{"id":262822,"date":"2024-02-17T11:54:00","date_gmt":"2024-02-17T04:54:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=262822"},"modified":"2024-02-17T11:54:00","modified_gmt":"2024-02-17T04:54:00","slug":"bahasa-madura-khas-jember-yang-bikin-bingung-banyak-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-madura-khas-jember-yang-bikin-bingung-banyak-orang\/","title":{"rendered":"Bahasa Madura Khas Jember Bikin Bingung Orang Jember dan Orang Madura saking Uniknya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya orang Jember yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">berbahasa Jawa<\/a>. Namun, semakin tambah dewasa, saya banyak bertemu teman-teman yang berbahasa Madura ala Jember. Sekilas bahasa Madura khas Jember dan bahasa Madura pulau terdengar sama. Namun, kalau disimak dengan seksama, ternyata banyak sekali perbedaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Madura khas Jember tidak bisa diterjemahkan begitu saja ke bahasa Madura asli. Perlu tambahan konteks agar kata demi kata bisa diartikan dengan tepat. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak teman-teman saya yang dari<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-kawasan-surabaya-utara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Surabaya Utara<\/a> maupun Pulau Madura terkejut ketika mendengarkan bahasa Madura ala Jember. Mereka yang Madura ori menganggap sejumlah ungkapan, kata, dan frasa bahasa Madura khas Jember membingungkan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangankan orang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/madura-swasta-vs-madura-ori\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Madura ori,<\/a> mereka yang berasal dari Jember saja terkadang juga bingung kok dengan bahasa yang digunakan oleh bahasanya sendiri. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya terkadang bertanya-tanya, bagaimana bahasa Madura khas Jember ini bertumbuh. Kok dalam perkembangannya seolah-olah membingungkan orang Jember dan orang Madura. Berikut beberapa kata bahasa Madura khas Jember yang membingungkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Nyi-mut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bahasa Madura jemberan, \u201cnyimut&#8221; berarti cukup menarik. Kata ini sebenarnya bermakna sangat sederhana, yakni enak. Namun, banyak orang Jember kadang asing dengan kata ini. Bukan karena apa-apa, saya pun awalnya mengira kalau kata \u201cnyimut\u201d sama artinya dengan kata imut dalam bahasa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keunikan dari kata ini ternyata terletak pada fleksibilitasnya. Kata &#8220;nyimut&#8221; bisa merujuk pada sesuatu yang enak secara fisik, seperti makanan yang lezat. Akan tetapi, juga bisa mencakup keadaan atau situasi yang menyenangkan dan menenangkan. Seperti keadaan nyaman, lah, kira-kira.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menemukan kata \u201cnyimut\u201d ketika saya sedang berkunjung ke salah satu daerah di Jember bagian tengah. Ketika di jalan, saya spontan melihat gerobak bertuliskan &#8220;Bakso Nyimut&#8221;. Awalnya, saya pikir bakso nyimut adalah bakso yang memiliki ukuran kecil-kecil dan imut-imut itu. Ternyata, ketika saya tanyakan ke teman saya, nyimut ternyata berarti enak. Jadi kalau kalian ke Jember dan menemukan tulisan bakso nyimut itu berarti bakso enak, ya, Gaes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain digunakan untuk rasa makanan, kata nyimut juga digunakan untuk menggambarkan keadaan. Sebagai contoh, ketika ada teman yang tiba-tiba ikut menikmati hasil kerja tanpa melakukan banyak usaha, maka biasanya orang Jember berseru, &#8220;Mak nyimut been!&#8221; yang artinya, \u201cKok enak men we!\u201d atau \u201cKok enak sekali kamu!\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Lah-nyalah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Madura, termasuk yang ada di Jember, identik dengan mengulangi kata dalam percakapannya. Ungkapan paling populer seperti \u201cte-sate\u201d, \u201cco-ngoco\u201d, \u201crah-marah\u201d, dan masih banyak kata pengulangan lain. Begitu pula dengan &#8220;lah-nyalah&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, kata ini adalah bentuk dasar dari kata &#8220;salah&#8221;. Ditarik lebih jauh, asal kata \u201csalah\u201d adalah \u201cme-salah\u201d atau \u201cmenyalah\u201d. Dalam konteks bahasa Madura Jember, menyalah berarti menggoda, membuat gara-gara, atau iseng yang mengganggu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya penggunaan kata ini sebenarnya sederhana. Misal, &#8220;Jek lah-nyalah, maara!&#8221; yang artinya \u201cAyolah, jangan mengganggu!\u201d. Contoh lain, \u201cSengak koen la-nyalah\u201d yang artinya \u201cAwas kamu menggangguku!\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Har-ram<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mendengar kata &#8220;Harram&#8221;, kita seringkali mengartikan sebagai sesuatu yang dilarang dilakukan. Misal, haram melakukan pencurian, haram berbuat asusila. Namun, dalam bahasa Madura ala Jember, &#8220;Harram&#8221; memiliki arti sungguh, serius, atau beneran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman saya bercerita, kalau percakapan dalam bahasa Madura Jemberan kerap kali memanfaatkan kata &#8220;Harram&#8221; dengan konteks yang berbeda. Misalnya, &#8220;Harram billahi, aku nggak nyolong, Madt!&#8221;, kalau diterjemahkan dalam<a href=\"https:\/\/mojok.co\/komen\/versus\/kata-paling-indah-dalam-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> bahasa Indonesia<\/a> kurang lebih, \u201cSungguh demi Tuhan, Aku nggak nyuri, Bro!\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aneh, kan! Saya saja juga baru tahu, kok, Gaes!<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Ke-dhi&#8217;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat berkunjung ke daerah Jember bagian timur, saya kebingungan mendengar percakapan dua teman saya dalam bahasa Madura. Bahkan, teman saya yang lain yang fasih berbahas Madura ala Jember juga sempat bingung dengan istilah &#8220;kedhi'&#8221; (pelafalannya seperti kata bebek). <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, kata &#8220;kedhi'&#8221; dalam bahasa Madura Jember berarti &#8220;nanti&#8221;. Namun, ternyata nggak sesederhana itu cara pakainya. Keunikan kata ini terletak pada situasi, intonasi, dan konotasi mengancam. Misalnya, &#8220;Oooh, tak kedhi&#8217; koen!&#8221; (Awas kau nanti!).\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sejak saat itu saya menyadari, betapa kaya bahasa Madura khas Jember ini. Bahkan, mereka yang sudah fasih masih bisa kebingungan.<\/p>\n<h2><b>#5 Ap-tek-tak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika pertama kali mendengar kata &#8220;aptektak&#8221;, saya seperti kehilangan arah. Saya nggak yakin apakah itu bahasa atau hanya suara yang nggak ada artinya. Setelah saya bertanya sana-sini, ternyata &#8220;aptektak&#8221; memiliki arti yang variatif, tergantung pada konteksnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bahasa Madura khas Jember, &#8220;aptektak&#8221; dapat berarti jangan ikut campur, lebih baik diam saja, atau tidak usah melakukan apa-apa. Misalnya, &#8220;Maara, jek aptektak, Cok!&#8221; yang berarti \u201cWes menengo wae,\u201d atau \u201cJangan merusuh, diam saja!\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya lagi, sinonim dari kata ini ternyata juga nggak kalah beragam dan membingungkan. Aptektak punya <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sinonim\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sinonim<\/a> yang terdengar asing di kuping seperti \u201cApalpal\u201d, \u201cApokpak,\u201d dan \u201cApengkrepeng\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberagaman kata dan frasa bahasa Madura khas Jember ini, terkadang membuat orang Jember maupun orang Madura terperangah. Namun, kebingungan-kebingungan itu justru membuat Jember lebih unik ketimbang daerah-daerah lain. Walau terkadang membuat orang-orang hah-heh-hah-heh, mari kita nikmati keunikan dan kekayaan bahasa Madura Jemberan ini cukup dengan candaan dan tawa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Adhitiya Prasta Pratama<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-lebih-menarik-untuk-study-tour-daripada-bali\/\">Di mata orang Jember, Jogja Lebih Unggul daripada Bali sebagai Tempat Study Tour<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Madura khas Jember sangat unik. Saking uniknya, bahasa ini membingunkan bagi orang Jember dan orang Madura sendiri. <\/p>\n","protected":false},"author":1549,"featured_media":263168,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,2499,23274,23273,8794,5020],"class_list":["post-262822","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-madura","tag-bahasa-madura-ala-jember","tag-bahasa-madura-khas-jember","tag-jember","tag-madura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262822","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1549"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=262822"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262822\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263168"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=262822"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=262822"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=262822"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}