah duduk, kami ditegur oleh segerombolan mahasiswa dan bilang kalau itu ruangan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saling klaim-mengklaim terjadi, mungkin karena kita masih sama-sama Maba, jadinya tidak tahu-menahu. Tak lama berselang, gerombolan saya terkejut dengan kiriman foto di WA grup, foto yang berisi informasi ada ruangan lain dengan nomor 304, dan sebenarnya itulah ruangan kami. Dengan sedikit malu, akhirnya kami keluar dari ruangan \u2018304 Dakwah.\u2019<\/span><\/p>\n<h2><strong>Makin sulit saat wisuda<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah tapi kan itu kebingungan di awal saja, setelah kenal area kampus bisa teratasi. Mungkin iya, tapi ada kebingungan lain yang tetap akan selalu ada, cari parkir. Nyari parkir di UIN SUKA itu susahnya minta ampun, terutama mereka yang bawa mobil. Satu ketika, ada anak Ushuluddin yang rela markir mobilnya di area gedung Amin Abdullah karena di sekeliling Ushuluddin sudah penuh, memang jaraknya tidak jauh, tapi ini gambaran betapa susahnya parkir di UIN SUKA. Dan perlu saya tambahkan, nyari parkiran akan semakin susah kalau ada acara wisuda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong masalah wisuda, entah kenapa di UIN SUKA jadwal waktunya itu tidak seperti kampus pada umumnya. Di UINSA Surabaya misalnya, acara wisuda biasanya dilangsungkan bukan pada hari aktif kuliah, melainkan di hari Sabtu atau Minggu. Lah UIN SUKA ini wisudanya di hari perkuliahan. Bayangkan coba, kalau di hari biasa saja nyari parkir sudah sulit, apa kabar kalau ada perayaan para sarjana baru yang kebanyakan berpredikat Cumlaude itu? Dan ya, ingat lagi, kampus itu sempit!<\/span><\/p>\n<h2><strong>Timoho dan Sapen: area bebas helm<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya, tidak semua kok anak-anak UIN SUKA taat berkendara. Ketaatan yang nyata paling cuma soal tidak cenglu, karena satpam bakalan negur secara langsung kalau ada yang seperti itu. Tapi untuk helm? Setahu saya satpam los-los saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Nadlif bilang kalau Pos KTL UIN selalu monitoring mahasiswa yang tidak taat berkendara, sumpah itu aneh banget. Untuk menghindari itu, anak-anak bisa kali ambil jalan lewat Timoho atau Sapen, polisi mana ada ngawasin jalan itu. Untuk anak-anak yang ngekos sekitaran UIN juga sebenarnya tidak punya urgensi mendalam soal penggunaan helm. Kecuali itu kesadaran dirinya sendiri, seperti ngikutin aturan negara atau ngelindungin mukanya biar tidak kena polusi dan menghitam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula di satu sisi UNY juga punya pos jaga polisi di dekat gerbangnya juga. Mahasiswanya bisa mengelabui? Berarti sama saja seperti anak UIN. Lantas apa istimewanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerjaan non-linear bukan eksklusivitas Anak UIN SUKA<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan jurusan bukan hal yang baru di Indonesia. Saya kutip dari<\/span><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/perguruan-tinggi\/d-5793585\/nadiem-ungkap-80-lulusan-tak-bekerja-sesuai-prodi-bagaimana-sisanya\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Detik<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">com<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim bilang kalau 80% Mahasiswa bekerja tidak sesuai dengan jurusannya.<\/span><a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/edu\/read\/2022\/11\/07\/090548371\/80-persen-mahasiswa-bekerja-tidak-sesuai-jurusan-ini-4-alasannya?page=all\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kompas<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam narasi beritanya malah menuliskan \u201c80 persen mahasiswa di Indonesia bekerja tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya\u201d. Mas, bukannya berita ini memberikan gambaran kalau pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan kuliah itu hal yang banyak terjadi di berbagai kampus?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas-jelas dua berita di atas menggambarkan lulusan mahasiswa secara umum di Indonesia, bukan khususon mahasiswa UIN SUKA Jogja. Apa istimewanya bagi UIN SUKA kalau lulusan mereka ternyata tidak bekerja sesuai jurusan? Kalau itu dianggap istimewa kampus lain harusnya dianggap istimewa juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Akhir kata: masih ada kekurangan lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Nadlif, mabok kah sampean ketika mengatakan UIN SUKA lebih unggul ketimbang UGM dan UNY? Mungkin hanya di mimpi sampean UIN SUKA bisa melebihi UGM dan UNY. Bangun saja, Mas. Agak laen kalau bilang UGM kalah unggul. Ini UGM lho, UGM!<\/span><\/p>\n<p>Kalau mau banding-bandingan sama UNY sih&#8230; okelah, UNY dan UIN bisa dibilang dua kampus yang agak setara di Jogja. Tapi ya, kalau lebih unggul, debatable pake banget.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang saya katakan di atas malah baru beberapa, ada lagi yang lain. Contoh yang paling nyata tidak ada penerangan di jalan Timoho antara kampus timur dan barat, sumpah kalau kalian lewat situ malam-malam gelap banget. Entah sampai kapan pejabat UIN SUKA mau benahi \u2018hal kecil\u2019 seperti itu, belum lagi yang besar-besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau dibilang itu bukan tanggung jawab pihak kampus? Lantas haruskah kampus Nasional harapan Kemenag berdiam diri menunggu langkah Pemda Sleman karena tidak mampu beli lampu? Saran saya, tahun ini tambah saja uang sidang beberapa ratus ribu dan beri keterangan, infak lampu. Kelar tuh masalah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Naufa Izzul Ummam<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/uin-sunan-kalijaga-tak-ingkar-janji\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Di UIN Sunan Kalijaga, Mahasiswa Harus Demo Supaya Rektorat Mau Mendengarkan Suara Mahasiswa<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>T<\/em><em>erminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mabok lur?<\/p>\n","protected":false},"author":2601,"featured_media":257497,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[23628,115,15609,195,5443,9570],"class_list":["post-266508","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jalan-timoho","tag-jogja","tag-keunggulan","tag-ugm","tag-uin-sunan-kalijaga","tag-uny"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266508","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2601"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=266508"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266508\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/257497"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=266508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=266508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=266508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}