{"id":259568,"date":"2024-01-21T14:54:08","date_gmt":"2024-01-21T07:54:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=259568"},"modified":"2024-01-21T14:54:08","modified_gmt":"2024-01-21T07:54:08","slug":"perkara-keramahan-jogja-adalah-juaranya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perkara-keramahan-jogja-adalah-juaranya\/","title":{"rendered":"Seburuk Apa pun Citra Jogja, Tetap Saja, Perkara Keramahan, Jogja Adalah Juaranya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat sebuah makanan, kita bisa mengatakan makanan itu benar-benar enak ketika sudah mencicipi makanan tersebut. Pun begitu juga dengan Jogja. Memang sudah bukan rahasia lagi jika salah satu sisi istimewa Jogja adalah masyarakatnya yang ramah. Namun, saya baru mengakui hal tersebut setelah tinggal di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu contoh, etika di jalanan. Sedikit gambaran, pengendara motor di Jogja itu benar-benar jauh dari kata barbar. Setidaknya ketika saya tinggal di Jogja. Iya, belum pernah saya temui adu mulut antarpengendara. Ketika ada pengendara yang dirasa ngawur, paling mentok ya diklakson. Tidak sampai dipisuhi, atau sampai adu jotos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini jauh berbeda ketika saya berkendara di Malang, Surabaya, Gresik, bahkan Lamongan. Jika dibandingkan dengan beberapa daerah tersebut, berkendara di Jogja benar-benar adem-ayem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, saya tergolong pengguna motor yang agak ugal-ugalan. Dulu ketika berkendara di Jawa Timur, khususnya Malang, saya sering mendapat teguran kasar dari sesama pengendara. Berbeda ketika di Jogja. Masyarakatnya seperti tidak mengenal kalimat kasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking baiknya, pernah suatu ketika saya bangun kesiangan dan harus ke kampus. Akhirnya dengan nyawa yang belum terisi penuh, saya langsung meratakan air di sekujur muka, kemudian menuju kampus dengan kecepatan penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gara-gara baru bangun tidur dengan nyawa yang belum sepenuhnya penuh, motor saya pun hampir tabrakan sama orang. Harus saya akui bahwa 90% itu karena keteledoran saya, namun ndilalah berahir dengan senyum manis dari sang bapak, sambil bilang, \u201cMonggo.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duh, jadi pekewuh.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Masyarakat Jogja terbiasa menggunakan bahasa Jawa yang halus<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, masyarakat Jogja juga sudah terbiasa menggunakan bahasa jawa yang halus. Misal dalam penyebutan kata ganti orang yang lebih tua biasanya menggunakan kata ganti \u201cnjenengan\u201d. Bahkan untuk orang yang tidak dikenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini berbeda dengan budaya di Jawa Timur, khususnya daerah Pantura. Di sana, Kata ganti \u201cnjenengan\u201d ini hanya digunakan untuk orang yang sangat dihormati. Seperti guru, tokoh masyarakat, kakek, nenek, dst. Sedangkan untuk orang asing yang terlihat lebih tua menggunakan kata ganti \u201csampean\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekedar informasi bagi yang bukan orang Jawa. Penyebutan \u201ckamu\u201d dalam bahasa Jawa ada beberapa jenis dan tingkatan, yaitu:\u00a0 kowe, awakmu, (Ngoko: paling kasar), sampeyan (Madya: sedang), njenengan (Inggil: paling halus). Selengkapnya silahkan dibaca buku <em><a href=\"https:\/\/perpustakaanbalaibahasadiy.kemdikbud.go.id\/index.php?p=show_detail&amp;id=12426&amp;keywords=\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pepak Bahasa Jawa<\/a>,<\/em> wehehehe<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri pun ketika memanggil orang tua kandung menggunakan kata ganti sampean, bukan njenengan. Ini bukan karena saya durhaka lho, tapi penyebutan seperti itu memang normal saja di daerah asal saya (Lamongan).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ketika menetap di Jogja, saya jadi merasa berdosa. Bayangkan saja ketika di rumah saya memanggil orang tua kandung menggunakan sampean, tapi pas di Jogja dengan orang yang tidak kenal malah manggilnya njenengan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kosa kata, masyarakat Jogja juga menggunakan diksi yang halus ketika menyampaikan kritik atau teguran. Orang Jogja tidak akan terang-terangan mengatakan, \u201cHei, Anda salah, harusnya kayak gini.\u201d Mereka cenderung mengatakan \u201cMaaf, setelah saya cek kok ternyata gini ya, apa saya yang salah lihat\u201d. Kurang lebih begitu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, benar-benar satir sekali.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Budaya srawung yang bikin terkejut<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, hal yang paling membuat saya kagum adalah budaya srawung masyarakat Jogja. Entah bagaimana bisa terjadi, namun rasanya serawung ini seperti kegiatan bernafas bagi mereka yang pasti bisa dilakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya yang hidup di Jawa Timur, srawung termasuk sebuah skill yang luar biasa dan tidak semua orang bisa. Namun skill ini mendadak jadi nggak terlihat istimewa ketika di Jogja. Sebab, seakan semua orang Jogja bisa melakukannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering mengamati banyak orang, dan kebanyakan dari mereka ketika berada di lingkungan baru akan menjadi pendiam, bahkan cenderung salah tingkah. Namun ketika sudah kenal akrab, baru tuh sifat aslinya keluar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sejauh pengamatan saya, masyarakat Jogja tidak demikian. Mereka ini bisa serawung dengan santuy, meskipun dengan orang yang baru dikenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda ingin mencicipi budaya srawung di Jogja, coba saja mampir ke angkringan, dan amatilah bagaimana orang-orang dengan santuy pesen makanan, duduk, kemudian ngobrol dengan siapa saja, meski baru kenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, meski ada hal-hal yang menjadi sisi \u201chitam\u201d untuk Jogja, kita tetap akan sepakat kalau soal keramahan, masyarakat Jogja adalah jawaranya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tak-usah-bermimpi-jogja-makin-sejahtera-begini-aja-sudah-istimewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">267 Tahun Jogja Berdiri: Tak Usah Bermimpi Jogja Makin Sejahtera, Begini Aja Sudah Istimewa, kok Minta Sejahtera!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja, Jogja, Jogja Istimewa.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":243413,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,22836,6720],"class_list":["post-259568","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-keramahan","tag-srawung"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259568","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=259568"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259568\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/243413"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=259568"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=259568"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=259568"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}