{"id":262550,"date":"2024-02-13T08:47:17","date_gmt":"2024-02-13T01:47:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=262550"},"modified":"2024-02-16T10:43:32","modified_gmt":"2024-02-16T03:43:32","slug":"rasanya-jadi-wisudawan-dengan-ipk-terendah-di-fbs-uny","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasanya-jadi-wisudawan-dengan-ipk-terendah-di-fbs-uny\/","title":{"rendered":"Nasib Jadi Mahasiswa FBS UNY yang Lulus dengan Predikat IPK Terendah Sefakultas: Diketawain Dosen, Bikin Malu Orang Tua"},"content":{"rendered":"<p><em>Ini cerita saya, wisudawan dari FBS UNY dengan IPK terendah seangkatan pada wisuda November 2018, yang harus merasakan &#8220;kepedihan&#8221; dua kali saat prosesi kelulusan<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi mahasiswa, wisuda adalah masa paling bahagia, masa paling melegakan. Tapi, menjadi wisudawan dengan IPK terendah sefakultas tentu beda cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa kawan karib saya mungkin pernah dengar cerita ini. Tapi ini pertama kalinya saya menuliskan cerita ini di <em>Mojok,<\/em> tempat saya membuka begitu banyak aib diri saya agar kalian semua pembaca bisa belajar sesuatu. Tentu saja, salah satunya adalah, jangan jadi orang seperti saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya adalah mahasiswa Sastra Inggris UNY 2011, baru lulus 2018. Kuliah 7 tahun bukanlah hal yang membanggakan, sama sekali bukan. Tapi saya tak menyesalinya, sebab, 7 tahun berdarah dan penuh cerita megah itu jujur saja menyenangkan. FBS UNY memang tempat yang amat menyenangkan, dan kau tak akan benar-benar merasa terlalu lama di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ceritanya jadi berbeda saat yudisium, satu langkah terakhir sebelum wisuda.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>IPK rendah nggak masalah (?)<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ini sama sekali nggak peduli IPK. Bagi saya, itu hanyalah angka yang nggak akan merepresentasikan apa pun tentang saya. Tentu saja saya salah, tapi saat itu saya yakin betul kalau hal itu benar. Jadi, ketika memasuki 2 semester terakhir kuliah, saya nggak pedulikan IPK dan memilih untuk lulus. Toh, untuk apa peduli IPK kalau dasarnya sudah tiarap?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi justru ini anehnya. IP saya 2 semester tersebut malah meningkat, bahkan saya sebenarnya bisa saja lulus dengan IPK 3, sesuatu yang hampir mustahil\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum nilai D keluar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan cerita dikit. Jadi sebelum saya dinyatakan bisa sidang skripsi, ternyata ada satu mata kuliah yang nilainya belum keluar. Celakanya, waktu sudah mepet, sedangkan dosen merasa tidak menerima tugas saya. Yakinku, saya sudah memberi tugas, tapi tentu saja saya bisa salah. Saya sih nggak ambil pusing, saya memilih yaudah dapat nilai apa aja penting ujian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira dosen tak akan setega itu memberi nilai. Tapi saya lupa, jurusan Sastra Inggris UNY ini bukan jurusan yang terkenal akan belas kasihnya. Saya harus akui, keobjektifitas dosen saya perlu diapresiasi. Ya sudah, ketika nilai D keluar, saya tak ambil pusing. Toh, saya ujian, lalu lulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ketika nilai akhir keluar, saya kaget, IPK saya rendah. <a href=\"https:\/\/sscasn.bkn.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Daftar CPNS<\/a> jelas tak bisa. Tapi saya merasa biasa saja. Toh, pasti masih ada yang lebih buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">I couldn\u2019t be more wrong.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasanya-jadi-wisudawan-dengan-ipk-terendah-di-fbs-uny\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: 322, 2.74<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>322, 2.74<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika yudisium tiba, saya tak merasa ganjil atau gimana. Biasa aja. Berpakaian putih, celana hitam, wis mirip koyo karyawan training, saya melangkah masuk Dekanat FBS UNY. Masuk, saya bercengkerama dengan beberapa kawan seperjuangan yang juga baru kelar. Angkatan saya banyak yang baru kelar juga, jadi ya, nggak cengoh banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah dimulai ketika mahasiswa diminta masuk dan duduk sesuai kursinya. Ternyata, kursinya berdasarkan IPK, dan ada kertas yang ditempel di kursinya, isinya nomor urut dan IPK. Saya ingat banget nomornya, 322 dan IPK 2,74. Bangsat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu saya duduk di mana? Paling ujung kanan, paling belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penderitaan saya belum berakhir. Saya mengikuti prosesi yudisium yang saya sudah lupa isinya apa, kecuali satu momen. Jadi, ada momen pembagian ijazah dan map berisi entah apa itu saya lupa. Masalahnya, urutannya, lagi-lagi, berdasarkan IPK. Jadi, saya dapet map belakangan. Sudah? Oh belum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika tiba giliran saya, para dosen yang ada di situ memberikan map pada saya sembari berkata, \u201cOh, ini ya berarti yang IPK-nya terendah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya tersenyum, dan menerima map tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Calm before the storm<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi peserta yudisium dengan IPK terendah di FBS UNY tentu saja bukan perkara mudah untuk saya terima. Tapi saya pikir, ya udahlah ngapain dipikir panjang. Toh, 3 hari kemudian saya dapat undangan wawancara kerja. Bagi saya, yang terpenting saya tidak jadi pengangguran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya juga saya pikir, nanti kalau wisuda juga beda cerita kok. belum tentu saya duduk sesuai IPK lagi. Masak ya selo betul ngatur ribuan mahasiswa sampai segitunya. Jadi saya melewati hari-hari menuju wisuda dengan bekerja. Kebetulan saya langsung diterima kerja di perusahaan game asal Prancis. Tak perlulah saya buka mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, saya salah besar.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Wisudawan FBS UNY di barisan paling belakang<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tibalah hari wisuda. Saya yang tidak tidur selepas kerja harus ikut prosesi wisuda yang jelas melelahkan. Kenapa saya nggak tidur? Sederhana, saya PNS, alias pegawai night shift. Tidur? Huh, weakness disgust me.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Outfit wisuda saya saat itu jelas menyalahi aturan. Ketimbang pusing pakai celana kain dan sepatu pantofel, saya memilih memakai jeans hampir robek dan sepatu Vans. Hari terakhir menjadi mahasiswa FBS UNY, saya ingin rebel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saat masuk GOR UNY, saya mengikuti arahan panitia di mana saya duduk. Setelah tahu di mana, saya mengumpat dalam hati. Jembus wedut, aku lungguh mburi dewe meneh!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nih, saya kasih tahu. Kalau kalian tahu seperti apa lapangan GOR UNY, pasti bisa membayangkan denahnya. Wisudawan\/wati masuk dari pintu barat. Nah, tempat duduk saya ya persis setelah pintu masuk itu. Nggak ada IPK-nya, memang, tapi sesuai dengan tempat duduk waktu yudisium.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya naik level, dari duduk paling belakang di gedung Dekanat FBS UNY jadi duduk paling belakang di GOR UNY. Saya adalah orang di barisan paling belakang seuniversitas. Tuaek!<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kuliah di FBS UNY menyenangkan, tapi ya nggak gitu juga kali<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perasaan saya saat itu berkecamuk. Jauh lebih mengerikan ketimbang waktu yudisium. Lha gimana tidak, wisuda artinya disaksikan oleh orang tua. Artinya, orang tua saya melihat kalau saya ada di gelombang paling belakang. Mereka mungkin nggak tahu maksudnya, wong mereka sudah paham saya nggak mungkin mau duduk di depan. Tapi sebagai anak, tentu saya tahu bahwa saya gagal menjadi anak yang membanggakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tak dalam, tapi saat itu rasanya kok sedih juga. Saya sempat berkata dalam hati, andai saja saya serius kuliah, bisa jadi saya naik dua-tiga baris dan nggak bikin orang tua saya melihat anaknya duduk paling belakang. Kuliah di FBS UNY memang menyenangkan, tapi ya nggak jadi pemegang IPK terendah juga kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, setelah prosesi berakhir, saya melupakan rasa malu tersebut. Wisuda hanyalah prosesi, selanjutnya bekerja lagi. Tapi tetap saja, rasa malu tak bisa diabaikan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini klise, tapi, kuliahlah yang serius. IPK itu penting. Angka itu bisa mengantar kalian ke tempat-tempat yang kalian idamkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Yang mungkin saya syukuri dari wisuda itu adalah, saya ditemani pacar saya, yang kini jadi istri saya. Sesuatu yang mungkin kalian tak pernah relate.<\/p>\n<h2><strong>IPK bukanlah sekadar angka!<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan pernah dengarkan orang yang berkata IPK hanyalah angka. Sebab, artinya hanya dua: IPK mereka memang bagus banget jadi nggak begitu berkesan, atau memang angkanya saking jeleknya, mereka mencari penghiburan dengan mengajak yang lain agar ikutan remox seperti mereka. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kecuali kalian memang sudah sugih 15 turunan sih, mau IPK kalian satu koma doang ya nggak ngaruh. Tapi mosok yo semonone, jangan lah.<\/span><\/p>\n<p>Bagi kalian yang masih kuliah, ingat, IPK memang hanya angka, tapi bisa jadi itu alasan orang tuamu tersenyum sumringah. Jangan dengarkan kata abang-abangan kampus yang bilang IPK nggak guna. Dengarkan bapak ibumu yang tiap malam berdoa menitikkan air mata demi studimu yang tanpa kendala.<\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebetulnya-seberapa-penting-sih-ipk-dalam-melamar-pekerjaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebetulnya, Seberapa Penting sih IPK dalam Melamar Pekerjaan?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malu? Jelas.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":262553,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[23215,17456,7101,13098,9570,2312],"class_list":["post-262550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-fbs-uny","tag-highlight","tag-ipk","tag-pilihan-redaksi","tag-uny","tag-wisuda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=262550"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262550\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/262553"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=262550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=262550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=262550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}