{"id":262566,"date":"2024-02-13T13:06:26","date_gmt":"2024-02-13T06:06:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=262566"},"modified":"2024-02-13T13:06:26","modified_gmt":"2024-02-13T06:06:26","slug":"jakarta-timur-dki-rasa-bekasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-timur-dki-rasa-bekasi\/","title":{"rendered":"Jakarta Timur, DKI Rasa Bekasi: Sama-sama Demen Reggae, Sama-sama Demen Tawuran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Bekasi, Jakarta Timur tentu nggak asing bagi saya. Selain dekat, keduanya ini mirip. Nggak percaya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tau kebiasaan orang Jakarta Timur. Mulai dari cara gaul, bahasa sampai budayanya sedikit banyak saya tau. Ditambah saya juga sering nonton Apos, bikin saya makin yakin kalau Jaktim itu sebenarnya Bekasi berbalut DKI aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian nggak terima? Tunggu dulu, coba liat alasan saya, baru manggut-manggut setuju.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gaya bahasa Betawi pinggiran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jakarta Timur, saya lebih mudah menemukan orang berbahasa dan berlogat Betawi dibandingkan dengan daerah Jakarta yang lain. Terlebih jika dibandingkan dengan Jakarta Selatan. Kalau Jakarta Selatan bahasanya tersendiri, campuran bahasa Indonesia dengan Swahili.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setau saya, banyak masyarakat Jakarta Timur gaya bahasanya Betawi pinggiran. Atau, yang biasa disebut juga <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Betawi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Betawi Ora<\/a>. Bahasa kaum Betawi Ora ini terpengaruhi oleh pendatang, terutama yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa dan logat Betawi pinggiran khas Jaktim\u00a0mirip dengan bahasa orang Bekasi. Bagi yang nggak detil, bahkan nggak akan bisa bedain.<\/span><\/p>\n<h2><b>Musik kesukaan relatif sama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik kesukaan anak Jaktim dan Bekasi relatif sama. Misalnya, mereka sama-sama suka musik reggae. Terutama lagu-lagu Dhyo Haw, seorang musisi reggae ternama di tanah air. Sebenernya lumayan wajar, kedekatan geografis bikin persebaran selera musik jadi lebih cepat dan nggak mengagetkan jika jadi seragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini terbukti dari konten Apos dan Egi Haw (komika Bekasi). Apos kerap kali menyebut-nyebut nama Dhyo Haw sebagai musisi yang lagunya kerap didengarkan di Jakarta Timur.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Jakarta Timur dan Bekasi demen tawuran!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah mengapa di setiap sudut Kota Jakarta Timur kerap terjadi tawuran. Sampai-sampai ada netizen yang bilang bahwa Jakarta Timur itu kota tawuran. Nah, Bekasi juga tak jauh beda. Meski beritanya tak sesering Jaktim, hampir setiap bulan saya melihat berita tawuran. Terutama tawuran di kalangan pelajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu ini bukan kesamaan yang patut dibanggakan. Perlu ada aksi nyata dari pemerintah dan masyarakat, guna menyelesaikan masalah tawuran ini. Soalnya, sudah banyak nyawa orang tak bersalah yang melayang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menganggap Jakarta Timur itu bukan DKI, tapi Bekasi yang menyamar. Sebenarnya, banyaknya kesamaan itu wajar saja. Mengingat, dulu di zaman kolonial, Bekasi memang bagian dari Jaktim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesamaan lain ya akhirnya mengikuti. Secara geografis dekat, kehidupan sosial yang nggak jauh beda, bikin kesamaan ini makin-makin. The resemblances is uncanny, kalau kata pepatah Burkina Faso.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalian nggak usah ngamuk kalau saya nyama-nyamain Jaktim dengan Bekasi. Bahkan, saya yakin, diam-diam, kalian bilang, iya juga ya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ahmad Arief Widodo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/flyover-pasar-rebo-jakarta-timur-flyover-paling-ikonik-se-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Flyover Pasar Rebo Jakarta Timur, Flyover Paling Ikonik Se-Jakarta<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bekasi berbaju DKI ini mah.<\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":236599,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2840,14802,23226,3293],"class_list":["post-262566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bekasi","tag-jakarta-timur","tag-reggae","tag-tawuran"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=262566"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262566\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/236599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=262566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=262566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=262566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}