{"id":262708,"date":"2024-02-13T19:29:21","date_gmt":"2024-02-13T12:29:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=262708"},"modified":"2024-02-13T19:29:21","modified_gmt":"2024-02-13T12:29:21","slug":"menonton-film-eksil-sebagai-cucu-jenderal-orde-baru-bikin-hati-remuk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menonton-film-eksil-sebagai-cucu-jenderal-orde-baru-bikin-hati-remuk\/","title":{"rendered":"Menonton Film Eksil sebagai Cucu Jenderal Zaman Orde Baru Bikin Hati Saya Remuk Tak Berbentuk"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bertahun-tahun hidup cukup dekat dengan kekuasaan Orde Baru, kemudian menonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eksil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berhasil menciptakan riak-riak kegelisahan baru di batin saya. Saya bukanlah trah keluarga The Smiling General, bukan pula keturunan dari para pejabat lingkar dalam presiden kedua RI. Saya hanya kebetulan lahir sebagai cucu jenderal jaman Orba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eksil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah pengalaman yang menyesakkan bagi saya. Scene awal film menyorot wajah para <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eksil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang semakin menua dan berkerut. Babak pertama ini diiringi pula pembacaan puisi karya almarhum Chalik Hamid.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kuburan kami berserakan di mana\u2010mana<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">di berbagai negeri, di berbagai benua<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">kami adalah orang\u2010orang Indonesia<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dicampakkan dari tanah\u2010airnya paspor kami dirampas sang penguasa<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menatap mata para eksil yang kuat sekaligus teduh, bak mendengar cerita seorang kakek kepada anak cucunya. Impian yang dirampas, masa depan yang tercerabut, dan diasingkan karena prasangka semata. Betapa senjangnya dengan cerita hidup kakek saya, yang jika masih hidup sepantaran dengan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eyang kakung saya adalah seorang jenderal di masa Orde Baru. Ketika beliau akhirnya mencapai masa purnawirawan, beliau sempat ditunjuk mewakili fraksi ABRI di DPR. Berkat prestasi dan karier, beberapa kali Eyang memiliki kesempatan mendapatkan penghargaan atau bersalaman dengan Pak Harto. Foto-foto Eyang bersama penerima mandat Supersemar itu dipajang di bagian depan rumah. Memori saya ketika kecil mengingat menjadi cucu seorang pejabat ABRI yang dielu-elukan banyak orang karena kedekatannya dengan penguasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selayaknya cinta kasih seorang kakek kepada cucunya, begitu pula hubungan saya dan Eyang. Namun kekaguman dan ketidaktahuan kepada Eyang ketika saya kecil ternyata bias. Sehingga saya versi kecil tidak pernah menanyakan siapa itu Pak Harto? Kenapa orang begitu kagum karena Eyang terlihat berfoto karib dengannya? Saya bertumbuh besar dengan menerima impresi bahwa orba adalah era yang lebih cerlang ketimbang orde lama.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pencerahan tentang eksil yang begitu kelam<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya baru terbuka dan menerima informasi tentang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gerakan_30_September\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">peristiwa G30S PKI<\/a> dari sudut pandang lain ketika usia saya menginjak akhir 20-an. Membayangkan betapa sakitnya menjadi anak muda dengan masa depan cemerlang tetapi harus diasingkan (hence, eksil), dipenjara tanpa pengadilan, bahkan dibunuh dan disiksa. Gegar iman yang pertama kali terjadi hampir satu dekade lalu itu membuat saya semakin mencari tahu mengenai peristiwa sesungguhnya dari genosida bangsa tahun 1965.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puluhan buku, berita dan artikel saya lahap seiring keingintahuan yang besar mengenai sejarah bangsa. Hingga akhirnya saya menonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eksil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, seketika batin dan logika saya tak lagi selaras. Saya seolah menyaksikan Eyang yang saya kagumi, dengan kejeniusan yang sama dengan para <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eksil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tapi mengalami peruntungan yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seharusnya para <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eksil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat menjalani hidup yang cemerlang dengan latar pendidikan tinggi, privilege yang jarang dimiliki di tahun 1960-an. Tetapi mereka tidak saja menerima perlakuan zalim, juga disangkakan hal yang tak pernah mereka perbuat. Siapa yang sesungguhnya bertanggungjawab? Dan mengapa selama ini kekuasaan seolah diam, bahkan setelah Reformasi 1998?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih terngiang kesaksian Tom Ilyas, seorang eksil yang pernah dideportasi di 2015 ketika mencari makam ayahnya. Ia menceritakan bahwa orang Indonesia yang mencari suaka di Eropa berbeda dengan mereka yang berasal dari Palestina atau Kurdi. Pemuda pemudi yang terasing, hanya raganya saja yang berada di negeri antah berantah, tetapi hati dan pikiran selalu ada di Indonesia. Tidak ada eksil Indonesia yang menjadi anggota parlemen atau menteri, seperti eksil dari Palestina atau Kurdi, di negara-negara tempat mereka tinggal. Walau diasingkan, mereka masih setia kepada Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tak tahu harus tanya siapa<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gejolak batin yang datang seperti badai di siang bolong, tanpa tahu ke mana saya mendapat jawabannya. Seandainya saja Eyang masih hidup, saya mungkin bisa bertanya dan berdiskusi dengannya. Mungkin Eyang akan tersenyum atau menjawab dengan delik cerita penuh metafora. Tapi Eyang sudah tiada, begitu pula sebagian eksil yang diwawancarai untuk film besutan Lola Amaria ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bagian dari keluarga yang diuntungkan karena orde baru, menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eksil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti melihat kilas balik hidup keluarga saya. Kali ini saya mengingatnya dengan hati yang hancur. Ketika saya mengingat kembali privilege yang menjadi hak seorang jenderal di jaman orba, sungguh berbanding terbalik dengan para eksil. Eyang dan eksil sama-sama mencintai ibu pertiwi, tetapi mereka yang terasing harus hidup bertahan negeri orang lain tanpa kewarganegaraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eyang kakung dan sesepuh eksil berbagi tanah air yang sama, memiliki potensi dan kejeniusan yang sama pula. Tetapi hidup mereka bak bumi dan langit, karena mendapat perlakuan yang timpang dari negara. Adakah keadilan bagi mereka yang terbuang, dipenjara, bahkan dibunuh karena prasangka semata?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setitik harapan muncul bagi mereka yang memproduksi dan menonton film ini. Semoga keresahan saya adalah satu gelombang suara anak bangsa, yang suatu saat menjadi gema dan bergaung di negara ini. Sehingga tak ada lagi hidup yang terbuang sia-sia karena perebutan kuasa.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Instagram <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/C16p8VFSINP\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lola Amaria<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Maryza Surya Andari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kegiatan-biadab-orang-pki-sepekan-sebelum-1-oktober-1965\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kegiatan \u2018Biadab\u2019 Orang PKI Sepekan Sebelum 1 Oktober 1965<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Remuk.<\/p>\n","protected":false},"author":2414,"featured_media":262717,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[23228,19960,3149,4011,8023],"class_list":["post-262708","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-eksil","tag-jenderal","tag-orde-baru","tag-pki","tag-soeharto"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262708","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2414"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=262708"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262708\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/262717"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=262708"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=262708"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=262708"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}