{"id":265682,"date":"2024-03-08T13:28:17","date_gmt":"2024-03-08T06:28:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265682"},"modified":"2024-03-08T13:28:17","modified_gmt":"2024-03-08T06:28:17","slug":"menyatukan-surabaya-dan-madura-menjadi-satu-provinsi-itu-mustahil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyatukan-surabaya-dan-madura-menjadi-satu-provinsi-itu-mustahil\/","title":{"rendered":"Percayalah, Berjalan di Atas Air Lebih Mudah daripada Menyatukan Surabaya dan Madura Menjadi Satu Provinsi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSurabaya rencananya bakal ikut Provinsi Madura, lho. Kalian setuju nggak?\u201d tanya saya pada kawan-kawan yang asli Surabaya. Pertanyaan ini saya ajukan setelah mengetahui rencana pembentukan Provinsi Madura yang mengikutsertakan Kota Surabaya sebagai kota kelima sekaligus menjadi Ibu Kota Provinsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari berbagai jawaban yang kawan saya berikan, kesimpulannya cuma satu, mereka menolak. Bahkan, kawan-kawan saya menganggap itu rencana konyol yang justru berpotensi membuat Kota Pahlawan jadi nggak nyaman. Menariknya, satu kawan saya melemparkan pertanyaan tak terduga,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDari banyaknya suku di Surabaya, lapo awakdewe cuma gak seneng karo wong Meduro?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, iya juga ya&#8230;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, beberapa wilayah di Surabaya itu ditempati berbagai etnis. Misalnya, Surabaya barat yang banyak etnis Tionghoa, Surabaya utara banyak etnis Arab dan Madura, dan masih banyak lagi. Lalu, kenapa hanya etnis Madura yang mengalami diskriminasi paling parah?<\/span><\/p>\n<h2><b>Madura dianggap sebagai sumber kejahatan yang terjadi di Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak ngerti asalnya dari mana, tapi banyak orang Surabaya yang menganggap kalau kejahatan yang terjadi di kota ini sebagian besar pelakunya pasti orang Madura. Mulai dari kasus curanmor, kerusuhan, atau tindak kriminal lain pasti yang dituduh pertama kali orang Madura. Bahkan, ada satu paham yang disepakati bersama kalau ada kendaraan yang dicuri dan sudah melewati Jembatan Suramadu, maka kecil harapan bisa dicari dan kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celakanya, beberapa kasus kejahatan pelakunya memang beneran orang Madura. Tentu saja ini ulah oknum yang nggak bertanggung jawab. Tapi, gara-gara ini terjadi hubungan rumit antara warga Surabaya dengan Madura. Kalian bisa buktikan sendiri seberapa rumitnya hal ini dengan melihat kolom komentar di postingan berikut.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"instagram-media\" style=\"background: #FFF; border: 0; border-radius: 3px; box-shadow: 0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width: 540px; min-width: 326px; padding: 0; width: calc(100% - 2px);\" data-instgrm-captioned=\"\" data-instgrm-permalink=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/C3xNRSGPPqb\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" data-instgrm-version=\"14\">\n<div style=\"padding: 16px;\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: row; align-items: center;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 19% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display: block; height: 50px; margin: 0 auto 12px; width: 50px;\"><\/div>\n<div style=\"padding-top: 8px;\">\n<div style=\"color: #3897f0; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: 550; line-height: 18px;\">Lihat postingan ini di Instagram<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 12.5% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;\">\n<div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: 8px;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;\"><\/div>\n<div style=\"width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg);\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: auto;\">\n<div style=\"width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);\"><\/div>\n<div style=\"width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;\"><\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; line-height: 17px; margin-bottom: 0; margin-top: 8px; overflow: hidden; padding: 8px 0 7px; text-align: center; text-overflow: ellipsis; white-space: nowrap;\"><a style=\"color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: normal; line-height: 17px; text-decoration: none;\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/C3xNRSGPPqb\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebuah kiriman dibagikan oleh Surabaya Kabar Metro (@surabayakabarmetro)<\/a><\/p>\n<\/div>\n<\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/www.instagram.com\/embed.js\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada kasus kejahatan yang kebetulan pelakunya orang Madura, saya yakin kalian akan menemukan komentar yang isinya kalimat serupa \u201cAncen wong mexico\u201d, \u201cMending jembatane dipedot ae\u201d, atau \u201cDidelok teko struktur wajahe wes jelas iki pelakune teko negeri seberang\u201d. Ngeri, kan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Pandangan yang saling bertolak belakang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut teman saya yang asli Madura, dia menganggap bahwa orang Surabaya itu merasa lebih superior. Orang Madura sering dilihat lebih rendah dari mereka. Label seperti kampungan, jorok, dan tukang rusuh sering disematkan pada orang-orang Madura. Bahkan, hal seremeh perbedaan logat aja kadang masih ditertawakan oleh orang-orang Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHanya karena Surabaya jauh lebih maju dari Madura, kami sering disamakan kayak Boger dan dianggap kampungan. Kan nggak gitu juga, kami ini cuma nggak mau kehilangan identitas dan berusaha menjaga kearifan lokal. Kok malah ditertawakan,\u201d ujar teman saya yang asli Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lain sisi, teman saya yang asli Surabaya mengakui secara tidak langsung mengenai pandangan orang Madura yang lebih tertinggal. Selain itu, banyaknya kasus kejahatan atau kerusuhan yang disebabkan oleh orang Madura menimbulkan trust issue. Sehingga, dia merasa kalau dua daerah ini nggak cocok hidup berdampingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEmang nggak cocok dari sananya, Mas. Secara bahasa dan budaya aja wes beda. Belum lagi cara mereka lihat kita terlalu maju, sedangkan kita lihat mereka sebaliknya. Sekarang lho, daerah Kenjeran yang dominan dihuni orang Madura feelnya udah beda sama daerah Surabaya yang lain. Padahal, sama-sama Surabaya,\u201d kata teman saya yang asli Surabaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Persatuan yang mustahil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, saya harus sepakat dengan Mas Abdur Rohman soal<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-jadi-ibu-kota-provinsi-madura-adalah-ide-paling-sesat\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">menyatukan Surabaya dengan Madura menjadi satu provinsi adalah ide paling buruk<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Oke, saya nggak bisa menutup mata soal diskriminasi orang Surabaya pada orang Madura. Jelas itu salah. Tapi, saya juga nggak bisa mengesampingkan soal perbedaan dua daerah yang jelas susah disatukan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keduanya beda banget dan saling bertolak belakang. Saya kira hal ini juga yang menyebabkan sering terjadinya selisih paham. Sekarang bayangkan kalau wacana menjadikan Surabaya sebagai Ibu Kota Provinsi Madura beneran terjadi, apa nggak nyari ribut namanya? Bukannya bikin Pulau Garam jadi lebih maju, justru malah memicu terjadinya perpecahan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dito Yudhistira Iksandy<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-adalah-kota-pelajar-yang-sebenarnya-bukan-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jujur Saja, Surabaya Jauh Lebih Pantas Menyandang Gelar Kota Pelajar, Bukan Jogja, yang Jelas-jelas Tak Ramah untuk Pelajar<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ini namanya cari perkara.<\/p>\n","protected":false},"author":2368,"featured_media":265985,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[18889,2104,5020,22468,405],"class_list":["post-265682","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ibu-kota-provinsi","tag-konflik","tag-madura","tag-provinsi-madura","tag-surabaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2368"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265682"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265682\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}