{"id":262026,"date":"2024-02-10T09:00:17","date_gmt":"2024-02-10T02:00:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=262026"},"modified":"2024-02-19T21:09:44","modified_gmt":"2024-02-19T14:09:44","slug":"surabaya-jadi-ibu-kota-provinsi-madura-adalah-ide-paling-sesat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-jadi-ibu-kota-provinsi-madura-adalah-ide-paling-sesat\/","title":{"rendered":"Surabaya Jadi Ibu Kota Provinsi Madura Adalah Ide Paling Sesat"},"content":{"rendered":"<p><em>Menjadikan Surabaya sebagai Ibu Kota Provinsi Madura adalah ide paling buruk dan sesat abad ini.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar pembentukan Provinsi Madura kembali mencuat. Plot twist-nya, Surabaya menjadi salah satu kandidat daerah yang digadang-gadang akan menjadi ibu kotanya.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> sendiri yang mengungkapkannya berdasar kajian Panitia Nasional Persiapan Pembentukan Provinsi Madura (PNP3M).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/madura.tribunnews.com\/2024\/01\/31\/breaking-news-usulan-pembentukan-provinsi-madura-terus-bergulir-khofifah-minta-ibu-kota-surabaya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pembentukan provinsi baru harus terdiri dari 5 kabupaten\/kota<\/a>. Sementara Madura saat ini hanya memiliki 4 kabupaten. Itu mengapa Kota Pahlawan masuk dalam daftar daerah yang akan menjadi Provinsi Madura, bahkan jadi ibu kota provinsinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya alasan itu kurang kuat. Saya rasa lebih tepat kalau salah satu kabupaten di Madura dilakukan pemekaran saja. Bangkalan, Sampang, atau Sumenep cukup potensial karena daerahnya yang cukup luas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain sisi geografis, pertimbangan Surabaya menjadi Ibu Kota Provinsi Madura sebenarnya perlu memperhatikan alasan-alasan sosiologis. Memang, provinsi hanyalah batas administratif. Namun, batas-batas ini bisa menimbulkan dinamika sosiologis. Bahkan, bukan tidak mungkin menjadi bibit persoalan sosial di masa mendatang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Emang orang Surabaya siap disebut \u201cWong Mexico\u201d?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini Madura menanggung julukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-kawasan-surabaya-utara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201cWong Mexico\u201d<\/a> yang berkonotasi negatif dan stigma lain. Julukan dan stigma melekat karena daerah-daerah di sana cenderung tertinggal dibanding wilayah-wilayah lain di Jawa Timur. Nah, kalau Surabaya menjadi Ibu Kota Provinsi Madura, apakah warganya siap menanggung stigma-stigma itu?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa stigma itu akan sulit lepas. Mengingat Surabaya akan menjadi minoritas dibanding 4 kabupaten di Pulau Garam, baik dari komposisi jumlah penduduk maupun luas wilayah. Mau nggak mau, warga Surabaya akan ikut merasakan dipanggil \u201cWong Mexico\u201d oleh daerah-daerah lain di luar provinsi, Begitu pula stigma-stigma yang selama ini melekat pada warga Madura akan melekat pada warga Surabaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Label dan stigma jangan dianggap enteng lho. Pengelompokan semacam ini bisa memicu diskriminasi. Bukan tidak mungkin Surabaya perlahan akan dipandang dan diperlakukan sama seperti daerah-daerah Madura lain. Memangnya orang-orang Surabaya yang selama ini lebih terpandang itu siap mengalami hal-hal semacam itu? Jadi seperti orang Madura itu berat lho.<\/p>\n<h2><b>Madura semakin tertinggal\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sepakat, Surabaya adalah salah satu pusat kemajuan di Jawa Timur, bahkan di Pulau Jawa. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Surabaya memegang peranan penting dalam berbagai aspek. Sementara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sumenep-madura-jauh-lebih-mending-daripada-bangkalan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kabupaten-kabupaten di Madura<\/a> justru kebalikannya. Daerah ini seperti kurang terurus sehingga serba tertinggal dalam berbagai aspek.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas sulit dan rumit untuk menyatukan dua daerah dengan gap yang begitu lebar. Apabila tidak ditangani secara serius dan tepat, bukan tidak mungkin diskriminasi justru akan meruncing. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pengelompokan-pengelompokan akan semakin tegas antara daerah Surabaya dan bukan Surabaya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membayangkan, kalau prosesnya tidak berjalan lancar, tetap akan muncul sebutan-sebutan lain sebagai pembeda. Misal, warga pulau seberang atau julukan lain yang menunjukkan Surabaya beda dari Madura walau mereka berasal dari provinsi yang sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Identitas yang memudar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat menulis di<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjadi-mahasiswa-madura-di-kota-surabaya-nggak-mudah\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> soal fenomena mahasiswa Madura yang berusaha menyembunyikan identitas ketika di Surabaya. Mereka sampai malu menggunakan logat daerahnya. Saya rasa hal ini tidak akan berubah kalau Surabaya jadi Ibu Kota Provinsi Surabaya, bahkan bisa lebih parah.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini masih berkaitan dengan potensi diskriminasi antara Madura dan Surabaya yang begitu tajam. Diskriminasi akan mendorong warga Pulau Garam berpikir bahwa Surabaya lebih baik daripada daerahnya. Ini akan berpengaruh pada cara mereka memandang bahasa. Logat suroboyoan akan dicap sebagai bahasa gaul, sementara bahasa Madura dianggap sebagai bahasa kampungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampaknya, orang Madura tidak hanya menyembunyikan bahasanya. Mereka akan berbondong-bondong mempelajari bahasa suroboyoan agar terlihat lebih maju. Lambat laun, kondisi ini bukan tidak mungkin menghapus logat yang selama ini menjadi identitas mereka. Hal-hal macam ini saya rasa sangat mungkin terjadi dan akan meluas pada aspek-aspek lain, tidak hanya bahasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan-alasan di atas yang membuat saya tidak setuju menjadikan Surabaya sebagai Ibu Kota Provinsi Madura. Ide itu benar-benar sesat. Saya bisa bilang percuma saja ada pemekaran kalau Surabaya yang jadi ibu kotanya. Pulau Karapan sapi itu masih akan tertinggal, kearifan-kearifan lokalnya akan semakin dilupakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Abdur Rohman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madura-tertimbun-jawa-saatnya-jadi-provinsi-sendiri\/2\/\"><b>Madura Tertinggal, ketika Jawa Timur Maju Pesat Menjadi Alasan Kuat Madura Justru Harus Jadi Provinsi Sendiri<\/b><\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surabaya Jadi Ibu Kota Provinsi Madura adalah ide sesat. Ide ini hanya merugikan Surabaya dan tidak akan mengubah banyak hal dari Madura.<\/p>\n","protected":false},"author":2507,"featured_media":263551,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[18889,5020,23173,13098,14951,405],"class_list":["post-262026","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-ibu-kota-provinsi","tag-madura","tag-mexico","tag-pilihan-redaksi","tag-provinsi","tag-surabaya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262026","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2507"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=262026"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/262026\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=262026"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=262026"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=262026"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}