{"id":265164,"date":"2024-03-01T12:05:15","date_gmt":"2024-03-01T05:05:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265164"},"modified":"2024-03-01T12:05:15","modified_gmt":"2024-03-01T05:05:15","slug":"jalan-bangkong-semarang-jalan-rahasia-unnes-undip","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-bangkong-semarang-jalan-rahasia-unnes-undip\/","title":{"rendered":"Jalan Bangkong Semarang, Jalan Rahasia UNNES ke UNDIP. Sudah Rawan Ambles, Angker Lagi tapi Anehnya Nggak Bikin Kapok"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">UNNES dan UNDIP adalah kampus bergengsi di Semarang. Kalau UNNES terletak di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-iri-sama-mahasiswa-unnes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kecamatan Gunungpati<\/a>, UNDIP ada di Kecamatan Tembalang. Jarak kedua kampus ini lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan. Namun, kamu bisa menyingkat waktu lewat Jalan Bangkong Semarang. Tapi, tanggung sendiri akibatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Bangkong Semarang adalah semacam shortcut. Kalau lewat jalan ini, kamu hanya membutuhkan waktu 10 menit saja. Namun, jalan pintas ini sangat ekstrem. Oleh sebab itu, beberapa mahasiswa UNNES menyebutnya sebagai \u201cJalur Gaza\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking rahasia, bahkan Google belum mencatat Jalan Bangkong Semarang ini ke Google Maps. Makanya, kalau ingin menikmati kengerian jalan pintas ini, minimal kamu punya kenalan yang pernah lewat sana. Oleh sebab itu, dulu, jalur rahasia ini kayak harta karun saja karena bisa memangkas waktu perjalanan dari UNNES ke UNDIP atau sebaliknya. Sebelum viral, jalan ini mungkin hanya diakses oleh orang yang mengetahui dari mulut ke mulut saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan Bangkong Semarang berbahaya karena rawan kecelakaan dan ambles<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana cara mengakses jalur rahasia ini? Intinya, kamu bisa mengakses Jalan Bangkong Semarang dari UNNES maupun UNDIP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dari UNNES, pintu masuk jalur ini ada di Desa Sekaran, Kecamatan Gunungpati. Sementara itu, kalau dari UNDIP, akses masuknya ada di Desa Srondol, Kecamatan Banyumanik. Rutenya kayak gini: jika dari UNDIP, rutenya akan dimulai dengan Jalur Gombel-Jatingaleh-Bendan-Jembatan Besi Sampangan-Jalan Raya Sekaran, dan sebaliknya. Jalur ini memang akan memangkas waktu tempuh, tapi jangan salah, jalur ini sangat berbahaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seingat saya, lumayan banyak musibah yang terjadi di Jalan Bangkong Semarang. Salah satunya adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-jalanan-angker-di-semarang-yang-bikin-ngeri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">longsor dan ambles<\/a>. Pernah kejadian jalan ambles setelah hujan deras mengguyur selama 4 jam. Lebar ambles mencapai 3 meter, panjang 6 meter, dan kedalaman setengah meter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selaim ambles, banyak terjadi kecelakaan di jalur berbahaya ini. Misalnya, teman saya, Riska (21) salah satu Mahasiswa UNNES, yang lumayan sering lewat jalur itu, pernah menjadi saksi kecelakaan. Bahkan dia sendiri pernah menjadi korban kecelakaan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pernah ngeliat juga pernah ngalamin. Kebanyakan kecelakaan tunggal karena tergelincir,\u201d ujar Riska. Kecelakaan ini terjadi karena jalan yang lumayan licin dan berkelok. Sehingga tak jarang motor terjatuh apalagi hujan sedang turun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sudah berbahaya, &#8220;jalan rahasia&#8221; UNNES UNDIP ini juga angker\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, Jalan Bangkong Semarang ini nggak terbilang sepi banget. Sudah ada beberapa rumah warga di kanan dan kiri jalan. Namun, entah kenapa, jalur ini masih angker juga. Jadi, sudah berbahaya karena rawan ambles, angker juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenalan saya, namanya Anggi. Dia adalah mahasiswa Sastra Perancis di <a href=\"https:\/\/unnes.ac.id\/beranda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Negeri Semarang<\/a>. Dia cerita begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pulang nonton bioskop jam 01:30 malam dan lewat situ. Pas belokan, lampu motor menyorot ke tiang dan disitulah dia (kuntilanak) berdiri. Terus aku kaget dan merem pas melek sudah hilang,&#8221; Kata Anggi. Tak hanya kuntilanak saja, ada mitos bahwa di situ ada ratu ular lengkap dengan mahkotanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Sekitar 3 tahun yang lalu, sebelum jalan ini diaspal, pernah ada orang melihat ular tapi tidak bermahkota,&#8221; kata Nur Yadi pada Suara.com, Rabu (27\/12\/23). Jadi, dulu memang banyak yang melihat ular namun tanpa mahkota. Jika dicari lebih lanjut, masih banyak penampakan yang lainnya. Banyak yang menyarankan agar tidak lewat Jalan Bangkong Semarang ketika matahari sudah terbenam.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Antara butuh dan kapok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Bangkong Semarang memang \u201cmemudahkan\u201d mahasiswa atau warga yang beraktivitas di sekitar kampus UNNES dan UNDIP. Kalau memutar butuh 30 menit, lewat jalur ini kamu cuma butuh 10 menit. Oleh sebab itu, meski berbahaya, banyak orang yang nggak kapok. Namanya saja butuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ternyata ada juga yang kapok lewat jalan pintas ini. Maklum, sudah rawan ambles, angker, ada juga tanjakan hampir 45 derajat di jalur ini. Sekarang ini, jalur tersebut sudah diaspal. Tapi, masih ada saja lubang di sana-sini. Bikin orang kudu perhitungan kalau lewat jalan pintas ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya adalah Mas Jundi, teman saya, mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UNDIP. Dulu, dia sering lewat jalan pintas ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau lewatnya pagi sampai sore, aman. Tapi kalau malam, menakutkan karena gelap dan konon pernah terjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-bukan-hanya-tentang-kabar-buruk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">begal<\/a> di Jembatan Bangkong,\u201d kata Mas Jundi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya, sih, setuju. Kalau lewat Jalan Bangkong Semarang itu paling \u201caman\u201d ketika pagi, siang, dan sore sebelum gelap. Pemandangan hutan dan sungai memang indah, tapi ya harus siap-siap dengan curamnya, ya, hehehe.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, semua soal pilihan. Kalau takut, mending muter aja, sih. Tapi kalau memang berani, Jalan Bangkong Semarang ini bener-bener menghemat waktu perjalanan. Yah, di balik sesuatu yang indah, tidak jarang tersimpan bahaya yang mengancam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rosmala Nurhadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lampu-merah-kalibanteng-semarang-musuh-sepeda-motor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Anak SD Dibonceng Bapaknya Berhenti di Lampu Merah Kalibanteng Semarang, Pas Hijau Udah Lulus SMP<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Bangkong Semarang adalah &#8220;jalan rahasia&#8221; UNNES dan UNDIP yang nggak cuma rawan ambles dan kecelakaan, tapi juga angker mencekam. <\/p>\n","protected":false},"author":2569,"featured_media":265169,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[23477,10004,23478,4652,14921,23480,23479,19610],"class_list":["post-265164","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-bangkong-semarang","tag-jawa-tengah","tag-kampus-di-semarang","tag-semarang","tag-undip","tag-universitas-diponegoro","tag-universitas-negeri-semarang","tag-unnes"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265164","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2569"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265164"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265164\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265164"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265164"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265164"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}