{"id":265098,"date":"2024-03-01T11:00:57","date_gmt":"2024-03-01T04:00:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265098"},"modified":"2024-03-01T11:00:57","modified_gmt":"2024-03-01T04:00:57","slug":"bayar-jasa-pakai-rokok-solusi-yang-unik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bayar-jasa-pakai-rokok-solusi-yang-unik\/","title":{"rendered":"Sistem Pembayaran dengan Sebungkus Rokok dalam Masyarakat Jawa, Solusi sekaligus Masalah dalam Satu Paket"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang hidup di Jawa, pasti setidaknya sekali dalam hidup kalian pernah melihat jasa orang dibayar dengan rokok. Mungkin kalian pernah mengalaminya sendiri. Hal ini, tentu saja unik, mengingat bayaran rokok sebagai ucapan terima kasih ini sebenarnya nggak lazim-lazim amat. Maksudnya, tidak semua melakukannya, dan seringnya ditemukan di pedesaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya kasus ini saya batasi dalam lingkup dan pergaulan saya sebagai masyarakat Jawa, khususnya Jogjakarta. Sebagai seseorang yang berkecimpung di lingkup sosial pedesaan, tentu tidak asing dengan budaya pembayaran dengan sistem \u201crokok sebungkus\u201d ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam masyarakat Jawa ewuh pekewuh kerap bikin orangnya terjebak rasa tidak enakan dalam keseharian. Di berbagai kesempatan, masyarakat Jawa yang kurang memiliki budaya untuk mengungkapkan perasaan secara langsung dan memiliki rasa canggung yang di atas rata-rata itu, mendorong budaya berterima kasih dengan \u201csebungkus rokok\u201d ini masih berlangsung hingga masa sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di pedesaan yang masih erat dengan budaya gotong royong dan saling membantu, tentunya melibatkan banyak orang. Pada suatu kasus jika kita meminta tolong kepada seseorang, katakanlah untuk memperbaiki pipa yang bocor di rumah, ataupun genteng yang pecah. Itu memang pekerjaan yang gampang, tapi jika kita nggak punya alatnya kan jadi susah? Nah pada kasus demikian kita seringkali meminta tolong tetangga untuk berkenan memperbaikinya. Dan ya sudah pasti itu dikerjakan dengan mudah dan dengan waktu yang singkat pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah pipa yang bocor sudah teratasi, tapi akan timbul masalah baru. Bagaimana cara berterima kasihnya ya? Apakah cukup dengan ucapan terima kasih saja?<\/span><\/p>\n<h2><b>Bagaimana tradisi bayar dengan rokok tersebut bisa terjadi?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba kita tarik lagi, sebagai masyarakat yang tumbuh dengan budaya ewuh pekewuh tadi, tentu terjebak dalam situasi itu tidaklah mudah. Apakah saya akan membayar tetangga saya dengan uang? Tapi berapa yang pantas? Lima puluh ribu? Tapi kan itu cuma gampang ya, kan tinggal diputer lalu sudah beres? Lalu apakah nggak usah dibayar? Tapi mosok nggak dibayar sih? Lalu bagaimana jalan keluarnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah di sinilah sistem pembayaran yang unik itu berjalan. Biasanya sebungkus rokok adalah hal yang paling pas untuk diberikan sebagai tanda terima kasih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tau dari mana sistem ini dimulai, dan dari siapa pencetusnya. Yang saya tahu sistem ini sudah ada secara turun-temurun. Saya mencari di banyak literatur juga tidak ada, apakah sistem ini adalah peninggalan kolonial? Kiranya tidak deh. Yang pasti budaya ini memiliki banyak kelebihan dan kekurangan pula.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lalu kenapa masih dilestarikan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya budaya memberi rokok sebagai ucapan terima kasih ini memang membawa berbagai manfaat, banyak masalah yang terpecahkan dengan adanya kebiasaan tersebut. Tapi tidak menutup kemungkinan budaya itu juga membawa hal yang kurang sesuai. Sejatinya hidup dalam masyarakat memang serba salah. Coba kalau kita tidak memberi upah pasti nanti akan ada omongan di belakang, \u201cMosok aku ora dibayar to, dasar pelit? Oke itu kalau nggak dibayar, coba kalau dibayar tapi dengan jumlah yang berlebih? Pasti nanti akan timbul omongan \u201cIya ngerti kalau kaya, cuma gini aja ndadak bayar.\u201d Nah serba salah kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian kaget kalau ada orang yang tersinggung karena jasanya dibayar? Dolano makane, ra mung ndekem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya tetap lihat-lihat kondisi. Misalkan yang bantu kita bukan perokok, ya jangan diberi rokok. Beberapa orang mengakalinya dengan membelikan bingkisan berupa makanan. Atau mungkin diberi <a href=\"https:\/\/id.wiktionary.org\/wiki\/hasil_bumi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hasil bumi<\/a> seperti beras<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya entah siapa yang menciptakan budaya berterima kasih dengan sebungkus rokok tersebu. Tetapi kehadirannya memang membawa beragam manfaat dan tak lupa pula diikuti dengan hal yang kurang baik di baliknya. Beginilah hidup sosial, kadang susah dipahami dengan kacamata keilmuan dan nalar.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Yudhi Nur Prasetyo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/sering-bikin-ngaret-segini-durasi-sebat-dulu-kalo-beneran-dihitung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sering Bikin Ngaret, Segini Durasi \u2018Sebat Dulu\u2019 kalo Beneran Dihitung<\/a><\/b><\/p>\n<p><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bingung kan?<\/p>\n","protected":false},"author":1530,"featured_media":265156,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[14280],"tags":[23475,23476,623,309,23474],"class_list":["post-265098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sebat","tag-alat-tukar","tag-bayar-jasa","tag-jawa","tag-rokok","tag-ucapan-terima-kasih"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1530"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265098"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265098\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}