{"id":266218,"date":"2024-03-10T14:11:45","date_gmt":"2024-03-10T07:11:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=266218"},"modified":"2024-03-10T22:16:06","modified_gmt":"2024-03-10T15:16:06","slug":"fakultas-kedokteran-obsesi-orang-tua-akan-duit-banyak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fakultas-kedokteran-obsesi-orang-tua-akan-duit-banyak\/","title":{"rendered":"Terpaksa Masuk Fakultas Kedokteran karena Obsesi Orang Tua akan Gengsi dan Hidup Sejahtera Punya Duit Banyak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Punya anak lulus Fakultas Kedokteran dan jadi dokter, harus diakui, jadi salah satu obsesi banyak orang tua di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCita-cita mau jadi apa?\u201d tanya seorang guru Taman Kanak-kanak (TK).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDokter.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah, hebaaat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah dialog terjadi di sekolah TK dekat rumah saya. Pemandangan biasa. Jawaban dan responsnya juga normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, saya tiba-tiba jadi iseng membayangkan sejenak, jika saja anak 5 atau 6 tahun itu tadi menjawab, \u201cIngin jadi YouTuber,\u201d kira-kira jawaban <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-guru-tk-gampang-cuma-keprok-keprok-enak-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">guru TK<\/a>-nya gimana ya? Apakah ketika bilang \u201chebat\u201d, si guru akan seantusias ketimbang si anak jawab &#8220;dokter&#8221;?<\/span><\/p>\n<h2><b>Harus diakui, menjadi dokter adalah salah satu cita-cita yang membanggakan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhasil masuk Fakultas Kedokteran dan menjadi dokter bisa jadi bukan kebanggan si anak. Kebanggaan itu jauh lebih berlipat ganda efeknya bagi orang tua si anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya itu terjadi ketika saya ingat lagi betapa orang tua saya begitu membanggakan kakak saya yang jadi dokter (dokter spesialis radiologi sekarang). Boro-boro jadi dokter, ketika kakak saya masuk Fakultas Kedokteran saja, orang tua saya bangganya setengah mampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir tiap saat orang tua saya menceritakan kesuksesan kakak saya masuk Fakultas Kedokteran. Salah satu (kalau bukan satu-satunya) fakultas paling susah ditembus oleh calon mahasiswa baru. Lebih-lebih kalau itu adalah Fakultas Kedokteran di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-kesehatan-ugm-jalan-paling-syahdu-dan-sendu-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UGM<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanggaan orang tua saya waktu itu, kalau digambarkan, seolah-olah kayak kakak saya baru saja memenangi medali emas Olimpiade. Seolah-olah kalau anak sudah masuk Fakultas Kedokteran, setengah dari permasalahan hidup si anak sudah selesai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal lulus, koas yang bener, lalu ambil spesialis. Si anak yang jadi dokter itu dianggap telah sukses menaikkan level status keluarganya secara instan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Premis lucu soal menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan dokter<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai adik, saya ketiban rasa bangga itu juga. Sampai kemudian saya mendapat sebuah argumentasi yang membalik kebanggaan saya itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah argumentasi dari Ronny Chieng, salah satu stand up comedian dari Australia keturunan Cina, yang menyadarkan saya dalam salah satu show. Kata Ronny Chieng, \u201cMenyelamatkan orang, merupakan list paling bawah dari tujuan orang tua menginginkan anaknya jadi dokter.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tertawa geli mendengarnya. Saya juga tidak membantah premis Ronny Chieng ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya iya sih. Tidak hanya bagi orang tua di Indonesia yang sangat bangga punya anak masuk Fakultas Kedokteran lalu jadi dokter beneran. Ronny Chieng punya pengalaman senada karena fenomena ini juga terjadi di kultur masyarakat Cina dan kebanyakan <a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/2312457\/31-orangtua-di-indonesia-ingin-anaknya-jadi-dokter\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang tua di Asia<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah premis yang langsung membalik semua keadaan. Ini juga menyadarkan saya bahwa orang tua yang ingin anaknya jadi dokter, sebenarnya ya hanya terletak pada alasan sederhana: kemampuan mendapat gaji dan pendapatan yang baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Faktor ekonomi: Ingin sejahtera dan punya banyak duit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dokter dianggap membanggakan bagi orang tua bukan karena kemampuannya menyelamatkan manusia. Kita harus mengakuinya bahwa Ini adalah profesi yang aman secara ekonomi. Dan secara pahit, saya sepakat dengan pernyataan Ronny Chieng itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, kalau hanya sekadar kemampuan \u201cmenyelamatkan\u201d manusia, sebenarnya ada banyak profesi lain yang sama baiknya selain dokter. Misalnya jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-pemadam-kebakaran-sering-terlambat-dan-mengapa-kita-harus-tetap-menghargainya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pemadam kebakaran<\/a>, perawat, TIM SAR, anggota PMI, dan lain sebagainya. Lalu kalau semua profesi itu sama-sama menyelamatkan nyawa manusia? Kenapa hanya profesi dokter yang dibanggakan oleh banyak orang tua? Lah, iya kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, setidaknya saya cukup jarang mendengar ada orang tua yang memamerkan anaknya jadi petugas pemadam kebakaran ke tetangga-tetangganya. Kayaknya, saya nggak bakal nemuin deh, ketika arisan ibu-ibu, ada salah satu ibu yang pamer begini: \u201cEh, Bu Joko, anak saya keterima jadi petugas pemadam kebakaran lho! Hebat ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa seperti itu? Ya itu tadi, karena di antara semua profesi yang saya sebut di atas, yang mendapatkan level status sosial tinggi dan pendapatan menggiurkan hanya dokter. Boro-boro udah jadi dokter, baru sekadar mahasiswa Fakultas Kedokteran, orang tua saja sudah bangga banget kok.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fakultas-kedokteran-obsesi-orang-tua-akan-duit-banyak\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong><em>Baca halaman selanjutnya: ironi yang jadi lucu<\/em><\/strong><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Ironi yang malah jadi lucu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, ketika saya mencoba ingat lagi ketika ekonomi keluarga saya belum begitu baik zaman dulu. Ketika saya sakit, opsi pergi ke dokter (terutama spesialis) adalah opsi paling final. Kalau tidak parah-parah banget ya nggak usah ke dokter, kira-kira begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena orang tua saya dalam pikiran alam bawah sadarnya punya keyakinan bahwa kalau sakit dibawa ke dokter itu biayanya pasti mahal. Itu salah satu stigma yang pada praktiknya kemudian memunculkan beragam \u201cbisnis\u201d penyembuhan alternatif di Indonesia. Mulai dari perdukunan, panti pijat, sampai \u201cbatu Ponari\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, justru ketika stigma bahwa dirawat itu dokter itu mahal, profesi dokter tidak serta-merta jadi buruk. Yang ada malah sebaliknya, banyak orang tua yang lantas sangat menginginkan anaknya masuk Fakultas Kedokteran dan jadi dokter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini terjadi karena dipikir banyak orang tua kita, periksa ke dokter kan mahal, pasti si dokter duitnya banyak dong. Jadi dianggap kalau orang bisa jadi dokter itu ia auto-kaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Modal intelektual yang besar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi masalahnya, menjadi dokter tidak hanya butuh modal finansial saja, tapi juga butuh modal intelektual. Ya iya lah, masuk Fakultas Kedokteran kan nggak cuma butuh modal duit, tapi juga butuh modal otak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan karena modal otak itu tak semua anak bisa (atau mau sebenarnya). Makanya, banyak orang tua di Indonesia tak begitu masalah kalau anaknya tak mampu jadi dokter. Mereka masih rela harapannya harus diturunkan levelnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau anaknya memang otaknya nggak mampu-mampu amat jadi dokter, yah, setidaknya anaknya masih bisa jadi\u2026 <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pns-pekerjaan-paling-overrated-aslinya-tidak-seistimewa-itu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PNS<\/a> lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah profesi yang sama-sama membanggakan, bukan karena dianggap abdi negara, tapi karena berpotensi punya pendapatan finansial yang, meski tidak fantastis, tapi sama-sama stabil seperti halnya berhasil masuk Fakultas Kedokteran dan sukses menjadi dokter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Khadafi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fakultas-kedokteran-fakultas-paling-terhormat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fakultas Kedokteran, Fakultas Paling Terhormat Melebihi Fakultas Lainnya di Indonesia<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak masuk Fakultas Kedokteran dan menjadi dokter karena obsesi orang tua belaka. Obsesi akan gengsi dan hidup sejahtera banyak duit.<\/p>\n","protected":false},"author":334,"featured_media":266219,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[760,3781,10069,23596,5963,23597,19052,195],"class_list":["post-266218","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-dokter","tag-dokter-spesialis","tag-fakultas-kedokteran","tag-fakultas-kedokteran-ugm","tag-kedokteran","tag-kedokteran-ugm","tag-koas","tag-ugm"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266218","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/334"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=266218"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266218\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/266219"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=266218"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=266218"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=266218"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}