{"id":262570,"date":"2024-02-13T10:20:42","date_gmt":"2024-02-13T03:20:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=262570"},"modified":"2025-11-23T21:07:32","modified_gmt":"2025-11-23T14:07:32","slug":"semarang-bukan-tempat-ideal-untuk-pensiun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-bukan-tempat-ideal-untuk-pensiun\/","title":{"rendered":"Semarang Nggak Cocok Jadi Tempat Pensiun, Kota Ini Semakin Sibuk dan Sesak Menyerupai Jakarta"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa survei, Kota Semarang masuk ke dalam daftar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-tempat-tinggal-setelah-pensiun-gerbang-keruwetan-daerah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daerah yang paling cocok dijadikan tempat pensiun<\/a> atau menghabiskan masa tua. Sebagai seseorang yang sudah tinggal di daerah ini selama 10 tahun, saya heran bukan main. Bisa-bisanya Kota Lumpia ini masuk dalam daftar tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, di lihat dari sisi manapun, Kota Semarang sama sekali nggak cocok untuk menghabiskan masa tua. Kota ini terlalu banyak tantangan bagi pensiunan yang biasanya mengutamakan ketenangan dan kepastian.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Semarang kota yang sibuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Semarang adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Layaknya ibu kota provinsi, Ia lebih sibuk daripada daerah-daerah lain di Jawa Tengah. Memang sih, tidak seramai Surabaya atau Jakarta, tapi sibuknya Kota Semarang nggak bisa dikesampingkan begitu saja. Apalagi dalam pertimbangan kota ideal menghabiskan masa tua\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melansir kompas.id, salah satu kriteria tempat pensiun impian adalah lokasi yang bernuansa desa-kota. Artinya, masyarakat mendambakan suatu lokasi yang cenderung sepi dan jauh dari hiruk-pikuk. Di sisi lain, mempunyai fasilitas lengkap dan mumpuni seperti di kota. Syarat pertama jelas tidak dapat dipenuhi oleh Kota Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, selain sibuk sebagai pusat pemerintahan provinsi, Semarang juga menyandang julukan Kota Dagang. Letak geografis Semarang memang strategis, berdekatan dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-destinasi-di-semarang-yang-cocok-untuk-jomblo-buat-menangis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pelabuhan Tanjung Mas<\/a>. Lokasi ini menjadikan kota ini daerah yang ideal untuk\u00a0 jalur distribusi barang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gairah perdagangan berimbas pada roda perekonomian di Semarang. Salah satu tanda perekonomi Kota Lumpia ini kian menggeliat adalah berdirinya pusat perbelanjaan di beberapa sudut kota. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak melulu Simpang Lima, pusat perbelanjaan sudah merambat hingga area Bukit Semarang Baru (BSB).\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Keberadaan pusat perbelanjaan pertanda daya beli masyarakat setempat cukup tinggi. Kalau tidak, mana mungkin mereka rela berinvestasi membangun itu semua?<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah satu dekade tinggal di kota ini, saya merasa Semarang tengah menuju menjadi kota yang hampir tidak pernah tidur. Bukan tidak mungkin, demi ekonomi yang terus menggeliat, warganya akan memiliki budaya hustle yang biasa dijalani masyarakat perkotaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya berhenti di itu. Semakin besar perekonomian terjadi di kota ini, semakin banyak pendatang yang datang. Bukan tidak mungkin harga-harga akan semakin mahal. Semarang bakal menyerupai Jakarta yang menyebalkan. Sangat jauh dari impian kebanyakan pensiunan<\/span><\/p>\n<h2><b>Banjir mengintai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah yang aman dari bencana adalah salah satu pertimbangan ketika memilih tempat untuk masa tua. Semarang memang tidak pernah mengalami bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, atau letusan gunung berapi seperti daerah-daerah Indonesia lainnya. Namun, jangan lupa, banjir menjadi potret masalah tahunan yang rajin menyambangi Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara rob yang mulai teratasi seakan tidak sanggup mengalihkan banjir. Masalahnya, luapan air laut bukan satu-satunya penyebab banjir di Semarang. Perilaku warga kota turut membuat persoalan bencana ini seakan-akan abadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalua menjelajahi Semarang, kalian akan banyak melihat selokan di depan area pertokoan ditutup dengan beton demi alasan estetika. Padahal, penggunaan selokan besi memiliki tujuan demi kelancaran sistem drainase yang sanggup mengurangi risiko banjir. Bahkan, kawasan <a href=\"https:\/\/www.bsbcity.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bukit Semarang Baru (BSB)<\/a> yang masih banyak daerah resapan air pun tak luput dari serangan banjir di awal tahun ini lantaran pembangunan infrastruktur dan sistem drainase yang kurang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banjir jelas merepotkan warganya,\u00a0 terlebih bagi mereka yang sudah tidak lagi muda. Mengungsi dan membersihkan sisa-sisa banjir tentu bukan hal yang diinginkan orang-orang yang ingin menghabiskan masa tua.\u00a0 <\/span>Asal tahu saja, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/daerah-langganan-banjir-di-semarang-dan-tips-hidup-di-sana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">banjir Semarang<\/a> tidak begitu saja selesai setelah air surut. <span style=\"font-weight: 400;\">Efek domino setelah banjir nggak kalah merepotkan. Misalnya, kerusakan mesin mobil akibat genangan air. Hal ini pula yang menyebabkan warga Semarang sulit mendapat taksi online di kala hujan sehingga mau tak mau mereka dihadapkan pada pilihan naik ojek motor sambil hujan-hujanan atau menunggu hujan reda.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota yang semakin sesak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya banjir, kota ini kian menyerupai Jakarta dari sisi kemacetan. Coba saja berkendara di Kota Semarang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saat jam berangkat dan pulang kantor, kemacetan jadi pemandangan yang tidak asing. Apalagi ketika akhir pekan tiba, macet semakin menggila, apalagi di pusat kota. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah penataan kota yang tidak apik. Bayangkan saja, ada salah satu daerah di Kota Semarang yang lokasi malnya berdekatan dengan lokasi parkir yang nggak sesuai dengan kuota pengunjung.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, antrean kendaraan yang akan masuk parkiran mal mengular di sepanjang jalan dan menghambat kelancaran arus lalu lintas. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, tidak dimungkiri Kota Semarang memang kian padat. Terlihat dari kendaraan lalu-lalang di jalanan. Tampaknya volume kendaraan nggak sebanding dengan luas jalanan di sana. Nggak heran semakin banyak orang mengeluhkan kondisi lalu lintas kota ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas hanya beberapa alasan yang menurut saya Semarang nggak cocok jadi tempat pensiun. Namun, kalau kalian tetap ngotot ingin menghabiskan masa tua di Semarang, segera pasang ekspektasi serendah mungkin. Selain hal-hal di atas, Semarang itu panas, minim udara bersih, dan nggak ada ruang hijau yang dipenuhi pepohonan asri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ingin pensiun di Semarang?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span>Paula Gianita Primasari<br \/>\n<span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malioboro-jogja-tidak-ramah-untuk-rakyat-kecil\/\">Malioboro Masa Kini Adalah Wujud Kebiasaan Kota Jogja yang Mengabaikan Keberadaan Rakyat Kecil<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Semarang bukan tempat yang ideal untuk pensiun. Kota ini semakin menyerupai Jakarta yang sibuk, padat, dan rawan banjir.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":262610,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,10003,10973,4925,16614,4652],"class_list":["post-262570","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-kota-semarang","tag-masa-tua","tag-pensiun","tag-pensiunan","tag-semarang"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262570","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=262570"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262570\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/262610"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=262570"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=262570"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=262570"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}