{"id":263858,"date":"2024-02-21T17:35:38","date_gmt":"2024-02-21T10:35:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=263858"},"modified":"2024-02-22T20:28:44","modified_gmt":"2024-02-22T13:28:44","slug":"istilah-dalam-upin-ipin-yang-bikin-bingung-penonton-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-dalam-upin-ipin-yang-bikin-bingung-penonton-indonesia\/","title":{"rendered":"7 Istilah dalam Serial Upin Ipin yang Bikin Bingung Penonton Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serial anak-anak asal Malaysia,<em> Upin dan Ipin<\/em>, merupakan salah satu tontonan yang populer di Indonesia. Jadwal tayang duo kembar botak ini memang cukup sering di salah satu stasiun televisi. Tidak heran kalau serial ini kerap dijadikan alternatif oleh mereka yang tidak punya tontonan menarik di siang hari. Itu mengapa penggemar Upin Ipin tidak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya adalah salah satu orang dewasa yang senang menonton Upin Ipin. Itu mengapa saya jadi terbiasa mendengar percakapan dalam bahasa Melayu. Iya, walau tayang di televisi Indonesia, serial <em>Upin dan Ipin<\/em> tidak melakukan penyulihan suara alias dubbing.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Melayu yang digunakan Upin Ipin memang tidak jauh berbeda dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/komen\/versus\/kata-paling-indah-dalam-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Indonesia<\/a>. Sepanjang menonton saya tidak kesulitan memahami konteks percakapan para tokohnya. Namun, tetap saja ada beberapa istilah yang sulit saya pahami, mungkin penonton Indonesia lainnya juga merasakan hal yang sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya istilah ini terdiri atas kata-kata yang jarang digunakan dalam bahasa Indonesia. Bisa juga istilah terdiri dari kata-kata yang punya arti berbeda dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Misalnya, kereta dalam bahasa Indonesia adalah kereta api, sementara dalam bahasa Melayu berarti mobil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di bawah ini saya akan membahas beberapa istilah dalam serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang sulit dipahami. Semoga, daftar ini membantu penggemar Upin Ipin sekalian ketika menonton duo kembar itu ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Istilah &#8220;bertuah punya budak&#8221; yang kerap dipakai Kak Ros ke Upin Ipin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Bertuah punya budak&#8221; sering banget diucapkan oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kak-ros-di-upin-ipin-adalah-teladan-bagi-para-sandwich-generation\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kak Ros<\/a> ketika kesal dengan kedua adiknya. Contohnya, ketika Upin dan Ipin pulang main dengan badan dan pakaian sangat kotor. Kak Ros dengan kesal biasanya akan berteriak, \u201cbertuah punya budak!\u201d dan menyuruh kedua adiknya segera mandi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara harfiah &#8220;bertuah punya budak&#8221; berarti \u201canak yang beruntung\u201d. Sekilas terdengar positif ya, tapi kalau melihat konteksnya istilah itu berarti \u201castaga!\u201d atau \u201cya ampun!\u201d Ekspresi kaget melihat anak kecil telah berbuat kesalahan. Ekspresi ini mungkin dipilih Kak Ros karena kurang etis kalau menegur dengan \u201cnakal ya kamu!\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 &#8220;Tau tak pe&#8221; untuk mempertegas jawaban\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kak Ros seringkali mengucapkan ini ketika berbicara dengan Upin dan Ipin. Artinya kurang lebih seperti \u201ctuh kamu tahu\u201d. Saya beri sedikit contohnya ya, misal dalam sebuah percakapan Kak Ros marah-marah sebab Upin dan Ipin nggak cuci tangan sebelum makan. Di tengah amarah itu, Kak Ros coba menanyakan apa akibat dari nggak cuci tangan sebelum makan. Ternyata Upin dan Ipin dapat menjawabnya dengan tepat, lantas Kak Ros menjawab \u201ctau tak pe\u201d dan menyuruh mereka segera cuci tangan. Paham kan?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-dalam-upin-ipin-yang-bikin-bingung-penonton-indonesia\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: &#8220;Sibuk je&#8221; untuk mengingatkan&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#3 &#8220;Sibuk je&#8221; untuk mengingatkan Upin Ipin supaya tidak mengganggu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Sibuk je\u201d kurang lebih berarti \u201cganggu deh\u201d atau \u201cmau tau aja\u201d. Ini digunakan ketika seseorang merasa terganggu atas kehadiran atau pertanyaan orang lain. Misal nih, Kak Ros lagi sibuk mengerjakan tugasnya yang banyak dan susah, tiba-tiba Upin dan Ipin iseng bertanya kepada kakaknya lagi apa. Nah, karena Kak Ros sedang ingin fokus dan nggak pengen diganggu, ia mengusir kedua adiknya dengan bilang \u201csibuk je.\u201d Dengan begitu, dia nggak akan diganggu sama adik-adiknya.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u00a0#4 &#8220;Pandai lah kau&#8221; terdengar positif, tapi sebenarnya untuk menunjukkan kekesalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pandai lah kau&#8221; memiliki arti kurang lebih seperti \u201cpinter ya\u201d. Istilah ini sekilas terdengar positif, tapi sebetulnya bermakna negatif karena sering digunakan untuk memarahi atau mengekspresikan kekesalan terhadap orang lain. Biar jelas saya coba kasih contohnya di bawah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Upin dan Ipin sedang bermain dengan kain perca di rumah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/abang-saleh-upin-ipin-pemuda-berprestasi-yang-harus-mendapatkan-apresiasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Abang Saleh<\/a>. Lalu, Abang Saleh melihat ulah kedua bocah tersebut dan marah-marah sebab kain itu masih bisa dipakai. Duo kembar itu membela diri dengan mengatakan kalau mereka cuma main sedikit saja. Namun, pengusaha muda itu tau mereka hanya cari-cari alasan dan akhirnya menjawab \u201cpandai lah kau.\u201d Maksudnya, pandai banget dua anak itu cari-cari alasan untuk membela diri.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 &#8220;Tak kesah&#8221; untuk mengungkapkan penolakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Tak kesah&#8221; bisa berarti \u201cnggak usah\u201d atau \u201cnggak perlu.\u201d Istilah ini mirip-mirip dengan \u201ctak payah\u201d dan \u201ctak pe\u201d. Biasanya, ini digunakan untuk menolak tawaran dari orang lain. Contoh, Upin kasihan melihat Mail membawa barang berat sendirian dan ia berniat untuk menolongnya. Tapi, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mail-upin-ipin-bakal-jadi-pebisnis-sukses-kalau-tumbuh-di-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mail<\/a> menolak karena ia masih kuat dan lagipula sebentar lagi dia sampai. Nah, Mail menolak tawaran Upin ini dengan mengatakan \u201ctak kesah.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 &#8220;Senang je&#8221; yang punya dua makna di serial <em>Upin dan Ipin<\/em><\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya perhatikan, istilah ini sering muncul dalam <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Takarir\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">takarir<\/a> serial <em>Upin dan Ipin. <\/em>&#8220;Senang je&#8221; dapat memiliki 2 makna, yaitu \u201cmudah sih ini\u201d dan bisa juga \u201ctenang saja.\u201d Pokoknya tergantung konteks. Tapi, seringnya sih frasa ini diartikan sebagai makna yang pertama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh penggunaannya, misal Ehsan minta dibuatkan mainan pesawat kertas oleh Mail. Karena bikinnya sangat mudah, maka Mail meresponnya dengan mengatakan \u201csenang je.\u201d Tapi, respon Mail di saat yang sama juga mengindikasikan supaya Ehsan nggak usah khawatir karena bikin pesawat kertas itu gampang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 &#8220;Ape die&#8221; istilah yang jarang dipakai anak-anak Tadika Mesra<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah terakhir ada \u201cape die\u201d yang berarti \u201cada apa\u201d dalam Bahasa Indonesia. Istilah ini memang agak jarang terdengar di kalangan anak-anak Tadika Mesra. Kalaupun ada, seingat saya yang pernah menggunakannya hanya Fizi. Kak Ros lah yang pernah beberapa kali mengucapkan ini. Salah satu contohnya pada episode tentang merawat tanaman. Tepatnya ketika Kak Ros dipanggil dan menjawab \u201cape die\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas 7 istilah dalam serial<em> Upin dan Ipin<\/em> yang sering bikin bingung penonton Indonesia.\u00a0 Itu saya kumpulkan berdasarkan pengamatan ketika menonton beberapa episode Upin dan Ipin selama beberapa minggu. Saya berharap artikel ini bisa menghibur sekaligus membantu para penonton kartun negeri jiran ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Bella Yuninda Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampung-durian-runtuh-upin-ipin-adalah-tempat-pensiun-ideal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kampung Durian Runtuh Serial Upin Ipin Adalah Tempat Pensiun Ideal, Pantas Aja Opah dan Tok Dalang Betah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Melayu dan Indonesia memang mirip, tapi tetap ada beberapa istilah dalam serial Upin Ipin yang bikin bingung penonton dari Indonesia. <\/p>\n","protected":false},"author":1616,"featured_media":263916,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[1164,23349,13098,10690,5855],"class_list":["post-263858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-melayu","tag-pilihan-redaksi","tag-upin-dan-ipin","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1616"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=263858"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263858\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263916"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=263858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=263858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=263858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}