{"id":259541,"date":"2024-01-24T14:36:03","date_gmt":"2024-01-24T07:36:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=259541"},"modified":"2024-01-24T14:36:03","modified_gmt":"2024-01-24T07:36:03","slug":"4-pertanyaan-aneh-yang-sering-ditanyakan-pada-orang-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-pertanyaan-aneh-yang-sering-ditanyakan-pada-orang-aceh\/","title":{"rendered":"4 Pertanyaan tentang Aceh yang Selalu Bikin Orang Aceh Geleng-geleng. Nggak, Kita Nggak Mengisap Ganja Tiap Hari!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Aceh, saya kerap mendapat pertanyaan-pertanyaan ajaib bin absurd yang berkaitan dengan daerah ujung Indonesia ini. seperti apakah saya konsumsi ganja lah, masih tsunami kah, banyak lah. Kadang, saya sampai kesal dengan pertanyaan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena saya lumayan capek menjawab pertanyaan tersebut, maka saya buat artikel ini agar bisa dibaca oleh orang yang baru saya kenal. Saya mencoba menjelaskan secara terperinci hal tersebut dengan penuh kesabaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ganja di Aceh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan yang acapkali muncul dari orang-orang dari luar Aceh biasanya seputar ganja. Ada yang beranggapan bahwa ganja legal di kota ini, bahkan bisa ditanam di pekarangan rumah. Yang lebih parah lagi, ada seorang dai yang menjustifikasi bahwa peristiwa gempa dan tsunami karena orang Aceh kebanyakan mengisap ganja. Tentunya kata-katanya membuat masyarakat marah, syukurlah kemudian sang ustad langsung meminta maaf.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma negatif mengenai ganja tidak terlepas dari pemberitaan di media dengan temuan berhekta-hektar tanaman ganja di berbagai pegunungan di pelosok kota ini. Namun hal tersebut, tidak bisa menjustifikasi bahwa semua orang Aceh menanam ganja. Hal itu hanya dilakukan oleh segelintir orang atau hanya oknum. Ganja tetaplah merupakan tanaman yang dilarang sesuai undang-undang, dan itu juga berlaku di Bumi Rencong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang dalam kehidupan masyarakat Aceh, ganja bukanlah hal baru. Sejak zaman kesultanan, tanaman marijuana acapkali digunakan sebagai penyedap rasa makanan dan sebagai pengawet makanan. Namun pada zaman sekarang penggunaan biji ganja dalam makanan sudah jarang dilakukan karena ketatnya aturan hukum yang berlaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ya, kami warga Aceh nggak masak lodeh ganja. Hilangkan imajinasi liarmu itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Syariat Islam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang beranggapan kehidupan kami sangat kaku dengan adanya pemberlakuan syariat Islam. Padahal faktanya kehidupan di Serambi Mekah biasa saja, sebagaimana provinsi lainya di Indonesia. Bahkan rumah ibadah agama lain yang diakui oleh pemerintah tetap berdiri kokoh mengitari Tanah Serambi Mekkah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Syariat Islam (SI) dideklarasikan di Aceh sekitar tahun 2002 dibawah pimpinan Gubernur Abdullah Puteh. Sejak saat itu syariat islam menjadi fondasi masyarakat, namun selama itu tidak bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan tiap kali ngomongin syariat Islam di Aceh, ujung-ujungnya selalu ngomongin hukum cambuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hukuman cambuk itu akan dilaksanakan kepada para pelanggar syariat Islam. Namun aturan itu hanya berlaku bagi orang Islam dan aturan itu tidak berlaku kepada nonmuslim. Akan tetapi, pada beberapa kasus ada beberapa nonmuslim yang melanggar aturan dan memilih hukum cambuk dibandingkan hukuman penjara dengan KUHP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya sih, hukuman cambuk bukanlah sifatnya untuk menyakiti, akan tetapi sebagai efek jera untuk tidak mengulangi perbuatannya. Sebab, proses eksekusi cambuk dilakukan di depan khalayak ramai, sehingga membuat pelaku pelanggaran syariat menyesali perbuatannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gempa dan gelombang tsunami<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak-banyak orang luar Aceh bertanyak mengenai peristiwa gempa dan tsunami yang melanda pada akhir bulan Desember 2004 silam. Memang peristiwa itu merupakan bencana paling dasyat yang pernah terjadi di muka bumi yang menewaskan 170.000 jiwa manusia. Namun perlu digarisbawahi, bahwa tidak semua daerah di Aceh ditimpa tsunami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah yang terdampak paling parah adalah Kota Banda Aceh, Meulaboh, Aceh Jaya, Aceh Besar, dan beberapa pesisir di sepanjang Pantai Timur-Utara Provinsi Aceh. Di daerah saya di Aceh Utara tinggal juga kena tsunami, tapi tidak separah yang saya sebutkan tadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Aceh tidak aman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konflik yang terjadi belasan tahun silam antara pihak <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gerakan_Aceh_Merdeka\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">GAM<\/a> dan Pemerintah, membuat Bumi Iskandar Muda menjadi wilayah yang ditakuti di Indonesia. Sehingga banyak orang masih beranggapan bahwa Aceh merupakan wilayah yang tidak aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun itu telah menjadi kenangan masa lalu. Sekarang kondisi sudah kondusif, masyarakat hidup nyaman, bahkan kita tidak perlu takut berboncengan motor hingga larut malam baik itu di jalanan nasional maupun perkampungan. Jarang sekali terjadi kejadian begal di Aceh, dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Kondisi Aceh aman sentosa, cuma beberapa media saja yang suka memberitakan cerita negatif mengenai Bumi Serambi Mekah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau mau nanya hal-hal di atas pada orang Aceh, inilah jawabannya. Sebaiknya sih nggak usah nanya lagi. Sebab, ya, kayak nggak ada pertanyaan lain aja.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Tibrani<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-orang-aceh-tahlilan-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ketika Orang Aceh Tahlilan di Jakarta<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak, saya nggak ngganja tiap hari. <\/p>\n","protected":false},"author":2551,"featured_media":253572,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2628,1959,9692,22917,3612],"class_list":["post-259541","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aceh","tag-ganja","tag-gempa","tag-syariat-islam","tag-tsunami"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2551"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=259541"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259541\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/253572"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=259541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=259541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=259541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}