{"id":261200,"date":"2024-02-03T13:00:10","date_gmt":"2024-02-03T06:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=261200"},"modified":"2024-02-02T23:03:31","modified_gmt":"2024-02-02T16:03:31","slug":"ppt-mahasiswa-tingkat-akhir-kok-full-teks-ngapain-kuliah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ppt-mahasiswa-tingkat-akhir-kok-full-teks-ngapain-kuliah\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Tingkat Akhir yang Masih Bikin PPT Full Teks Mending ke Laut Aja, Ngambang Bareng Sampah!"},"content":{"rendered":"<p><em>Kalau saya lihat PPT mahasiswa tingkat akhir isinya full teks, saya heran, kuliah 4 tahun kok nggak bisa bikin presentasi yang bagus?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai guru SMA, saya sering memberi tugas membuat PPT dan presentasi pada siswa. Tujuannya agar poros pembelajaran tidak melulu berpusat pada guru. Kalau bahasa pendidikannya itu agar bisa menjalankan model pembelajaran student center learning. Cieeelah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kendala yang sering saya hadapi ketika memberi tugas membuat PPT, siswa cenderung mengisinya dengan teks-teks panjang. Artinya, bukan menyajikan poin-poin, tapi full teks berbentuk paragraf. Biasanya sih memang langsung copy paste dari Google. Hal ini beberapa kali saya maklumi, karena wajar saja, mereka masih anak SMA. Setelah beberapa bulan belajar presentasi, mereka mulai berbenah dan mulai membuat PPT sesuai dengan fitrahnya, yaitu hanya berisi poin-poin penting tentang hal yang akan dipresentasikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, alangkah terkejutnya ketika saya justru menjumpai PPT mahasiswa tingkat akhir yang isinya full teks. Nggak ada poin-poinnya blas. Ini mahasiswa tingkat akhir lho ya. Bukan mahasiswa baru. Sungguh tak mencerminkan proses belajarnya selama 4 tahun sebagai mahasiswa. Malah kalah dengan anak SMA kelas 2. Mending berhenti kuliah aja deh kalau nggak mau berbenah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Percuma kuliah 4 tahun, tapi bikin PPT aja nggak becus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari yang lalu, saya melihat postingan Instagram seorang teman yang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang sarjana, karena telah menyelesaikan sidang skripsinya. Dia berfoto tepat di depan tampilan PPT presentasi skripsinya sambil\u00a0 memakai selempang bertuliskan cum laude. Yang menjadi perhatian saya adalah tampilan PPT-nya yang hanya berisi teks penuh atau full teks dalam bentuk paragraf. Bukan dalam bentuk poin-poin yang seharusnya dipresentasikan. Hal ini memunculkan keheranan dalam diri saya, kok bisa ada mahasiswa tingkat akhir, tapi bikin PPT-nya masih full teks begitu? Parahnya, lulus dan cum laude pula. Aneh, cuy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, bikin PPT itu hal paling dasar bagi mahasiswa. Makanan sehari-hari lah harusnya. Mahasiswa di semua jurusan, pasti diharuskan bikin PPT untuk kebutuhan presentasi. Sebab, PPT merupakan media presentasi yang efektif untuk menampilkan gagasan mahasiswa secara visual maupun tekstual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ada beberapa mahasiswa yang setiap mata kuliahnya selalu presentasi menggunakan PPT. Mulai dari mempresentasikan materi kuliah sampai mempresentasikan tugas akhir di masing-masing mata kuliahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman saya, awal masuk kuliah semester 1 saja dosennya langsung memberi tugas presentasi yang mengharuskan membuat PPT. Hal demikian terus berulang sampai semester 7 dan 8, presentasi dan diskusi tugas selalu menjadi makanan sehari-hari mahasiswa. Artinya, seharusnya setiap mahasiswa mampu membuat PPT yang baik dan benar, karena telah terbiasa dengan presentasi dalam keseharian belajarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Okelah untuk mahasiswa baru wajar masih bikin PPT full teks. Tapi kalau mahasiswa tingkat akhir masih begitu, kebangetan gobloknya. Kuliah 4 tahun yang full presentasi ke mana aja kok bikin PPT skripsinya bisa full teks begitu? Nggak becus blas. Sia-sia kuliah 4 tahunmu.<\/span><\/p>\n<h2><b>PPT full teks jelas hanya copy paste dari skripsinya, dasar pemalas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegoblokan mahasiswa tingkat akhir yang masih bikin PPT full teks itu disebabkan oleh jiwa malasnya yang nggak ketulungan. Jelas saja kalau PPT full teks itu hanya hasil copy paste dari file skripsinya. Mahasiswa yang begini pasti malas memikirkan poin-poin penting dalam teks skripsinya. Sehingga, ambil aja semua teks dalam setiap paragrafnya untuk dimasukkan ke presentasinya. Entahlah, ini antara malas atau memang nggak bisa mencari kalimat inti dari paragraf-paragraf di skripsinya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, di pelajaran bahasa Indonesia dasar selalu diajarkan kalau setiap paragraf pasti ada <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sulsel\/berita\/d-6366755\/ide-pokok-adalah-pengertian-ciri-ciri-dan-cara-menentukannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ide pokoknya<\/a>. Apa susahnya sih cari satu kalimat ide pokok dari beberapa paragraf skripsinya buat ditulis jadi poin-poin? Kalau sekelas mahasiswa tingkat akhir nggak bisa urusan beginian, mending ke laut aja deh, ngambang bareng sampah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bikin audience bingung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya nggak sekali-dua kali saya melihat mahasiswa tingkat akhir yang presentasi dengan PPT yang full teks. Berkali-kali, saya sering menyaksikan teman-teman saya atau temannya teman saya ketika sempro dan sidang menyajikan PPT-nya yang penuh teks\/full teks. Saya sebagai audience, jujur saja risih. Pertama, karena jadi nggak bisa menangkap maksud dan runtutan ide penelitiannya alias bingung. Kedua, risih karena mahasiswanya jadi nggak kelihatan presentasi, tapi malah terkesan lagi belajar baca semua teks yang ada di PPT-nya. Sudah full teks, mahasiswanya full baca lagi. Makin komplit dalam mempertontonkan kegoblokannya nggak tuhh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya sampai bingung, ini dia lagi baca untuk diri sendiri atau lagi bacain buat audience? Kalau memang bacain teks untuk audience, ngapain? Kan audiencenya bisa baca sendiri, ndul. Audience itu pengen denger presentasimu yang melampaui teksmu. Ngerti nggak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran saya untuk mahasiswa tingkat akhir, jangan males-males deh bikin PPT presentasi skripsinya. Ini tugas akhir lo. Kalian juga mahasiswa semester akhir. Harusnya punya gengsi sedikit gitu lo untuk menunjukkan hasil belajar kalian selama 4 tahun. Mosok belajar di perguruan tinggi 4 tahun, bikin PPT aja nggak becus. Malu dong!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Naufalul Ihya&#8217; Ulumuddin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ppt-itu-buat-belajar-presentasi-bukan-belajar-membaca\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PPT Itu Buat Belajar Presentasi, Bukan Belajar Membaca<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DASAR NOOB!<\/p>\n","protected":false},"author":1825,"featured_media":261206,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[662,23061,236,4264],"class_list":["post-261200","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-mahasiswa-tingkat-akhir","tag-ppt-mahasiswa","tag-skripsi","tag-tugas-akhir"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261200","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1825"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=261200"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261200\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/261206"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=261200"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=261200"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=261200"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}