{"id":260204,"date":"2024-01-26T11:01:33","date_gmt":"2024-01-26T04:01:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=260204"},"modified":"2024-01-26T09:58:50","modified_gmt":"2024-01-26T02:58:50","slug":"perempatan-jetis-mojokerto-nasibnya-begitu-mengenaskan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempatan-jetis-mojokerto-nasibnya-begitu-mengenaskan\/","title":{"rendered":"Perempatan Jetis Mojokerto, Jalan Utama Penghubung Antardesa yang Mengenaskan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat membaca artikel<\/span> soal Perempatan Jetis yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempatan-jetis-jogja-paling-berpendidikan-sejak-masa-kolonial\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tayang di Terminal Mojok<\/a> beberapa hari lalu<span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">saya terkejut. Saya klik dan membacanya sampai habis sambil geleng-geleng heran dengan kebodohan saya. Kenapa? Karena ternyata, perempatan dengan nama \u201cJetis\u201d ini tak hanya ada di kabupaten tempat saya lahir saja, yaitu Mojokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, Kabupaten Mojokerto punya perempatan yang namanya Jetis. Tepatnya di Jalan Raya Jetis, Desa Jetis, Kecamatan Jetis. Semua namanya memang Jetis. Akan tetapi, meski nama perempatannya ini sama dengan perempatan yang ada di Jogja, nggak berarti sama kualitasnya. Justru terpaut cukup jauh kesenjangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Perempatan Jetis di Jogja disebut paling berpendidikan, maka saya bisa sebut Perempatan Jetis di Mojokerto ini paling mengenaskan. Saya bisa ngomong kayak gitu karena selama 20 tahun lebih saya hidup berdampingan dengan perempatan itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pusat masyarakat melanjutkan hidup sekaligus memendam penderitaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perempatan Jetis Mojokerto ini selain sebagai jalan utama penghubung antardesa juga sebagai pusat masyarakat melanjutkan hidup. Setiap hari perempatan itu dipakai masyarakat untuk berlalu-lalang ke pabrik-pabrik, waralaba, pujasera, pedagang kaki lima, pasar, hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/angkringan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">angkringan<\/a>. Dan semua itu menjamur di sekitaran Perempatan Jetis Mojokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sialnya, di balik banyaknya tempat penghidupan tersebut, Perempatan Jetis Mojokerto ini juga menjadi pusat masyarakat memendam penderitaan. Sebab, sampai hari ini, tak ada satu pun polantas yang bertugas di sana. Padahal volume lalu lintas di sana cukup ramai. Kendaraan macam truk tronton, truk trailer, mobil, dan motor setiap hari memenuhi perempatan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kacaunya lagi, para pengendara di sana kadang ya nggak tahu diri. Sudah tahu kondisinya ramai dan nggak ada polantas, malah kadang berkendaranya ngawurnya minta ampun. Apalagi saat pagi hari. Ruwetnya mobilitas para buruh pabrik dan orang-orang habis dari pasar harus dihadapi, mau tak mau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebagai warga sana kadang sampai merasa, kelakuan seperti saling serobot, truk yang tak mau mengalah, dan saling pisuh-pisuhan itu menjadi hal biasa di Perempatan Jetis Mojokerto. Bahkan saat hujan pun, cukup sering ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pengendara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pengendara<\/a> bajingan yang sok-sokan punya sembilan nyawa. Dan jangan tanya sering apa nggak kecelakaan terjadi di sana. Wes jelas seringnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kadang ada beberapa oknum pak ogah yang asal prat prit nggak jelas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya dari pagi sampai sore hari, keruwetan lalu lintas di Perempatan Jetis Mojokerto ini sudah diatasi sama para pak ogah. Hanya yang sangat disayangkan adalah kadang ada beberapa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pak-ogah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pak ogah<\/a> yang nggapleki. Maksudnya, ada oknum pak ogah yang cuma prat prit nggak jelas di tengah perempatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus terang saja, saya sebenarnya amat respect sama mereka. Saya pun ya ikhlas banget kalau misalnya harus ngasih imbalan 5 ribu ke mereka. Karena memang volume lalu lintas di Perempatan Jetis Mojokerto ini cukup banyak. Banyak truk besar yang melintas di sana. Belum lagi kalau harus menghadapi para pengendara yang angel atur-aturane.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau mereka cuma berdiri di tengah perempatan, lalu prat prit doang tanpa serius menertibkan lalu lintas, saya ya jelas nggak ikhlas lah. Ya mohon maaf saja, kelakuan mereka yang kayak gitu jatuhnya malah semakin merumitkan lalu lintas. Pengendara bukannya tenang, malah makin dongkol dengan keberadaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nggak gitu, mereka itu pilih kasih. Dalam artian mereka bisa serius menertibkan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lalu-lintas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> lalu lintas<\/a> kalau kebetulan ada mobil atau truk besar. Saya nggak tahu ya, apa mungkin mereka begitu karena dapat imbalannya besar. Tapi kalau memang beneran kayak gitu, saya berharapnya mereka bertobat. Karena saya yakin ada banyak pengendara motor di Perempatan Jetis Mojokerto yang butuh jasa mereka dan ikhlas ngasih imbalan, termasuk saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perempatan Jetis Mojokerto sering dilanda banjir akibat saluran air yang sempit dan banyak sampah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ketika musim hujan seperti sekarang ini, Perempatan Jetis Mojokerto cukup sering mengalami musibah seperti Jakarta. Iya, banjir maksudnya. Yah, meski banjirnya nggak terlalu tinggi, tapi lama banget surutnya. Kadang bisa sampai seharian penuh baru bisa surut. Tempo hari saja, banjir di Perempatan Jetis Mojokerto ini sampai masuk berita di<\/span><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/berita\/d-7146947\/simpang-4-jetis-mojokerto-banjir-hingga-meluber-rendam-permukiman-warga\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Detik<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu hal itu bukan tanpa sebab. Saya tahu betul bahwa banjir itu akibat saluran air di sekitar Perempatan Jetis yang sempit dan banyak sampah. Setiap hari selalu ada saja sampah berenang bahkan numpuk di sana. Sehingga nggak heran, kalau kemudian Perempatan Jetis Mojokerto ini gampang banget jadi langganan banjir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, Perempatan Jetis Mojokerto ini sudah cukup indah. Nggak perlu berpendidikan seperti Perempatan Jetis Jogja. Sebab, dengan adanya pabrik-pabrik, waralaba, pujasera, pedagang kaki lima, pasar, dan angkringan, itu sudah cukup membantu masyarakat sekitar untuk melakukan kegiatan ekonomi. Hanya saja, semua itu jadi tampak mengenaskan ketika masalah lalu lintas dan banjir masih terus terjadi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalur-cangar-pacet-mojokerto-jalur-maut-wisatawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalur Cangar Pacet Mojokerto, Jalur Tengkorak yang Mengantar Wisatawan Berlibur sekaligus Menuju Maut<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nasib Perempatan Jetis Mojokerto begitu mengenaskan. Sudah jadi langganan banjir di musim hujan, ruwet pula. Beneran stres lewat sini.<\/p>\n","protected":false},"author":2221,"featured_media":260232,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1095,2501,6007,5532,2139,10634,22650,22936],"class_list":["post-260204","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banjir","tag-jawa-timur","tag-kabupaten-mojokerto","tag-mojokerto","tag-pak-ogah","tag-perempatan","tag-perempatan-jetis","tag-perempatan-jetis-mojokerto"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/260204","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=260204"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/260204\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/260232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=260204"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=260204"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=260204"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}