{"id":260431,"date":"2024-01-28T12:30:58","date_gmt":"2024-01-28T05:30:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=260431"},"modified":"2024-01-28T21:30:46","modified_gmt":"2024-01-28T14:30:46","slug":"bangkalan-madura-bukan-tempat-yang-cocok-untuk-kuliah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangkalan-madura-bukan-tempat-yang-cocok-untuk-kuliah\/","title":{"rendered":"Bangkalan Madura Adalah Pilihan Paling Tidak Rasional untuk Menempuh Pendidikan Tinggi, Bukannya Belajar Malah Jadi Kader Partai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas, membaca tulisan Mba Anggi Auliansyah tentang<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madura-tidak-seburuk-itu\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">pengalamannya kuliah selama 3 tahun di Bangkalan Madura<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat diterima. Pada tulisannya, ia membahas betapa hangatnya hidup bersama orang-orang Madura ketika menempuh pendidikan di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), universitas negeri satu-satunya di Madura. Jujur, saya sangat mengapresiasi usahanya untuk mematahkan stigma masyarakat pada tanah kelahiran saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, saya harap tulisan Mba Anggi bukan menjadi acuan utama para jama\u2019ah mojokiyah untuk menempuh pendidikan di Madura. Pasalnya, menurut saya lingkungan di Bangkalan Madura kurang pas untuk menempuh pendidikan, apalagi tingkat pendidikan tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya saya sudah membahas terkait keburukan sistem pendidikan dasar atau<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangkalan-madura-bikin-kapok-warga-daerahnya-sendiri\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">SD yang ada di Bangkalan Madura<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Nah, membaca tulisan Mba Anggi ini memancing saya untuk segera membahas bagaimana Bangkalan Madura juga belum bisa menjadi pilihan yang pas untuk menempuh pendidikan tinggi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sulit mencari toko buku<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesulitan mencari toko buku di Madura sebenarnya sudah dibahas pada tulisan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madura-butuh-toko-buku\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Mas Akbar Mawlana<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Menurut Mas Akbar, alasan tidak adanya toko buku di Madura karena konsumennya yang tidak seramai di kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang. Hipotesis ini berangkat dari pengalamannya sebagai warga Sumenep (Madura bagian timur). Nah, permasalahan di Bangkalan (Madura bagian barat) lebih kompleks dengan apa yang terjadi di Sumenep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun UTM sebagai satu-satunya universitas negeri di Madura berada di Bangkalan, yang artinya lokasinya sangat dekat dengan Surabaya bukan berarti perusahaan sekelas <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gramedia_(toko_buku)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gramedia<\/a> dan Togamas akan melebarkan sayap ke Bangkalan. Sebaliknya, mereka lebih suka menunggu konsumen untuk datang sendiri ke Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, saya juga memiliki hipotesis lain terkait mengapa permasalahan tidak adanya toko buku di Bangkalan lebih kompleks dengan yang terjadi di Sumenep. Menurut saya, banyaknya pondok pesantren tradisional di Bangkalan Madura kurang mendukung hadirnya buku-buku dengan perspektif modern. Banyak pondok pesantren yang masih hanya berpatokan pada buku\/kitab terbitan lama. Sehingga buku-buku terbitan terbaru kurang sejalan dengan pemahaman kepercayaan mereka.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangkalan-madura-bukan-tempat-yang-cocok-untuk-kuliah\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Ruang akademis juga kurang&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Ruang-ruang akademis juga kurang di Bangkalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebaran buku-buku kajian akademis di lingkungan mahasiswa berpengaruh pada pertumbuhan ruang-ruang intelektual. Ketika bacaannya hanya kitab-kitab terbitan lama, maka pertumbuhan diskusinya pun akan mandek. Berbeda jika mahasiswanya dipancing oleh buku-buku terbitan terbaru, analisis terbaru, fenomena baru, serta teori-teori terbaru yang sesuai dengan zamannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, walaupun universitas negeri di Bangkalan sudah ada sejak 2001, belum ada komunitas atau perkumpulan yang memang fokus pada pengembangan keilmuan dan pemikiran secara konsisten, bahkan saat ini tidak ada. Jika dibandingkan dengan Madura bagian timur (Pamekasan dan Sumenep), di sana tidak hanya komunitas keilmuan saja yang tumbuh subur. Tetapi juga komunitas pecinta seni, sastra, dan budaya juga mulai banyak diminati.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gerakan politik bertebaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ruang-ruang akademis tidak tumbuh, tidak ada ruang lain selain organisasi yang menjadi pelarian mahasiswa. Sehingga, niat awal mahasiswa untuk membangun lingkungan akademis, malah bergeser pada lingkungan yang politis. Hipotesis ini cukup didukung dari<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangkalan-madura-organisasi-banyak-perubahan-nol\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">banyaknya organisasi kepemudaan di Bangkalan Madura<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lain yang cukup membuat saya tercengang adalah ketika masa-masa orientasi mahasiswa baru. Di lingkungan UTM, bujuk-membujuk mengajak mahasiswa baru untuk log in ke organisasi eksternal (ormek) bukanlah hal yang tabu. Bahkan, saat pelaksanaan PKKMB, sepanjang jalanan di UTM akan dipenuhi atribut ormek seperti bendera layaknya masa-masa pemilu saat ini. Ditambah masing-masing dari mereka juga ada yang berorasi untuk memikat mahasiswa baru yang berlalu-lalang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya tidak ada masalah dengan bangun organisasi sana-sini, cari kader sampai berkompetisi, bahkan sampai harus memikat dengan berorasi. Hanya, bekal apa yang akan dibawa jika sebelumnya ruang-ruang keilmuan belum terbangun? Pas orasi kira-kira apa yang mau diomongin? Apalagi buku-buku yang bisa mendukung wawasan kita lebih luas juga belum terbangun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya gaes, menurut saya bangun dulu ruang-ruang akademis di Bangkalan Madura, jangan dulu gembar-gembor politiknya. Percuma UTM ada di Bangkalan, tapi perannya sebatas perpolitikan saja. Lalu, siapa yang mahu ngembangin keilmuan? Hiasss.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Abdur Rohman<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/inilah-alasan-mahasiswa-utm-layak-disebut-sebagai-mahasiswa-tahan-banting\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Inilah Alasan Mahasiswa UTM Layak Disebut sebagai Mahasiswa Tahan Banting<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak cocok, beneran.<\/p>\n","protected":false},"author":2507,"featured_media":260464,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16112,436,5020,16961,6032],"class_list":["post-260431","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bangkalan","tag-kuliah","tag-madura","tag-pendidikan-tinggi","tag-utm"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/260431","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2507"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=260431"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/260431\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/260464"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=260431"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=260431"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=260431"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}