{"id":265603,"date":"2024-03-05T13:17:30","date_gmt":"2024-03-05T06:17:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265603"},"modified":"2024-03-06T11:33:37","modified_gmt":"2024-03-06T04:33:37","slug":"bantul-sebuah-kabupaten-yang-terasing-dari-kemajuan-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-sebuah-kabupaten-yang-terasing-dari-kemajuan-jogja\/","title":{"rendered":"Bantul, Sebuah Kabupaten yang Terasing dari Kemajuan Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa bulan yang lalu, saya melakukan penelitian di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-overtourism-jogja-makin-banyak-makin-muak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Daerah Istimewa Yogyakarta<\/a>. Salah satu daerah yang menarik minat saya adalah Kabupaten Bantul. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah daerah yang seperti terasing dari kemajuan Jogja dan sekitarnya dan\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bisa belajar dari perkembangan Kabupaten Kebumen.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perkembangan Kabupaten Kebumen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 22 April 2022, Trio Mall resmi beroperasi. Dan, hanya dalam waktu singkat, mall di Kebumen itu sudah punya rumah hantu, guardian, dan bioskop. Meski terhitung kabupaten kecil, di sana sudah ada gerai Pizza Hut. Lumayan, lah ya, perkembangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dulu, Kebumen itu merupakan wilayah yang \u201csangat terasingkan\u201d. Banyak yang lebih mengenal Gombong. Padahal, Gombong itu sebuah kecamatan yang ada di dalam Kabupaten Kebumen. Oleh sebab itu, banyak yang memandang Kebumen itu daerah primitif dan tidak maju. Namun, kini, cap itu sudah hilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oya, Kebumen itu hanya menjadi daerah lewatan saja antara Jogja dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kejadian-aneh-di-kabupaten-cilacap\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cilacap<\/a> atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-purwokerto-kota-tua-yang-kehilangan-sisi-eksotisnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purwokerto<\/a>. Namun, berkat inovasi dan keberanian untuk berkembang, Kebumen menjadi lebih maju. Bahkan sudah pernah mengadakan Kebumen International Expo. Inovasi dan keberanian ini, yang saya yakin, bisa menjadi inspirasi untuk Bantul.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa yang terjadi dengan Bantul?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, soal Bantul, ada beberapa hal yang membuat saya kepikiran. Pertama, Kabupaten Bantul di berbatasan langsung dengan Jogja. Namun, saya merasa kabupaten ini seperti terasing dari perkembangan yang terjadi di Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah karena jumlah kunjungan wisatawan? Kayaknya nggak juga. Apakah karena Bantul nggak punya kawasan khusus kayak <a href=\"https:\/\/travel.detik.com\/domestic-destination\/d-6972112\/prawirotaman-kampung-bule-legendaris-di-jogja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Prawirotaman<\/a>? Prawirotaman adalah sebuah kawasan di Jogja yang menjadi titik kunjungan wisatawan asing. Sekarang, daerah sana menjadi lebih padat dan berkembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada apakah dengan branding destinasi? Branding destinasi untuk menjadi pembeda dari wilayah yang lain? Atau branding ini hanya menjadi bingkai bahwa masyarakat tidak mau keluar dari zona nyaman seperti masyarakat Kebumen?<\/span><\/p>\n<h2><b>Salah tatanan, benarkah?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama melakukan penelitian, saya menemukan hal yang menarik. Bahwa identitas sebuah tempat, dalam hal ini Bantul, belum memberi dampak emosional sebesar ketika wisatawan berkunjung ke Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ikatan emosional antara wisatawan dengan tempat, tidak ada juga perasaan positif seperti kesenangan dan kegembiraan. Padahal ini penting supaya wisatawan mau berkunjung kembali dan merekomendasikan pada orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain hal-hal di atas, ada juga responden saya yang bilang kalau Bantul itu salah tatanan. Makanya, kabupaten itu \u201cbegitu-begitu saja\u201d. Nggak cuma di bidang pariwisata, tapi terjadi di banyak aspek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga wisatawan yang nyeletuk gini: Apakah Bantul butuh mall seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minomartani-sleman-tempat-tinggal-yang-penuh-privilese\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sleman<\/a>? Pertanyaan ini mengingatkan saya akan Kebumen yang, salah satu tanda kemajuan di sana, adalah berdirinya Trio Mall.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisatawan yang sama bilang gini: \u201cMungkin wisatawan sekarang ini banyak yang nggak terlalu mikirin budaya. Mereka lebih senang sama wisata yang ekstrem.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi statement menarik: \u201cGunung Kidul dan Kulon Progo itu memiliki identitasnya sendiri, Mbak. Ya karena wisatanya berkembang dan tidak dibatasi oleh framing \u201charus\u201d menjadi kota ini itu. Masyarakatnya juga terlihat mendukung. Mereka mau belajar banyak hal baru.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Membutuhkan branding ulang?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memajukan UMKM itu upaya yang bagus. Saya melihatnya langsung di Bantul, kok. Namun, ada baiknya juga ketika UMKM itu ikut perkembangan zaman. Misalnya Gen Z lebih suka belanja di tempat yang bisa pakai pembayaran online.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, banyak tempat dan pengrajin di daerah Bantul yang seperti \u201ctidak dibantu\u201d untuk bisa memaksimalkan teknologi tersebut. Semua ingin ingin UMKM sejahtera. Namun, kalau nggak ikut perkembangan zaman, cita-cita sejahtera bisa sulit terwujud.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, menurut saya, branding wisata di DIY juga perlu dipikirkan ulang. Misalnya, masing-masing kabupaten di DIY punya identitas sendiri. Di satu sisi ini bagus karena memberi keragaman. Namun, di sisi lain, hal ini tidak selalu sukses membuat wisatawan merasakan ikatan emosi karena tidak berkesan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, apakah Bantul perlu rebranding? Atau, Jogja sekalian? Saya, sih, hanya bisa memberi masukan. Mengingat Kebumen sukses melakukannya. Kalau usaha branding destinasi sudah terasa usang, nggak ada salahnya untuk keluar dari zona itu lalu. Usaha branding yang lebih segar mungkin sedang sangat dibutuhkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Helena Yovita Junijanto<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-jogja-daerah-penuh-dengan-kejadian-aneh-dan-orang-aneh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul, Daerah yang Isinya Kejadian Aneh, Hal Aneh, dan Orang Aneh. Semuanya Aneh!<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bantul punya potensi. Namun segala potensinya belum terasa. Bahkan, kabupaten tersebut seperti terasing dari kemajuan di Jogja dan sekitarnya. <\/p>\n","protected":false},"author":2590,"featured_media":265630,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5766,1413,20811,115,10477,19283,7235,23538],"class_list":["post-265603","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bantul","tag-diy","tag-gombong","tag-jogja","tag-kebumen","tag-prawirotaman","tag-sleman","tag-wisata-bantul"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265603","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2590"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265603"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265603\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265603"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265603"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265603"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}