{"id":265368,"date":"2024-03-04T18:23:12","date_gmt":"2024-03-04T11:23:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265368"},"modified":"2024-03-04T18:23:12","modified_gmt":"2024-03-04T11:23:12","slug":"jasa-wo-di-desa-namanya-sinoman-resepsi-nikah-jadi-murah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jasa-wo-di-desa-namanya-sinoman-resepsi-nikah-jadi-murah\/","title":{"rendered":"Jasa WO di Desa Namanya Sinoman, Layanan Lebih Prima dan Ramah di Kantong"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Resepsi pernikahan di desa tidak mengenal jasa wedding organizer atau WO. Di desa terdapat tradisi sinoman yang berarti orang-orang gotong royong membantu hajatan seseorang. Biasanya sinoman melibatkan oleh tetangga sekitar atau keluarga besar yang mengadakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bisa-mengadakan-pernikahan-sederhana-di-indonesia-adalah-sebuah-kemewahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">resepsi pernikahan<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, kultur sinoman yang masih banyak ditemukan di desa-desa ini tidak bisa diterapkan di mana saja. Apalagi di perkotaan yang mayoritas penduduknya sudah individualistis. Namun, saya hanya ingin memaparkan, betapa mudah dan murahnya resepsi kalau kultur sinoman ini diterapkan di berbagai tempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sinoman lebih tulus daripada jasa WO. Nggak dibayar, tapi pelayanan tetap maksimal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di perkotaan, jasa WO banyak digunakan untuk menggelar resepsi pernikahan. Harganya jelas nggak murah karena jasa ini terlibat mulai dari persiapan hingga resepsi pernikahan selesai. Itu mengapa biasa jasa WO kerap menjadi pertimbangan banyak pasangan sebelum menggelar resepsi pernikahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan sinoman di desa. Kultur ini menggerakkan tenaga tetangga dan keluarga besar, umumnya yang masih muda, untuk terlibat membantu dalam resepsi. Tidak tanggung-tanggung, mereka terlibat mulai dari persiapan hingga resepsi selesai tanpa dibayar. Benar-benar niatnya tulis untuk<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gotong_royong\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> gotong royong<\/a> dan membantu sesama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau nggak dibayar alias gratis, saya terkadang merasa jasa yang mereka tawarkan lebih maksimal. Mereka tidak mengeluh karena sudah terbiasa dan melayani tamu undangan dengan penuh senyum. Saking kentalnya tradisi ini di desa, nggak sedikit ungkapan-ungkapan lucu yang muncul di desa. Salah satunya, orang yang terlibat sinoman adalah pihak yang paling lelah ketika ada resepsi. Nggak heran jargon \u201csing kesel sing rewang!\u201d kemudian menyebar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sinoman nggak terbatas jam kerja\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini menjadi salah satu keunggulan lain dari sinoman, jam kerjanya tidak terbatas. Nggak seperti jasa WO yang hanya bekerja sesuai waktu yang sudah disepakati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, jam kerja yang nggak terbatas ini bukan berarti sinoman melayani secara asal-asalan lho. Loyalitas dan layanan sinoman desa dapat diacungi jempol. Mereka bahkan kadang rela cuti agar tetap bisa srawung melalui sinoman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, sinoman mengawal acara dari awal hingga akhir. Nggak cuma pas resepsi aja, bahkan sampai ikut mengembalikan perabotan yang biasanya dikembalikan H+3 resepsi selesai lho. Kalau WO, boro-boro mau cawe-cawe hal-hal terkait resepsi setelah 3 hari acara digelar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengutamakan keberlanjutan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sinoman itu kompak dan tulus, tapi nggak cuman itu, mereka juga cinta dan memperhatikan lingkungan. Alias mengutamakan keberlanjutan banget. Buktinya kalau sinoman rela ikut mencuci piring dan gelas yang menggunung itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini beda dengan jasa WO yang biasa saya saksikan di kota-kota. Kini banyak jasa WO yang menggunakan alat makan sekali pakai. Memang semua itu bikin lebih praktis, tapi sampahnya menumpuk dan belum tentu dikelola dengan baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa layanan sinoman dan WO yang jelas beda banget. Walau tanpa uang, mereka tetap ikhlas dan maksimal membantu tetangga. Hal ini menunjukkan kerekatan dan kekeluargaan yang erat dalam struktur masyarakat desa. Namun, sinoman ini juga cukup kejam sebenarnya, kalau nggak pernah nimbrung atau ikut, mereka juga nggak bakal mau membantu di acaramu. Kasarannya sih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menolak-falsafah-ra-srawung-rabimu-suwung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ora srawung, rabimu suwung<\/a>!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mending-pakai-jasa-wo-daripada-sistem-rewang-untuk-pesta-pernikahan\/\"><b>Saya Orang Desa yang Memilih Pakai Jasa WO daripada Sistem Rewang untuk Pesta Pernikahan<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jasa Wedding Organizer atau WO di desa dikenal dengan sinoman. Mereka mau terlibat dalam hajatan tanpa dibayar dengan layanan prima.<\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":265520,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[15921,8793,3839,23529],"class_list":["post-265368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jasa-wo","tag-sinoman","tag-wedding-organizer","tag-wo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265368"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265368\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265520"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}