{"id":265797,"date":"2024-03-07T11:45:56","date_gmt":"2024-03-07T04:45:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265797"},"modified":"2024-03-09T06:52:44","modified_gmt":"2024-03-08T23:52:44","slug":"bandara-yia-kulon-progo-tak-berdampak-banyak-pada-pariwisata-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandara-yia-kulon-progo-tak-berdampak-banyak-pada-pariwisata-jogja\/","title":{"rendered":"Bandara YIA Kulon Progo Nyatanya Tak Berdampak Banyak pada Pariwisata Jogja, Tempatnya Aja Jauh Banget, Aksesnya Susah!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak awal kemunculan Bandara YIA Kulon Progo, ada dua pertanyaan yang selalu ikut teriring saat menyebutkan nama bandara tersebut. yang pertama, benarkah bandara tersebut bisa mengangkat ekonomi di Kulon Progo? Yang kedua, benarkah pariwisata Jogja terbantu dengan adanya bandara baru?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan pertama, well, nyatanya iya. Dilansir dari <\/span><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/1773405\/bandara-yia-dongkrak-pertumbuhan-ekonomi-kulon-progo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Antara<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, ekonomi Kulon Progo memang naik semenjak bandara YIA berdiri. Untuk pertanyaan kedua, nah ini baru isu penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, kalau mau dijawab dengan singkat, jawabnya ya, tidak. Bandara YIA Kulon Progo tak bisa dibilang membantu pariwisata, entah langsung dan tidak langsung. Kenapa bisa dianggap tak punya andil dalam pariwisata?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu faktornya adalah jarak. Tentu saja, apa lagi kalau bukan itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandara YIA itu beneran jauh dari Kota Jogja. Kalau mau meraih Kota Jogja ke Bandara atau sebaliknya dengan GoCar, tarifnya nyampe 300 ribu. Transportasi umum pun tidak tersedia banyak, pun tidak mudah. Bagi wisatawan luar pulau, jelas ini bikin mereka nggak nyaman. Tiket pesawat sudah mahal, tambah tarif GoCar yang meledak ya tolong banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, sudah ada kereta bandara. Dan ini sangat membantu. Tapi kalau kebetulan keretanya nggak ada, nah ini baru pusing kepala. Dan ya harusnya ada transportasi yang terjangkau selain kereta dan damri lah. Setidaknya, jumlahnya diperbanyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya ya, aneh. Membuat bandara di tempat yang amat jauh, tapi transportasi masih minim opsi. Kayak, perencanaanya tuh gimana sebenernya?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandara-yia-kulon-progo-tak-berdampak-banyak-pada-pariwisata-jogja\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Tidak berdampak apa-apa pada wisata Kulon Progo&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Bandara YIA tak berdampak apa-apa pada wisata Kulon Progo<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika keberadaan Bandara YIA tidak membantu pariwisata Kota Jogja yang jelas-jelas vital, apalagi wisata Kulon Progo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat melakukan penelitian di Jogja yang lalu, mayoritas wisatawan mengungkapkan pernah punya pengalaman yang berkesan di Kota Jogja yaitu Malioboro. Sangat sedikit yang mengungkapkan destinawi wisata di Kulon Progo. Masih kalah dengan Gunungkidul yang padahal jaraknya sama-sama jauhnya dari Kota Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali saya dapat orang yang punya pengalaman berwisata ke Kulon Progo, yang saya dapatkan malah kekecewaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya lebih suka menggunakan kereta dan bus sih Mbak, daripada pesawat. Namun kala itu saya ingin ke Tumpeng Menoreh. Jadi saya sewaktu itu naik pesawat ke Bandara YIA agar tidak terlalu jauh dari Jogja. Namun ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, harganya mahal sekali. Niat hati ingin dekat, malah justru mahal.\u201d ucap wisatawan yang berhenti di Bandara YIA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini sebetulnya dapat menjadi kritikan dan saran bagi sektor pariwisata di Jogja. Sebenarnya ya terserah sih bikin bandara di Kulon Progo (meski banyak ditentang). Tapi ya kalau tanpa planning yang jelas, serta nggak memberi dampak positif, bukankah nggak ada bedanya dengan buang-buang uang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya ketimbang buat bandara, mending bantu pariwisata Kulon Progo aja nggak sih? Maksudnya tuh, biar nggak terpusat di Kota Jogja doang. Potensi DIY yang sehebat ini mbok digali secara serius.<\/span><\/p>\n<h2><strong>&#8220;Malioboro sesek&#8221;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat melakukan penelitian di Jogja yang lalu, ada wisatawan yang sampai memberikan solusi pada saya, dan wisatawan tersebut sampai tidak tahu memberikan usul kepada siapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLebih baik to ya Mbak, agen tour Bus itu nggak cuman melayani di Kota saja, namun juga menyediakan shuttle yang dapat digunakan untuk mengakses ke wisata Kulon Progo lainnya. Siapa tahu lho ya siapa tahu, bisa mengurangi ramainya di Jogja. Sampun kebak Mbak niku Malioboro ne, sesek.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, Bandara YIA Kulon Progo tak dibuat khusus melayani Malioboro saja. Tentu saja tidak. Tapi ya, jika YIA adalah cara orang meraih Jogja untuk berwisata, rasa-rasanya perlu dievaluasi lagi segala yang ada dan pertanyaan ini sebaiknya terus didengungkan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah efek Bandara YIA Kulon Progo untuk Yogyakarta yang sebenarnya?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Helena Yovita Junijanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tembalang-hanya-untuk-pengendara-yang-kuat-mental\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jangan Berkendara di Tembalang kalau Nggak Kuat Mental<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kagak ada efeknya.<\/p>\n","protected":false},"author":2590,"featured_media":265858,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[11115,13152,15961],"class_list":["post-265797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandara-yia","tag-kulon-progo","tag-pariwisata-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2590"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265797"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265797\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265858"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}