{"id":26635,"date":"2020-02-01T07:15:04","date_gmt":"2020-02-01T00:15:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=26635"},"modified":"2020-02-01T07:24:44","modified_gmt":"2020-02-01T00:24:44","slug":"suatu-hal-yang-harus-dipelajari-netizen-dari-kegaduhan-cuitan-ardhito-pramono","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suatu-hal-yang-harus-dipelajari-netizen-dari-kegaduhan-cuitan-ardhito-pramono\/","title":{"rendered":"Suatu Hal yang Harus Dipelajari Netizen dari Kegaduhan Cuitan Ardhito Pramono"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin (31\/01), pagi-pagi sekali saya buka Twitter. Menjelajahi beranda dan <em>trending topic<\/em> sambil menghisap Sampoerna kretek dan segelas <em>guday kulin<\/em>. Pagi yang <em>flat<\/em> dan <em>santuy<\/em> jadi berwarna karena nama Ardhito Pramono muncul di <em>trending <\/em>g<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ara-gara cuitan dia 10 tahun ke belakang di-retweet oleh seseorang dan memancing keributan netizen karena katanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cringe <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan rasis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serius nanya ini <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mah,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> apa netizen itu banyak yang gabut ya sampai mempermasalahkan cuitan berumur 10 tahun?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buah dari hal ini, Ardhito Pramono bikin video &#8220;klarifikasi&#8221; tentang cuitannya tersebut. Ini lucu, mari kita ketawain bareng-bareng.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang harus kita ketawain pertama kali adalah orang yang me-retweet cuitan Ardhito. Apa yang bikin dia mau <em>ngubek-ngubek<\/em> akun Twitter orang lain? Bahkan sampai 10 tahun yang lalu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tuh kadang heran sama orang macam ini. Nggak ada angin dan hujan <em>ujug-ujug<\/em> bikin rame khasanah per-Twitter-an Indonesia. Apakah alasannya karena ada &#8220;orderan&#8221; atau alasan pribadi atau murni iseng doang? Maksudnya kok ya bisa kepikiran melakukan hal ini? Kan aneh ya kalau alasannya murni karena iseng doang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perihal cuitan Ardhito Pramono yang <em>cringe<\/em> mirip bunyi sepeda itu wajar buat abg umur 14 tahun. Ini yang harus diperhatikan netizen. Ardhito saat itu masih abg, anak kemarin sore, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/lipi-banyak-remaja-ikut-gangster-karena-masih-cari-jati-diri-dGvD\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">remaja<\/a> yang nggak ngerti apa-apa. Apa yang kalian harapkan dari seorang abg sih? Menjadi seorang abg yang visioner?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan lagi, 14 tahun adalah masa ke-alay-an seorang manusia dan ini wajar. BANGET! Ingat, alay itu fase hidup yang harus dilalui untuk menjadi orang dewasa seutuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa jangan-jangan netizen ini dulunya nggak pernah alay, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wkwkwk justru yang nggak wajar dan <em>cringe<\/em> itu orang dewasa, yang sudah pernah remaja dan alay, mempermasalahkan cuitan anak 14 tahun! Apa sih manfaat yang bisa didapatkan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian pun nggak mendapatkan apa-apa dari hal ini, kecuali mungkin kepuasan sudah melakukan perundungan digital pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">public figure <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di media sosial. Ya, kalian melakukan hal yang ingin kalian hilangkan dari muka bumi saat ada anak SMP meninggal karena perundungan beberapa waktu kemarin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian ini seperti meminta Ardhito Pramono yang sekarang mengubah Ardhito Pramono 10 tahun yang lalu, sudah jelas nggak akan pernah bisa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yah namanya juga seorang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">public figure, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">secara bersamaan dia juga jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">public enemy. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang suka, ada yang benci. Saya yakin nggak ada yang mau nyari tahu gimana cuitan saya 10 tahun yang lalu. Kalaupun ada, nggak bakal bikin rame jagat khasanah per-Twitter-an Indonesia seperti Ardhito.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Netizen yang budiman silahkan ribut, beradu argumen tentang Ardhito Pramono remaja yang <em>cringe<\/em> dan rasis. Serta Ardhito dewasa yang ganteng dan orang ganteng itu boleh melakukan apa saja<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Saya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mah <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bagian nikmatin doang. Tapi heran juga sih, kenapa yang diributkan malah dua hal ini?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau dia ganteng atau nggak, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">public figure <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau bukan, Ardhito Pramono remaja bukanlah siapa-siapa. Ya seperti yang saya bilang, cuma remaja biasa aja. Orang-orang sepertinya lupa kapan cuitan yang jadi masalah itu dibuat, siapa yang membuatnya dulu. Semua merasa argumennya paling benar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, seperti kata pepatah selalu ada hikmah di balik penderitaan orang lain. Dari kasus ini, saya punya pesan buat kalian yang ngebet banget pengin terkenal: Hati-hati dengan jejak digital.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jempol netizen itu kejam nya bukan main, kalau kalian sedang mengejar popularitas dan menjadi seleb-medsos, ada baiknya dihapus dulu status Facebook atau cuitan Twitter di masa lalu yang berpotensi mendatangkan kegaduhan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kan nggak lucu kalau kalian sudah jadi seleb-medsos, kemudian cuitan 10 tahun yang lalu muncul ke permukaan dan menghancurkan nama kalian. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Meluangkan waktu satu minggu buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bebersih <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">media sosial bukan hal yang sulit dilakukan. Lagipula apa sih artinya satu minggu jika kalian bisa menjadi seleb-medsos yang aman nantinya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Indonesia itu kreatif dalam hal positif dan negatif. Banyak cara buat menjatuhkan seseorang di media sosial. Jadi sesuai prinsip kesehatan: Lebih baik mencegah daripada mengobati alias lebih baik kenangan masa alay hilang daripada bikin video klarifikasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sudah mari kita lanjutkan menikmati hiburan gratis di media sosial hari ini mumpung masih hangat. Jangan lupa tertawa sebelum netizen melarangnya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merasa-gagal-jadi-musisi-belajarlah-pada-kale-di-film-nkcthi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Merasa Gagal Jadi Musisi? Belajarlah pada Kale di Film NKCTHI!<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gilang-oktaviana-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gilang Oktaviana Putra<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Netizen yang budiman beradu argumen tentang Ardhito Pramono remaja yang cringe dan rasis. Serta Ardhito dewasa yang ganteng dan orang ganteng itu boleh melakukan apa saja.<\/p>\n","protected":false},"author":158,"featured_media":26672,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[5300,5124,421],"class_list":["post-26635","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-ardhito-pramono","tag-kale","tag-twitter"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26635","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/158"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26635"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26635\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26672"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}