{"id":262489,"date":"2024-02-12T11:45:28","date_gmt":"2024-02-12T04:45:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=262489"},"modified":"2024-02-14T06:35:58","modified_gmt":"2024-02-13T23:35:58","slug":"sri-sultan-hb-ix-sultan-paling-sakti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sri-sultan-hb-ix-sultan-paling-sakti\/","title":{"rendered":"Sri Sultan HB IX, Sultan Paling Sakti Sekaligus Raja Sakti Terakhir Tanah Jawa"},"content":{"rendered":"<p><em>Sri Sultan HB IX, selain sultan Jogja yang amat dicintai rakyatnya, beliau juga termasuk salah satu sultan tersakti sekaligus raja sakti terakhir di tanah Jawa<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLur, ada Sultan yang sakti nggak sih?\u201d Tanya kawan saya di tongkrongan. Seketika saya langsung terbisu dan ngelamun. Mencoba mengorek sisa ingatan saya tentang sejarah Mataram sampai Yogyakarta. Dahi makin mengernyit, kepala seperti berdenyut. Berusaha membuka lembaran imajiner perpustakaan sejarah di otak ini. \u201cKayaknya nggak ada, Lur,\u201d ujar saya pelan sembari kebingungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tersadar. Ternyata tidak ada raja Jawa yang dikenang karena kesaktiannya. Terutama raja Mataram dan penerusnya. Tidak ada kisah dan babad yang menunjukkan kesaktian seorang raja. Entah bisa terbang, tangannya melar, atau mengeluarkan api saat kentut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi satu lembar memori otak saya memberi jawaban. Ada satu raja yang dikenal punya kesaktian. Uniknya, raja ini memerintah di masa modern. Raja itu adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sultan yang sampai detik ini masih dihormati oleh rakyat Jogja bahkan Indonesia. Blio boleh dibilang adalah raja terakhir Jawa yang dikenal kesaktiannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa raja tidak pernah dikenal sebagai orang sakti<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini membuat banyak orang penasaran, termasuk saya. Sebagai raja, kenapa tidak ada legenda tentang kesaktian ala pendekar? Saya mencoba memahami posisi raja dan menemukan beberapa kemungkinan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, raja memang tidak perlu kesaktian, karena kesaktian adalah milik para pengikut dan inner circlenya. Posisi ini menegaskan bahwa raja berkuasa penuh, bahkan menguasai para pendekar sakti. Kesaktian raja ada di pengaruhnya serta lidahnya. Lidah yang bisa meludah api alias apa pun yang diinginkan akan terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, raja Jawa sejak era Demak adalah raja serta pemimpin agama. Sehingga mistisme akan menodai kepemimpinan sang raja sebagai sayidin panatagama. Maka narasi yang dekat dengan urusan klenik dijauhkan dari seorang raja Mataram sampai Jogja. Termasuk kesaktian sekelas Rawarontek atau Sirep. Paling banter hanya kisah bahwa raja Mataram dan Jogja kalau salat Jum\u2019at selalu di Mekkah.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sri-sultan-hb-ix-sultan-paling-sakti\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Sri Sultan HB IX berbeda dengan raja Jogja lain&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Sri Sultan HB IX berbeda dengan raja jogja lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang kita lihat kisah Sri Sultan HB IX. Banyak orang menarasikan bahwa Sri Sultan HB IX punya kesaktian. Bahkan di luar model kesaktian ala Jum\u2019atan di Mekkah. Menurut saya ini malah unik, karena blio memerintah di abad 20. Di mana urusan klenik mulai tergerus iptek dan Madilog. Saya kembali menemukan tiga kemungkinan kenapa narasi ini muncul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama dan yang saya pikir paling kuat adalah kecintaan rakyat. Sri Sultan HB IX mungkin boleh digelari raja paling dicintai rakyat Jogja bahkan Indonesia. Dari statement \u201ctakhta untuk rakyat\u201d sampai pemerintahan yang dinilai membawa kesejahteraan. Kecintaan ini membuat rakyat mulai mengisahkan kesaktian sebagai bentuk kekaguman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, Sri Sultan HB IX dikenal sebagai sosok hebat yang melawan Belanda. Sama seperti sosok serupa, muncul narasi tentang kesaktian spiritual. Tujuannya adalah untuk menguatkan perjuangan sosok tersebut. Selain itu, kesaktian juga membuat sosok pejuang tadi juga \u201cdirestui\u201d Tuhan serta semesta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, ya Sri Sultan HB IX beneran sakti. Sebuah alasan yang selalu membuat saya mengernyitkan dahi. Tapi tentu silahkan Anda boleh percaya atau tidak. Monggo remen kalau istilah jawa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sri Sultan HB IX pernah menyapu bersih alun-alun sendirian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah kesaktian Sri Sultan HB IX yang sering saya dengar waktu kecil. Maklum, rumah saya dekat dengan Kraton Jogja. Sejak kecil, saya sering didongengi tentang Sri Sultan HB IX yang punya kesaktian. Salah satunya ketika Alun-Alun Utara Jogja kotor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika musim kering, daun dari pepohonan di sekitar Alun-Alun Utara jatuh berterbangan. Saat itu, Sri Sultan HB IX sedang berjalan di tengah Alun-Alun. Melihat daun yang mengotori, blio mengibaskan tangan. Seketika itu juga ada angin yang mengibas dedaunan. Alun-Alun bersih dan dedaunan kering itu menumpuk di pinggir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesaktian ini saya tangkap dari sudut pandang lain. Sri Sultan HB IX bisa saja menyuruh para abdi membersihkan dedaunan tadi. Namun blio memilih membersihkan sendiri. Sisi raja yang merakyat muncul dari kisah ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masuk ke dalam laut pakai mobil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin butuh puluhan tahun sampai ada mobil yang bisa jadi kapal selam. Namun Sri Sultan HB IX sudah punya mobil ini saat bertakhta. Jelas bukan teknologi ciptaan Elon Musk, tapi bermodal kesaktian. Kisah ini masih dibicarakan dengan penuh kagum oleh para pegiat spiritual dan warga sekitar Pantai Parangkusumo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alkisah beberapa warga melihat mobil Jeep merah terbuka yang dikendarai Sri Sultan HB IX. Blio memang biasa pesiar dengan mobil Jeep. Tapi yang tidak dinyana, <a href=\"https:\/\/nasional.tempo.co\/read\/693507\/kisah-sultan-saksi-lihat-dia-masuk-laut-pakai-mobil-2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mobil tadi membelok ke arah laut<\/a>. Dan seketika turun ke dalam deburan ombak dan menghilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon Sri Sultan sedang mengunjungi Kerajaan Laut Selatan. Mungkin untuk menemui Ratu Kidul yang dianggap istri turun temurun raja Jawa sejak Panembahan Senopati. Terlepas dari itu, sepertinya mobil selam ala blio bisa jadi solusi transportasi. Berkunjung ke Australia jadi lebih mudah. tinggal tunggu iklan rental mobil Avanza lepas kunci di Australia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menghentikan badai di Jepang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah ini muncul pada 1972, saat Sri Sultan HB IX mengunjungi Osaka Jepang. Menurut BMKG-nya Jepang, akan ada badai yang menerpa daerah Osaka. Menanggapi berita ini, Sri Sultan HB IX meminta kamar kosong di lokasi acara yang dikunjungi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut para penderek alias pengikut, Sri Sultan HB IX bersemedi di dalam kamar tersebut. Setelah beberapa waktu, blio keluar dengan wajah cerah. Sembari mengatakan bahwa badai yang diramalkan tadi sudah dibelokkan jauh dari lokasi acara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar saja, tidak ada badai selama Sri Sultan HB IX berada di Osaka. Kisah ini akhirnya makin memperkuat citra Sri Sultan yang sakti sampai di negeri orang. Perkara fakta, saya belum menemukan kisah lain selain di atas. Tidak pula dengan berita perkiraan badai.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sri Sultan HB IX bisa Kagebunshin no Jutsu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah legenda Sri Sultan yang paling populer di Indonesia. Kisah ini dimulai saat persiapan Serangan Umum 1 Maret. Kisah yang diprakasai Sri Sultan HB IX (dan bukan Soeharto) menyisakan rasa waswas. Para pejuang takut Belanda menyerang area Njeron Beteng yang nantinya akan jadi titik persembunyian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serangan terjadi sampai tengah hari. Para pejuang mundur bersembunyi di gang-gang sempit di dalam Benteng Baluwerti. Tentara Belanda mengejar mereka dari banyak sisi. Tapi setiap sampai di depan gang, Sri Sultan berdiri menghalau mereka. Blio juga muncul di gang lain secara bersamaan. Konon, Sri Sultan HB IX menjadi 9 entitas yang mengawal setiap gang persembunyian pejuang Indonesia. Seperti Naruto saat menggunakan Kagebunshin no Jutsu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah kisah kesaktian Sri Sultan HB IX. Boleh percaya atau tidak. Bagi saya, kisah yang terus dituturkan ini tidak lebih sebagai bentuk kagum rakyat. Juga sebagai bentuk cinta dan hormat pada sosok raja yang dinilai paling digdaya dan merakyat.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sri-sultan-hb-vii-dan-kutukan-yang-makin-hari-makin-nyata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Misteri Sri Sultan HB VII dan Kutukannya pada Raja Jogja yang Makin Hari Makin Nyata<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paling sakti.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":262498,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,15683,10303,23208,16194],"class_list":["post-262489","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-kesaktian","tag-kraton-jogja","tag-sri-sultan-hb-ix","tag-sultan-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262489","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=262489"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262489\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/262498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=262489"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=262489"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=262489"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}