{"id":265482,"date":"2024-03-04T13:27:43","date_gmt":"2024-03-04T06:27:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265482"},"modified":"2024-03-05T07:02:29","modified_gmt":"2024-03-05T00:02:29","slug":"jarjit-upin-ipin-nggak-jago-pantun-banyak-pantunnya-yang-gagal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jarjit-upin-ipin-nggak-jago-pantun-banyak-pantunnya-yang-gagal\/","title":{"rendered":"8 Pantun Jelek dan Gagal Ciptaan Jarjit dalam Serial Upin Ipin, Lebih Baik Jangan Ditiru"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jarjit dalam serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> begitu mudah dikenali. Karakter yang pertama kali muncul pada musim ke-2 episode <em>Tadika<\/em> itu punya ciri khas gemar berpantun. Hampir setiap komentar yang dilontarkannya didahului dengan pantun terlebih dahulu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bocah berusia 5 tahun dengan nama lengkap Jarjit Singh itu sering mengawali pantun dua baris buatannya dengan kata-kata \u201cDua \u2026 Tiga\u201d. Kalau pantunnya sukses besar, dia akan mengatakan \u201cMarvelous! Marvelous!\u201d dengan bangganya. Pantun-pantun Jarjit memang sering mencairkan suasana di kelas<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-ekstrakurikuler-upin-ipin-dan-anak-anak-tadika-mesra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Tadika Mesra.\u00a0<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, karakter jago pantun yang melekat pada Jarjit, bukan berarti pantun-pantun bikinannya selalu sukses. Banyak juga kok pantun yang gagal atau jelek yang dilantunkan oleh Jarjit. Gagal atau jelek dalam artian ini bisa jadi pantun bikinnya tidak sesuai dengan kaidah pantun yang baik dan benar. Bahkan, dia sering lupa melanjutkan hingga pantunnya tidak tuntas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak percaya? Oke, berikut saya telah membuatkan 8 daftar pantun Jarjit Singh yang jelek dan gagal dalam serial<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Upin dan Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Pantun Jarjit dalam episode<\/b><b><i> Basikal Baru <\/i>sangat ngawur<\/b><\/h2>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tiga lonceng bunyi<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mau beli dua lonceng&#8230; kring kring, kring kring<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang mengaku fans berat Upin &amp; Ipin, kalian masih ingat pantun ini nggak? Kalau masih, saya pastikan berarti kalian bukan fans abal-abal. Sebab, pantun yang dipaparkan oleh Jarjit tersebut muncul pada episode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Basikal Baru<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada 2009.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, lewat pantun tersebut, saat pertama kali mendengarnya, jujur saya langsung merasa aneh. Ya gimana lagi, pantun dua baris tersebut nggak memenuhi aturan bunyi rima pada umumnya, yakni a-a atau b-b. Jadinya ya lumayan aneh. Sampirannya lonceng bunyi, kok isinya malah beli dua lonceng? Ada kring kringnya lagi. Apaan sih Jarjit, ada-ada saja. <\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Pantun dalam episode <\/b><b><i>Kisah Dua Malam <\/i>gagal mencairkan suasana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantun ini bermula dari obrolan murid-murid di Tadika Mesra. Awalnya, Upin bercerita tentang tuyul yang di beberapa malam terakhir meneror rumahnya. Namun, setelah lama diselidiki, ternyata tuyul tersebut adalah kembarannya sendiri, Ipin. Sontak hal itu membuat kekecewaan teman-teman kelas.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Menanggapi cerita Upin yang mengecewakan, Jarjit melantunkan pantun tiga baris berikut.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tiga tuyul bermain<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Semua kepala botak licin<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Hening, Jarjit berpikir keras)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rupa-rupanya dia Ipin!<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melantunkan pantun nanggung tersebut, teman-temannya nggak ada yang ketawa. Pantun Jarjit gagal memecah suasana. Alhasil, suasana jadi krik-krik meski Jarjit tetap percaya diri melontarkan slogan andalannya, Marvelous! Marvelous!<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Jarjit menyembunyikan kesalahannya di balik pantun<\/b><\/h2>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tiga ular sawah<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Besok la saya bawa<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantun Jarjit yang gagal dalam episode <em>Kisah Raja Pemburu<\/em> muncul ketika bocah tersebut tegang di hadapan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/abang-saleh-upin-ipin-pemuda-berprestasi-yang-harus-mendapatkan-apresiasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Abang Saleh<\/a>. Dia tegang sebab menghilangkan buku yang dipinjam dari Abang Saleh. Saking takutnya dia mengaku hanya lupa membawanya dengan sebuah pantun. Masalahnya, kok pantunnya beda rima? Apa mungkin gara-gara takut dengan rotan Abang Saleh ya?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Pantun nggak niat dalam episode <\/b><b><i>Bila Besar Nanti<\/i><\/b><b>\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sepandai-pandai tupai melompat<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Hening)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Police lebih pandai lompat<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantun ini dilantunkan Jarjit ketika presentasi di depan kelas menjadi reporter. Setelah melaporkan berita, dia menutupnya dengan sebuah pantun. Namun, entah mengapa pada saat itu dia loading berpikir lumayan lama. Akhirnya, pantun yang dilontarkan untuk menutup presentasi hari itu terkesan memaksakan. \u201cPolice lebih pandai lompat\u201d itu apa maksudnya apa coba?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jarjit-upin-ipin-nggak-jago-pantun-banyak-pantunnya-yang-gagal\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: #5 Pantun Jarjit untuk &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#5 Pantun Jarjit untuk berjualan ayam\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tiga singgit<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tiga singgit<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, pantun ini jelek dan gagal banget. Coba kalian lihat, nggak jelas mana sampiran mana isi pantunnya. Anehnya, menurut saya pantun dalam episode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikhlas dari Hati<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini justru yang paling lucu. Bayangkan, pantun ini muncul ketika Jarjit membantu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mail-upin-ipin-bakal-jadi-pebisnis-sukses-kalau-tumbuh-di-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mail berjualan ayam<\/a>. Dia malah berjualan ayam dengan pantun. Alhasil, Mail menegurnya, \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kau ni nak jual ayam kah nak jual pantun?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">#<\/span><b>6 Di episode <\/b><b><i>Pisang Goreng Ngap Ngap, <\/i>Tok Dalang membantu Jarjit menyelesaikan pantunnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantun dalam episode ini benar-benar nggak jelas. Di awal Jarjit dengan percaya diri melontarkan sebuah pantun nasihat kepada Tok Dalang. Tapi, setelah sampiran pantun dilontarkan, dia malah lupa melanjutkannya, Gaes!<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pisang goreng dibawa berlayar<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Masak sebiji di atas peti<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai di situ Jarjit ngeblank, lupa selupa-lupanya. Namun, untungnya dihadapannya adalah si raja pantun. Akhirnya Tok Dalang yang melanjutkan isi pantun Jarjit.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Utang emas boleh dibayar<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Utang budi dibawa mati!<\/span><\/i><\/p>\n<h2><b>#7 Jarjit kelewat percaya diri dalam episode <\/b><b><i>Pesta Patun<\/i><\/b><b>\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantun Jarjit berikut ini sebenarnya nggak ada masalah dalam rima atau suku katanya. Namu, pantun yang dimaksudkan untuk teka-teki, saya bilang apa yang dibuat bocah 5 tahun itu gagal total. Bagaimana nggak gagal total? Pantun teka-teki itu dengan mudahnya dibalas oleh Tok Dalang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ipin jalan terjingkit-jingkit<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cantik bergaya pakai seluar<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Warna putih duduk berdirit<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pagar di dalam dinding di luar<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, setelah melantunkannya, sepertinya Jarjit terlalu pede kalau pantunnya bakal susah dijawab. Namun, sepertinya dia lupa, sosok yang dihadapinya adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andai-tok-dalang-upin-dan-ipin-tinggal-di-kampung-saya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tok Dalang<\/a> yang jago berpantun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makan mangga di atas tangga<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makan dengan santan dan pulut<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soalan tu Atok tau sangat jawabannya<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah gigi dalam mulut<\/span><\/i><\/p>\n<h2><b>#8 Pantun dalam episode <\/b><b><i>Pin Pin Pom Delima Sakti\u00a0<\/i>yang nggak mashok!<\/b><\/h2>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tiga anak ayam<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pin Pin Pom<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam episode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pin Pin Pom Delima Sakti<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sepertinya ini adalah pantun gagal Jarjit yang paling nggak niat. Mari kita bedah! Dilihat dari segi rima sebenarnya sudah benar, yakni a-a atau b-b. Namun, dari segi fonetik sangat beda jauh, jadinya ya agak geli di telinga. Ditambah, isi pantun tersebut nggak memenuhi 8-12 suku kata. Jadi ya kurang enak pantunnya. Intinya, pantun bikinanmu nggak mashok Jarjit!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 8 pantun Jarjit Upin Ipin yang jelek dan gagal. Namun, seburuk-buruknya pantun bikinan bocah 5 tahun itu, upaya dan kepercayaan diri Jarjit patut diapresiasi. Saya yakin di masa depan dia akan menjadi <a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/pemantun\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pemantun<\/a> ternama kalau terus belajar dan berusaha.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Nadlif <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cikgu-melati-upin-ipin-perlu-introspeksi-soal-tugas-anak-anak-tadika-mesra\/\"><b>Cikgu Melati dalam Serial Upin Ipin Perlu Introspeksi Diri. Kasih Tugas Boleh, tapi yang Masuk Akal<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jarjit dalam serial Upin Ipin sebenarnya nggak jago-jago amat dalam berpantun. Banyak pantun ciptaannya yang jelek dan gagal.  <\/p>\n","protected":false},"author":2128,"featured_media":265489,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[17786,23523,23521,23522,5855],"class_list":["post-265482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-jarjit","tag-jarjit-singh","tag-jarjit-upin-ipin","tag-pantun-jarjit","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2128"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265482\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}