{"id":266168,"date":"2024-03-10T11:15:42","date_gmt":"2024-03-10T04:15:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=266168"},"modified":"2024-03-10T11:15:42","modified_gmt":"2024-03-10T04:15:42","slug":"jogja-surabaya-malang-bodoh-kalau-rebutan-status-kota-pelajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-surabaya-malang-bodoh-kalau-rebutan-status-kota-pelajar\/","title":{"rendered":"Debat Kusir Surabaya vs Jember vs Malang Memperebutkan Status Kota Pelajar Jogja Adalah Kebodohan Belaka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja, Surabaya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pendidikan-jember-tidak-lebih-baik-dari-bangkalan-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jember<\/a>, dan Malang. Jujur, saya masih belum begitu paham mengapa banyak orang seniat itu mengampanyekan sebuah daerah sebagai kota pelajar. Maksud saya, apa enaknya kalau daerah Anda disebut, bahkan dikampanyekan sebagai kota pelajar?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangga? Ada-ada saja. Lucunya, hal ini menjadi bahan \u201cdebat kusir\u201d di Terminal Mojok maupun Mojok itu sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ribut rebutan kota pelajar antara Jogja, Surabaya, Jember, dan Malang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua berawal dari sebuah wacana tentang Jogja yang \u201ckatanya\u201d, sekali lagi katanya, adalah kota pelajar. Jogja mendapat predikat itu, salah satunya, karena mempunyai banyak pusat pendidikan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, penolakan datang. Misalnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-adalah-kota-pelajar-yang-sebenarnya-bukan-jogja\/\">Dito Yudhistira Iksandy<\/a>, menyebut bukan Jogja, melainkan Surabaya yang pantas. Pasalnya, UKT Jogja lebih sadis dibandingkan Surabaya. Selain itu, makanan masih murah, ramah pendatang, dan kondusif karena nggak ada klitih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapat Dito dibantah oleh Muchamad Aly Reza. Melalui liputannya, Aly menyebut kota pahlawan nggak pantas menyandang sebagai kota pelajar. Pasalnya, kegiatan literasi dan akademis adalah hal asing bagi masyarakatnya. Diskusi dan baca buku disebut tabu. Toko buku sepi tapi minat buku bajakan tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayang, Aly Reza tak menyebut daerah mana yang pantas mendapat status itu. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jember-kota-pelajar-sebenarnya-mengalahkan-jogja-dan-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Justru Adhitiya Prasta<\/a> Pratama yang mengisi kekosongan itu dan menyebut Jember lebih layak. Alasannya sederhana, karena biaya hidup lebih merakyat, dan keamanan dari gangster atau klitih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Herannya lagi, masih ada tulisan lanjutan yang mengatakan bukan Jogja, Surabaya, atau Jember yang layak. Menurut <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malang-adalah-sebenar-benarnya-kota-pelajar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Naimatul Chariro<\/a>, Malang yang sangat-sangat lebih pantas. Bahkan lebih kompleks bak es campur, Malang disebut sebagai kota pelajar karena sudah bernuansa pendidikan sejak era kolonial, penuh mahasiswa, aktivisme yang membara, toko buku dan penerbit merajalela, toleransi pada perbedaan, dan yang penting adalah ramah kantong mahasiswa nggak kayak Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asli. Perdebatan di atas itu nggak ada gunanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>City branding dan kapitalisasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, label \u201ckota pelajar\u201d kayak Jogja bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Ngapain juga Surabaya, Malang, dan Jember memperebutkannya. Bahkan malah mencelakakan. Label kota pelajar, sebagaimana label-label yang lain sebenarnya cuma city branding. Tujuannya untuk hegemoni masyarakat luar untuk mau datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Surabaya misalnya, disebut \u201ckota pahlawan\u201d untuk mendatangkan wisatawan yang pengin belajar sejarah heroik yang membara pada 10 November. <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/properti\/read\/2024\/01\/18\/180000821\/gresik-jadi-kawasan-industri-terluas-di-jatim\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gresik, kota industri<\/a>, untuk mengundang para investor supaya mau mendirikan industrinya di sana. Misalnya seperti yang terbaru, PT Freeport Indonesia. Batu, kota wisata, untuk meningkatkan jumlah pelancong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Loh justru bagus dong ketika banyak orang luar berdatangan lalu bikin ramai kayak Jogja. Suatu kota menjadi terkenal di mata orang luar. Hebat dong kalau daerahnya memiliki citra yang baik di mata publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan salah, city branding itu outuput-nya bukan sekadar citra. Justru citra adalah penjembatan untuk peningkatan pendapatan daerah, termasuk pajak daerah yang dikontrol penuh oleh pemangku kebijakan setempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika suatu daerah sukses disebut sebagai kota pelajar dan sukses mendatangkan orang luar untuk berkuliah dan hidup di sana, perekonomian suatu daerah akan naik. Termasuk UKT dan harga makanan di sekitar kampus juga melonjak naik. Surabaya, Malang, dan Jember mau kayak gitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak artikel sebelumnya yang mengatakan bahwa daerahnya pantas disebut kota pelajar karena harga makanannya murah. Bullshit itu. Surabaya misalnya, coba cek harga makanan di sekitaran kampus dan bandingkan dengan harga makanan di desa. Apakah sama? Tentu tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kampus, warung makan, kos-kosan, toko ATK, dan fotokopi adalah sumber kekayaan suatu daerah yang dioperasionalisasi ke pusat dan jatuh kembali ke daerah. Seperti pariwisata, elemen-elemen yang menyokong label kota pelajar ini secara tidak langsung mekanisme kapitalisasi yang diselenggarakan oleh negara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan disokong oleh media untuk menguatkan sebuah city branding. Barangkali nampak ndakik-dakik. Namun begitulah grand design sisi gelap dari penyebutan kota pelajar dari Surabaya, Malang, dan Jember.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tanggung jawab moral yang terabaikan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain city branding, kita juga perlu melihat sisi tanggung jawab moral. Salah satu wacana yang digadang-gadang oleh Tridharma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Pertanyaannya adalah apakah daerah-daerah yang disebut kota pelajar kayak Jogja, yang banyak kampusnya itu, telah melakukan tanggung jawab moral kepada masyarakat sekitarnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kadang heran kenapa mahasiswa, kalau KKN, pasti di luar daerah di mana kampus berada. Mengapa \u201cmensejahterakan\u201d daerah lain jika daerahnya sendiri belum sejahtera?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal, di Jogja, saya belum pernah mendengar ada mahasiswa mengadvokasi betulan perihal rendahnya upah di sana. Selain Jogja, banyak kampus yang nggak memikirkan kondisi di sekitarnya. Misalnya, PKL di Srikana sebelah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/unesa-kampus-terbaik-di-surabaya-tapi-setelah-unair\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UNAIR<\/a> itu justru digusur. PKL depan UNESA yang di Lidah maupun Ketintang, Surabaya, juga bernasib sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, buat apa disebut kota pelajar jika mahasiswa mengabaikan kesejahteraan masyarakat kecil di daerah itu? Percuma membangun kampus megah, diskusi mahasiswa rutin berjalan, punya banyak toko buku kalau tidak berkontribusi untuk masyarakat kecil yang berada di sekitar lingkungan akademik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja, Surabaya, Malang, dan Jembar, apakah kalian masih pantas memperebutkan label kota pelajar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mohammad Maulana Iqbal<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kota-pelajar-yang-tak-belajar-dari-kesalahan-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja, Kota Pelajar yang Tak Belajar dari Kesalahan Jakarta<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja, Surabaya, Malang, kalian masih pantas memperebutkan label kota pelajar? Sebuah kebodohan kalau masih memperebutkan status tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":266187,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2501,8794,115,16237,985,405],"class_list":["post-266168","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jawa-timur","tag-jember","tag-jogja","tag-kota-pelajar","tag-malang","tag-surabaya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266168","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=266168"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/266168\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/266187"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=266168"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=266168"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=266168"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}