{"id":261258,"date":"2024-02-03T13:40:07","date_gmt":"2024-02-03T06:40:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=261258"},"modified":"2024-02-03T13:40:07","modified_gmt":"2024-02-03T06:40:07","slug":"eksploitasi-anak-di-surabaya-yang-jauh-dari-kata-selesai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/eksploitasi-anak-di-surabaya-yang-jauh-dari-kata-selesai\/","title":{"rendered":"Surabaya dapat Penghargaan Kota Layak Anak, tapi Eksploitasi Anak di Surabaya yang Jauh dari Kata Selesai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Surabaya meraih gelar penghargaan Kota Layak Anak (KLA) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Juli 2023. Nggak tanggung-tanggung, kota pahlawan ini meraih peringkat nomor satu se-Indonesia. Katanya, prestasi ini dicapai karena kota ini berhasil menjamin hak dan perlindungan anak. Tapi, saya mau tanya Pak, Buk, itu perhitungannya berasal dari mana ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap hari, saya masih melihat banyak anak-anak yang tereksploitasi. Bahkan, komunitas Save Street Child Surabaya aja masih terus bergerak hingga kini, berarti apa? Iya, masalah eksploitasi anak belum atau malah nggak kunjung terselesaikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak anak di Surabaya menjadi penjual, pengamen, dan pengemis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eksploitasi anak di Surabaya bentuknya macem-macem, mulai dari jualan, mengamen, bahkan mengemis. Parahnya, jumlahnya itu banyak. Kemarin, saya sendiri sudah ketemu dengan lima anak yang mengemis. Bayangkan, hanya dalam satu hari sudah ada lima, itupun di sekitar Manukan aja. Lha, kalo satu kota seberapa banyak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin banyak dari kalian sewaktu cangkruk bertemu dengan anak-anak ini. Entah mengamen, jualan tisu, ataupun cangcimen. Sebab, keadaan tragis ini semakin nampak ketika malam hari. Kemungkinan, mereka ini tetap bersekolah di pagi hari, tapi malamnya dipaksa mencari uang, atau justru banyak dari mereka yang nggak bersekolah. Kalo hal ini sampai terjadi, berarti pemerintah masih gagal mengupayakan hak-hak anak. Utamanya, hak untuk bermain dan mendapatkan pendidikan!<\/span><\/p>\n<h2><b>Faktor utamanya ekonomi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus ini sangat amat serius dan kompleks. Pasalnya, banyak dari mereka yang dituntut bahkan dipaksa oleh orang tuanya dengan berbagai permasalahan rumah tangga yang ada. Berdasar pengalaman saya di komunitas, dan beberapa pertanyaan yang saya sering ajukan saat bertemu dengan anak-anak ini, jawabannya selalu sama, ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak yang tereksploitasi di Surabaya selalu berasal dari keluarga miskin. Orang tua mereka merasa nggak punya jalan lain, selain mempekerjakan anaknya untuk menutup kebutuhan hidup. Biasanya banyak dari keluarga mereka yang terlilit utang lintah darat. Selain itu, kebutuhan hidup di Surabaya juga tinggi. Listrik, air, bahan pokok, belum lagi tempat huni, semuanya mahal. Jadi, anak mereka harus ikut menanggung utang dan kebutuhan keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesal? Saya pun demikian. Tapi, banyak orang tua dari mereka yang nggak peduli karena keadaan ekonomi yang sudah mendesak. Di lain sisi, anak juga dilihat sebagai komoditas yang lebih menguntungkan daripada orang dewasa. Kalo saya tanya, rata-rata mereka mendapatkan uang paling sedikit 50 ribu, dan kalo lagi banyak bisa sampai ratusan ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kondisi ini yang jadi penyebab utama rantai eksploitasi anak di Surabaya nggak segera terselesaikan. Oleh karena itu, pemerintah harus ikut turun tangan menyelesaikan persoalan ini. Jangan hanya melihat dari sisi permukaannya aja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Solusinya jangan cuma penangkapan, tapi harus berkelanjutan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya ikut komunitas, beberapa anak menceritakan pengalaman mereka yang harus lari-larian dari kejaran Satpol-PP. Kalo mereka tertangkap akan dibawa ke kantor dan didata. Kemudian, jika ada keluarga yang menjamin, mereka boleh pulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita inilah yang membuat saya semakin geram. Pasalnya, menyelesaikan rantai eksploitasi anak nggak bisa semudah itu. Pemerintah harus hadir untuk menjamin dan menciptakan upaya-upaya yang membuat mereka nggak tereksploitasi lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, sebagai warga Surabaya yang resah, saya mengajukan dua solusi yang sejauh ini terpikirkan. Pertama, ciptakan tim khusus yang mengurus anak-anak tereksploitasi ini, sehingga ada orang yang bisa mengecek setiap hari kegiatan para anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, ekonomi keluarganya juga dibantu, beri lapangan pekerjaan, dan pastikan nggak ada yang punya utang. Wong pemerintahan Panggungharjo aja bisa menyelesaikan utang warga, masak sekelas Pemerintah Kota Surabaya nggak bisa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, dorong komunitas pemberdayaan anak jalanan di Surabaya dengan kolaborasi. Selama ini mereka telah berhasil menciptakan berbagai kegiatan, yang bisa memberikan banyak manfaat bagi anak-anak marginal. Tapi, sampai detik ini, komunitas <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/sschildsurabaya\/?hl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Save Street Child Surabaya<\/a> masih berdiri sendiri. Kalo kolaborasi bisa terjadi, kegiatan-kegiatan dari komunitas ini bisa menjangkau lebih banyak anak-anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, saya sangat berharap persoalan kemanusiaan ini segera terselesaikan di Surabaya. Nelangsa rasanya, ada banyak anak-anak yang harus berjuang untuk kehidupannya di tengah ingar bingar kota.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Naimatul Chariro<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebenarnya-surabaya-maunya-jadi-apa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebenarnya, Surabaya Maunya Jadi Apa?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masih jauh dari kata selesai.<\/p>\n","protected":false},"author":2178,"featured_media":261285,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3177,19141,1380,405],"class_list":["post-261258","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-eksploitasi-anak","tag-kota-layak-anak","tag-pengemis","tag-surabaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261258","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2178"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=261258"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261258\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/261285"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=261258"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=261258"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=261258"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}