{"id":265072,"date":"2024-03-01T12:25:58","date_gmt":"2024-03-01T05:25:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265072"},"modified":"2024-03-01T12:25:58","modified_gmt":"2024-03-01T05:25:58","slug":"mie-bangladesh-cuma-versi-upgrade-dari-mie-dokdok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mie-bangladesh-cuma-versi-upgrade-dari-mie-dokdok\/","title":{"rendered":"Mie Bangladesh Itu Cuma Versi Upgrade dari Mie Dokdok, Rasanya Mirip, Harganya Ikutan Mirip"},"content":{"rendered":"<p><em>Mie bangladesh ini ternyata mie dokdok versi upgrade. Harga mirip, rasa juga mirip<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pencinta mie, saya cukup penasaran dengan kuliner yang cukup viral belum lama ini yaitu mie bangladesh. Kuliner satu ini sedang naik daun karena keunikan bumbunya dalam menambah cita rasa Indomie yang sebenarnya sudah enak tanpa diberi tambahan apa pun. Tapi, penampakan yang saya lihat di sosial media benar-benar menggugah selera. Mie ini memiliki tipe nyemek yang ditambah dengan bumbu khas medan menambah kecantikan tampilan warna mie dan kuah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, mie nyemek semacam ini sudah ada dan sering saya pesan ketika berada di warmindo\/burjo. Ya benar, mie dengan tipe seperti itu sebenarnya juga sudah melegenda di kalangan warmindo mania. Hidangan tersebut terkenal dengan nama mie dokdok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang sudah familiar dengan rasa mie dokdok menjadi penasaran apa bedanya dengan mie viral satu ini. Dengan tambahan bumbu khas medan, secara logika seharusnya mie bangladesh merupakan versi upgrade dari mie dokdok. Untuk itu, tanpa ragu saya membuktikan hipotesis saya dengan mencoba mie bangladesh yang ternyata juga sudah ada di tempat saya tinggal, yaitu Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, supaya lebih mudah dalam membandingkannya, di sini saya membuat tiga kriteria yaitu penampilan, tekstur, dan rasa. Oiya, untuk membuat perbandingan semakin valid, di sini saya membandingkan mie dokdok dari burjo andalan saya yaitu<\/span><a href=\"https:\/\/maps.app.goo.gl\/ZwrtmT19jjfkEjMa9\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Warmindo Kabita<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Pogung Kidul. Kemudian, saya mencoba mie bangladesh di<\/span><a href=\"https:\/\/maps.app.goo.gl\/4PDVwLMkfFmVcn8h7\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Warmindo Jamed<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Selokan Mataram.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kriteria pertama, penampilan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dilihat dari penampilannya, mie bangladesh saya pikir unggul cukup jauh dibandingkan mie dokdok. Mie bangladesh memiliki warna yang cenderung lebih gelap dan berkilau karena faktor bumbu tambahan yang membuat warna mie menjadi lebih menggoda. Selain itu, mie juga terkesan mempunyai bumbu yang begitu kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondimen telur yang ikut disajikan bersamaan dengan kedua hidangan ini juga berpengaruh besar dalam tampilannya. Pada mie bangladesh, telur lebih berkontribusi karena memiliki warna yang cukup kontras dengan warna mie yang cenderung lebih gelap tadi. Berdasarkan hal tersebut, tak diragukan jika mie ini memiliki tampilan yang lebih upgrade dibandingkan mie dokdok.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kriteria kedua, tekstur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya bandingkan, kriteria ini juga menjadi pembeda yang cukup vital. Bagaimana nggak, mie bangladesh kembali unggul karena tekstur creamy yang dimilikinya. Mie dokdok sendiri memiliki tekstur yang lebih berkuah karena dari namanya saja diorientasikan dengan mie godhog. Sedangkan, mie bangladesh memiliki kuah yang lebih kental sehingga sangat nikmat dikombinasikan dengan kenyalnya mie apabila direbus dengan timing yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin kekurangan yang berpotensi ada pada mie ini adalah rasa eneg apabila memakannya dalam porsi yang besar. Permainan tekstur harus ditambahkan secara tepat seperti memperbanyak bawang goreng dan sawi yang menambah tekstur crunchy sehingga makanan menjadi tidak terlalu \u201cberat\u201d. Overall, mie bangladesh kembali menang untuk kriteria tekstur dengan catatan perlu ditambahkan kondimen dengan tekstur yang berbeda.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kriteria terakhir, rasa mie bangladesh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, kriteria yang paling penting yaitu rasa. Sesuai dugaan saya, mie bangladesh memiliki rasa yang lebih kuat, bahkan saya hampir tak mengenali bumbu Indomie yang ikut menjadi bumbu utama. Perpaduan rempah yang dicampurkan bersama bumbu indomie meningkatkan level kenikmatan saat menyantap hidangan ini. Jika dideskripsikan, bumbu mie bangladesh cukup mirip dengan bumbu mie aceh yang cenderung memiliki rasa pedas dan beraroma kuat. Sedangkan, mie dokdok sendiri hanya mengandalkan bumbu Indomie yang ditambah bumbu dapur yang familiar seperti bawang-bawangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, saya menyarankan agar bumbu khas medan yang ditambahkan pada mie bangladesh benar-benar disesuaikan. Pada mie yang saya coba, bumbu yang ditambahkan sedikit terlalu banyak sehingga cukup overpower. Tekstur mie yang sudah creamy dan rasa yang terlalu medok berpotensi membuat perut cepat kenyang dan memberikan penolakan jika memakannya dengan porsi yang banyak. Namun, secara umum bumbu ini memiliki rasa yang unik dan sangat lezat sehingga tak salah jika rasa mie bangladesh lebih komplit dibandingkan mie dokdok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan tiga kriteria yang telah saya rangkum, saya bisa membuktikan hipotesis bahwa mie bangladesh adalah versi upgrade dari mie dokdok. Harga yang ditawarkan keduanya pun tak berbeda jauh sehingga saya ingin mencobanya kembali di lain waktu. Hanya saja, saat ini belum banyak kedai warmindo\/burjo yang menyediakan menu mie ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, saya berharap kedai-kedai lain juga ikut menambahkan menu ini agar saya nggak perlu jauh-jauh kalau pengin makan. Plisss ini mah~<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/betapa-merugi-belum-pernah-mencicipi-mie-dokdok-warung-burjo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Betapa Meruginya Orang yang Belum Pernah Mencicipi Mie Dokdok ala Warung Burjo<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lah, mirip.<\/p>\n","protected":false},"author":1167,"featured_media":265172,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2175,23481,6292,2945],"class_list":["post-265072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-indomie","tag-mie-bangladesh","tag-mie-dokdok","tag-warmindo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1167"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265072"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265072\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}