{"id":265013,"date":"2024-03-02T11:47:15","date_gmt":"2024-03-02T04:47:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=265013"},"modified":"2024-03-02T11:47:15","modified_gmt":"2024-03-02T04:47:15","slug":"situbondo-mati-matian-bertahan-dari-kenaikan-harga-beras","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/situbondo-mati-matian-bertahan-dari-kenaikan-harga-beras\/","title":{"rendered":"3 Kearifan Lokal Situbondo yang Membuat Warganya Sementara Bisa Bertahan dari Kenaikan Harga Beras yang Ugal-ugalan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lonjakan harga beras membuat rakyat Indonesia menjerit. Banyak ibu-ibu dan pemilik usaha mengeluh. Masalahnya, kenaikan harga beras membuat harga kebutuhan lainnya ikut naik. Namun, pemandangan berbeda ada di Situbondo, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/umk-situbondo-kecil-dikit-nggak-ngaruh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a>, ketika warga bisa beradaptasi dan bertahan. Yah, setidaknya untuk saat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saat ini, saya sedang merantau. Karena skill memasak yang terbatas, saya memilih untuk membeli makanan jadi. Yang penting murah dan mengenyangkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, karena terbiasa dengan mindset membeli makan, saya cukup kaget ketika pulang ke Situbondo. Pertama, kenaikan harga beras tidak, atau setidaknya belum, berdampak banget kepada masyarakat. Kedua, saya mendapatkan informasi perihal \u201c3 kearifan lokal\u201d dari ibu saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebiasaan masyarakat Situbondo untuk \u201cmembeli secukupnya\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar masyarakat Situbondo membeli beras ya cuma untuk konsumsi keluarga. Bukan untuk membuka warung makan atau semacamnya. Artinya, banyak masyarakat yang tidak (belum) merasakan dampak kenaikan harga beras. Mereka tidak harus membeli beras 1 karung dengan harga lebih dari Rp1 juta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau beli beras yang mentok 2 kilogram untuk keperluan sekitar 3 hari. Intinya adalah membeli secukupnya, untuk keluarga sendiri. Efek dari kebiasaan ini adalah susahnya mencari warung makan di Situbondo. Semua keluarga sudah cukup dengan memasak sendiri, baik nasi maupun lauknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak menjual semua beras hasil panen, harga beras naik jadi lumayan aman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kearifan lokal kedua masyarakat Situbondo yang membuat mereka agak lumayan aman dari kenaikan harga beras adalah keberadaan lumbung. Iya, masyarakat Situbondo kerap menyisakan sebagian panen padi untuk kebutuhan konsumsi pribadi sehari-hari. Hal itu, tentu sangat terasa manfaatnya ketika harga beras melonjak seperti hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk masyarakat yang kebetulan lumbung berasnya habis duluan, mau tidak mau, ya kudu beli. Tapi, toh belinya paling 1 sampai 2 kilogram saja untuk kebutuhan sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau beli banyak? Duitnya nggak ada. Maklum, UMK Situbondo adalah yang terendah di <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/bisnis\/d-7220359\/bps-sebut-harga-beras-picu-inflasi-2-81-di-jawa-timur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a>. Jadi kudu ngirit. Lagian apa yang mau diirit, lha wong duit saja nggak ada.<\/span><\/p>\n<h2><b>Beras parloh, bukti nyata gotong royong dan silaturahmi menguatkan di masa sulit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian dapat undangan nikah? Ngasih kado apa? Uang? Kalau di Situbondo masih tradisional dan penuh kearifan lokal. Masyarakat Situbondo itu, kalau ada parloh (hajatan) masih menggunakan bahan pokok sebagai hantaran. Mau itu beras, minyak goreng, gula, kerupuk, atau sembako lain yang tahan lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya ini ternyata memberi manfaat di masa kenaikan harga beras seperti sekarang. Budaya hantaran sembako ini menghadirkan komoditas baru bernama Sembako parloh. Ada beras parloh, gula, minyak, dan parloh-parloh lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komoditas di atas bisa dijual oleh yang punya hajatan. Harga jualnya yang tidak terlalu tinggi sehingga menjadi favorit di kala sulit. Meski, kadang, harus diteliti terlebih dahulu karena tidak ada standar kualitas untuk sembako parloh.<\/span><\/p>\n<h2><b>UMK Situbondo paling buncit, harga beras naik ya sepele, lah. Sepele bapakmu!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, UMK Situbondo itu menjadi juara terakhir di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surga-tersembunyi-di-taman-nasional-baluran-situbondo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a>. Fakta ini membuat warga jadi cepat beradaptasi di masa brengsek seperti kenaikan harga beras ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau harga beras meroket? Masyarakat Situbondo sih sudah sangat terlatih. Iya, terlatih nggak beli karena nggak punya duit hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Agus Miftahorrahman<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/umk-situbondo-terendah-di-jawa-timur-karena-ulah-rakyatnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Siapa pun Presidennya, UMK Situbondo Tetap Terendah di Jawa Timur<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Situbondo, sebuah daerah dengan UMK terendah di Jawa Timur, bertahan mati-matian, melawan kenaikan harga beras yang ugal-ugalan.<\/p>\n","protected":false},"author":2155,"featured_media":265271,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4468,18751,2501,23490,23390,10709,21929],"class_list":["post-265013","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-beras","tag-harga-beras","tag-jawa-timur","tag-kearifan-lokal-situbondo","tag-kenaikan-harga-beras","tag-situbondo","tag-umk-situbondo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265013","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2155"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=265013"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/265013\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/265271"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=265013"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=265013"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=265013"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}