{"id":259066,"date":"2024-01-17T15:32:04","date_gmt":"2024-01-17T08:32:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=259066"},"modified":"2024-01-17T15:32:04","modified_gmt":"2024-01-17T08:32:04","slug":"di-mana-ada-lahan-di-situ-ada-warung-pecel-lele-lamongan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-mana-ada-lahan-di-situ-ada-warung-pecel-lele-lamongan\/","title":{"rendered":"Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan"},"content":{"rendered":"<p><em>Warung pecel lele Lamongan tetap berkuasa di tanah sendiri. Wani, dan berdikari!<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi Padang dan Warung Tegal boleh digdaya di kota orang, tapi di kota sendiri Wallahu A&#8217;lam. Ya, itulah kalimat yang bisa saya simpulkan dari dua tulisan tentang Nasi Padang dan Warteg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua warung makan ini memang digdaya di kota orang, hampir semua sudut kota besar berjejer warung nasi padang dan warteg. Keduanya memiliki kesamaan sebagaimana dilontarkan oleh<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-ada-nasi-padang-di-kota-padang\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Mas Ilham<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang Nasi Padang dan tulisan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warteg-ada-di-tegal\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Mbak Dyan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang Warteg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, beda dengan warung pecel lele Lamongan. Di tanahnya sendiri, mereka tetap digdaya dan membusungkan dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lamongan kamu mau mencari warung pecel lele itu semudah kamu bernafas sangat mudah dan selalu ada di mana-mana. Kadang saya sendiri heran, sebegitu menjamurnya warung pecel lele ini, sampai di kota sendiri pun tidak lepas dari adanya spanduk bergambar bebek dan lele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa bisa begitu? Karena prinsipnya, selama ada tempat, pemilik warung pecel lele Lamongan akan berjualan di situ. Peduli setan dengan persaingan, pokoknya rezeki sudah diatur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, hal lain yang membuat saya tercengang, warung pecel lele ini tidak hanya menjamur di jalan poros atau jalan besar. Bahkan jalan antar kecamatan ini berjejer tenda pecel lele dengan berbagai ukuran dan menu yang beragam.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pecel lele di mana-mana, bahkan di pedesaan sekalipun<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berhenti sampai di situ, warung pecel lele yang ada di Lamongan ini tidak kalah rame dengan pecel lele yang ada di perkotaan meski harus berbagi lahan dan berbagi rezeki. Bahkan, di desa saja ada tiga warung pecel lele yang jaraknya tidak sampai seratus meter. Sungguh luar biasa warung pecel lele ini menjangkau hingga pelosok desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka prinsip di mana ada lahan disitu kami jualan layak disematkan pada para pedagang pecel lele lamongan ini. Karena rezeki kan sudah tertakar, dan tidak akan tertukar. Meskipun kita berjualan dengan yang fokus pada <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/karjaid\/strategi-pemasaran-5p-untuk-bisnis-rumahan-1syHQq7ij23\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">strategi pemasaran 5P<\/a> (place people, product, price, dan promotion) kalau rezeki kita takarannya segitu mau bagaimana lagi, kita kan hanya dituntut untuk berusaha soal hasil biar Tuhan saja yang mengaturnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tak mengherankan jika di Lamongan, pecel lele tetap punya kuasa dan daya. Pokoknya berani membusungkan dada dan berani melawan. Pasang nama Lamongan pun berani. Jadi, ya, beda cerita dengan warteg dan warung padang, lamongan berdikari.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Rizal Firdaus<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klitih-di-lamongan-fenomena-yang-tak-bisa-dianggap-biasa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klitih di Lamongan: Fenomena Baru yang Jangan Sampai Dianggap Biasa Saja!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0ini\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wani dan berdikari!<\/p>\n","protected":false},"author":1090,"featured_media":259087,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2250,19781],"class_list":["post-259066","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-lamongan","tag-warung-pecel-lele"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1090"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=259066"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259066\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/259087"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=259066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=259066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=259066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}