{"id":2621,"date":"2019-06-01T17:33:15","date_gmt":"2019-06-01T10:33:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2621"},"modified":"2022-01-17T15:44:12","modified_gmt":"2022-01-17T08:44:12","slug":"gugatan-orang-ngapak-yang-didiskriminasi-saat-bulan-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gugatan-orang-ngapak-yang-didiskriminasi-saat-bulan-puasa\/","title":{"rendered":"Gugatan Orang Ngapak yang Didiskriminasi Saat Bulan Puasa"},"content":{"rendered":"<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Selama ini saya sebagai <a href=\"https:\/\/tirto.id\/ketika-korupsi-menggerogoti-kebumen-daerah-termiskin-di-jateng-c882\">orang ngapak Kebumen<\/a> mendapatkan suatu perlakuan yang berbeda dari teman-teman di kampus saat berbicara dengan dialek ngapak\u2014ataupun memakai bahasa Indonesia namun masih sedikit ada rasa ngapak-ngapaknya. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Pasalnya, setiap kali saya berbicara dengan dialek daerah saya, teman-teman yang mendengarkan langsung serentak tertawa terpingkal-pingkal tanpa sebab. Saya sih awalnya diam saja\u2014toh, biasanya juga saya berbicara dialek ngapak di keseharian di rumah. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Namun, lama kelamaan hal itu membuat saya geram juga. Karena perlakuan semacam itu tentu berdampak pada kondusivitas saya sendiri\u2014terutama saat belajar di kelas. Terlebih saya sebagai minoritas, yang pasti selalu merasa inferior ketimbang mahasiswa lainnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Bahkan karena inferioritas yang kami alami sebagai sebangsa ngapak, banyak teman-teman perempuan rantau yang notabene biasa di rumah asik aja tuh pakai bahasa ngapak, tiba-tiba menghilangkan identitasnya sebagai orang ngapak. Mencoba meleburkan diri menjadi kejaksel-jakselan yang ngomongnya pake \u201c<em>wicis<\/em>\u201d atau \u201c<em>litereli<\/em>\u201d begitu-begitu\u2014jijik sih dengernya dimana kemedokan bercampur dengan kelebayan<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Saya yakin mereka bukan ingin sok-sokan ke barat-baratan, tapi itu semua karena takut merasakan kejamnya diskriminasi yang berlebihan dari kalian, wahai tukang\u00a0<em>bully~<\/em><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Biasanya orang umum akan bertanya \u201ccantik-cantik\/ganteng-ganteng kok ngapak?\u201d\u2014akibat itu mungkin nggak terhitung jumlahnya, cowok ganteng dan cantik asli putra daerah harus ditinggal gebetannya cuman gara-gara keceplosan ngobrol pake dialek ini. Atau dicemooh oleh teman lawan jenisnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Pada saat bulan puasa seperti ini diskriminasi tersebut ternyata nggak reda juga\u2014malah makin menjadi-jadi. Saat tengah hari, perut sudah mulai keroncongan karena menahan lapar dan haus, saya spontan sering bergumam \u201c<em>Nyong kencote ora patut!&#8221; <\/em>dan bisa tebak apa respon dari teman-teman saya pas itu? Ya, mereka tertawa terbahak-bahak lagi\u2014mungkin sampe bisa batal puasa gara-gara perut mereka kenyang tertawa. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Yang jadi pertanyaan, wahai kalian penduduk bumi, kenapa sih langsung tertawa seperti itu? Memangnya salah ya seseorang kalo mengungkapkan rasa lapar karena seharian nggak makan menggunakan dialek lokal seperti saya ini?<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Bagi saya sih, kalian itu orang paling lebay di dunia. Saya nggak lagi cerita lelucon lucu atau juga membuat lawakan ala Warkop DKI, tapi kok bisa kalian tertawa yah.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> FYI aja nih buat kalian ya guys, kalimat \u201c<em>Nyong kencote ora patut<\/em>\u201d itu artinya <em>saya lapar sekali<\/em> dalam bahasa Indonesia. Tapi kenapa juga hanya dalam dialek ngapak saja kalimat itu jadi bahan tertawaan teman-teman?<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Kenapa kalian nggak tertawa pas orang Betawi ngomong kalimat itu dengan bahasa atau logat kental Betawi? Kenapa kalian juga enggak tertawa pas orang Sunda ngomong kalimat itu pake bahasa Sundanya? Terus, kenapa juga kalian malah lebih mengagung-agungkan orang yang bisa ngomong <em>i\u2019m so hungry<\/em>? <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Padahal, di balik logat saya yang kalian anggap bahan guyonan itu, tersirat makna bahwa saya dan kawan-kawan sebangsa ngapak ini ingin tetap melestarikan sebuah kearifan lokal daerah di tanah Indonesia ini. <\/span><\/span><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bahasa atau dialek ngapak\u2014kalau kalian tahu\u2014sangat terikat erat dengan yang namanya bahasa Jawa kuno atau Kawi. Jadi, ngapak itu nggak main-main loh, wahai kisanak!<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><em><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Lanjut persoalan selanjutnya, guys~<\/span><\/span><\/em><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Sebentar lagi mudik lebaran. Saya orang yang perantauan pasti akan balik kampung tempat ibu dan bapak tercinta berada. Rasa rindu dan juga bahagia bertemu mereka akan bercampur aduk pada momen Hari Raya Idul Fitri.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Tergambarlah suasana sungkeman yang syahdu\u2014mencium tangan orang yang lebih tua dan saling meminta maaf satu sama lain atas kesalahan yang diperbuat selama setahun belakang. Pokoknya bayangan-bayangan bahagia sudah memenuhin otak. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Namun, semuanya harus terusik saat seorang teman bertanya suatu hal. Bayangan-bayangan itu berganti pada rasa emosi yang kayaknya hampir meledak saat seorang teman saya yang asli dari daerah yang dekat dengan kraton seperti Surakarta atau Ngayogyakarta berucap \u201cApa kalo sungkem kalian tetep pakai bahasa ngapak? Kalo iya, wah pasti bukannya jadi adem ayem, justru tambah marahan ya.&#8221;<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ish, ini orang kok ya kayak buta masyarakat aja. <em>Hello~<\/em> Emangnya orang ngapak sebegitu negatifnya di mata kalian yhaaa~<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Memang, saya akui bahwa orang-orang ngapak suka ngomong dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/memahami-logika-ngegas-para-pengguna-knalpot-blombongan\/\">nada sedikit kasar, keras, dan <em>ngegas<\/em>,<\/a> seperti orang Ambon, seperti juga orang Batak pada umunya. Tapi saya dan kami sedulur ngapak nggak brutal-brutal amat\u2014justru sangat paham apa yang dinamakan dengan tata krama dalam sungkem yang harus menggunakan bahasa sopan dan santun. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Orang ngapak itu, tahu kok bagaimana caranya untuk meminta maaf ala Keraton yang dianggapan kalian memiliki budi yang halus itu. Jadi gak perlu terlalu kritis deh\u2014kami akan baik-baik saja kok meski nanti kepaksa meminta maaf menggunakan dialek ngapak sekalipun.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Lagi pula, belum pernah tuh saya dengar dalam sejarah perngapakan, kalo orang ngapak minta maaf dengan dialek ngapak ke orang ngapak lainnya justru bukan menjalin hubungan baik kembali tapi memperkeruh hubungan. Sekali lagi saya tegasnya, gak pernah ada kasusnya\u2014<em>tuh mamam!<\/em><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Semestinya, di bulan Ramadan ini, kisanak sekalian, terutama teman-teman yang sering melakukan diskriminasi terhadap orang ngapak perlu membuka kembali kitab suci Alqurannya. Terus baca dan renungkan maksud dari Surat Al-Hujarat ayat 13 tentang keniscayaan sebuah perbedaan di diri manusia dan masyarakat. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Apalagi ada momen kemarin yaitu Nuzulul Quran\u2014biar kerjaannya gak cuman kelojotan kaya mau kiamat pas nggak bisa iqra status mantan karena media sosial error dibikin pak Wiranto. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Patut di paham pada bulan puasa ini, selain mendekatkan diri padaNya, kita juga perlu memahami makhluk ciptaanNya. <\/span><\/span><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Lalu, s<\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">eharusnya kita saling menghormati karena Indonesia itu adalah negara kaya akan budaya bangsa\u2014termasuk kaya akan bahasa. Dan ngapak adalah satu dari ribuan dialek yang dimiliki bangsa kita. <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: Liberation Serif, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Apakah saya dan kami\u2014para warga ngapak\u2014harus merdeka dan mendirikan negara sendiri dengan bahasa ngapak sebagai bahasa nasionalnya baru kami bisa sejajar dengan orang daerah lain?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama ini saya sebagai orang ngapak Kebumen, mendapatkan suatu perlakuan yang berbeda dari teman-teman di kampus saat berbicara dengan dialek ngapak.<\/p>\n","protected":false},"author":113,"featured_media":2790,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[726,725,34,724],"class_list":["post-2621","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bully","tag-dialek","tag-mahasiswa","tag-ngapak"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2621","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/113"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2621"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2621\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2790"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}