{"id":258770,"date":"2024-01-16T13:00:56","date_gmt":"2024-01-16T06:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=258770"},"modified":"2024-01-16T10:49:14","modified_gmt":"2024-01-16T03:49:14","slug":"joki-skripsi-itu-haram-apa-pun-alasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/joki-skripsi-itu-haram-apa-pun-alasannya\/","title":{"rendered":"Dosen Pembimbing yang Nggak Becus Tak Bisa Jadi Pembenaran Jasa Joki Skripsi. Mahasiswa kok Mentalnya Pengecut? Aneh!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau ada yang gampang, ngapain pilih yang sulit?\u201d Begitulah kiranya dasar logika awal dari tulisan yang berjudul<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/joki-skripsi-merebak-karena-dosen-pembimbing-nggak-becus\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Jasa Joki Merebak karena Banyak Dosen Pembimbing Nggak Becus Membimbing Mahasiswa<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Betul, ini artikel tentang kenapa orang-orang pakai joki skripsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah salah? Tentu saja tidak. Manusia memang punya survival instinct. Insting itu menuntun manusia agar lebih memilih jalur cepat dengan energi seminimal mungkin. Tapi, kalau logika tersebut itu digunakan untuk mahasiswa memakai jasa joki skripsi, jatuhnya bukan insting survival. Melainkan insting membodohi diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, penulis cukup baik memakai sudut pandang penggunaan jasa joki skripsi sebagai akibat dari ketidakbecusan dosen pembimbing. Namun, sayang beribu sayang, ada substansi tak senonoh yang beliau pamerkan. Beliau cukup lugas menyatakan bahwa jasa joki skripsi bukanlah pilihan yang salah ketika dosen pembimbing nggak memenuhi keinginan mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, yang saya tangkap, logika awal tadi berubah menjadi seperti ini: \u201cKalau ada yang gampang menjerumuskan manusia dalam kebodohan, ngapain pilih jalan sulit yang menyelamatkan dari kebodohan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jan uaneh kan logikane?!<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak akan ada penawaran jasa joki skripsi kalau mahasiswanya nggak pengecut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya sepakat kalau dosen pembimbing yang nggak becus itu adalah hama bagi mahasiswa. Bagaimanapun, dosen pembimbing <a href=\"https:\/\/edukasi.kompas.com\/read\/2023\/11\/07\/120243271\/peran-dosen-pembimbing-skripsi-apa-saja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tugasnya<\/a> ya membantu mahasiswa, bukan mempersulit. Sekalipun dosen punya banyak tugas, bagi saya, tetap harus membimbing mahasiswa dengan baik. Bukan malah seolah-olah gugur kewajiban alih-alih menyengsarakan mahasiswanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya balik lagi, dengan kondisi dosen pembimbing yang nggak becus itu, bukan berarti jasa joki skripsi menjadi halal untuk dipakai. Apalagi sampai dipupuk dengan perkataan \u201cnggak akan ada penawaran, kalau nggak ada permintaan\u201d. Buat saya, itu sama aja dengan mengatakan \u201cpenawaran jasa joki skripsi itu baik kalau mahasiswanya meminta jadi pengecut\u201d.\u00a0 Kok bisa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhananya gini, Wir. Menjadi mahasiswa, artinya punya privilese untuk meraih kecerdasan. Dan salah satu cara meraih kecerdasan itu adalah melalui pengerjaan skripsi dan menghadapi dosen pembimbing problematik. Lha kalau dalam pengerjaan skripsi, caranya lewat joki, apa bisa kecerdasan itu diraih? Jelas nggak bisa. Justru yang diraih adalah mental pengecut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mental pengecut yang saya maksud di sini adalah mental yang lemah dan nggak berani untuk menghadapi persoalan perkuliahan, termasuk dosen pembimbing ini. Percayalah, tanpa mengurangi kejengkelan saya pada dosen pembimbing problematik, saya merasa perkara sulit itu sebetulnya tergantung kalian. Kalau mau menghadapi, pasti ada jalannya. Dan kalau mau malas, pasti ada juga alasan untuk mendukungnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Joki skripsi tetap salah, tetap menjadi perontok moral sekaligus penyengsara mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak hanya mahasiswanya saja yang pengecut, penjoki skripsi pun bisa dibilang pengecut. Ya gimana, ngapain orang pintar malah buka jasa perontok moral? Udah tahu dosa orang pintar, utamanya yang pengetahuannya berbasis akademis itu berbohong, kok malah menuntun calon orang pintar untuk berbohong lewat skripsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain merontokkan moral mahasiswa, penjoki skripsi juga bisa dibilang penyengsara mahasiswa. Ya bayangin aja, ketika jasanya dipakai oleh mahasiswa, maka secara nggak langsung si penjoki skripsi menuntun mahasiswa untuk nggak punya kemandirian dalam menyelesaikan persoalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di perkuliahan sih, masih nggak terlalu masalah. Lha kalau pas terjun dunia kerja, kan nggak mungkin si mahasiswa memakai jasa joki. Dengan begitu, bukan tak mungkin si mahasiswa akhirnya sengsara karena sebelumnya terbiasa memakai jasa joki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak tahu, apakah penulis tadi itu termasuk kalangan penjoki skripsi seperti temannya atau nggak. Tapi yang jelas, saya menyarankan agar temannya segera bertobat. Kasihan mahasiswa yang berpotensi punya mental pengecut. Mereka ini udah terpancing menjadi pengecut karena dosen pembimbingnya, malah semakin tergoda dengan adanya jasa joki skripsi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tamparan keras untuk dosen pembimbing yang nggak becus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teruntuk Bapak\/Ibu Dosen yang bertugas menjadi dosbing, tolong segera bertindak. Ini lho, ada orang yang menormalisasi jasa joki skripsi dengan dalih banyak teman sejawat njenengan yang problematik. Ini harusnya menjadi tamparan keras buat profesi njenengan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan sampai ketidakbecusan seorang dosen pembimbing justru menyuburkan penggunaan jasa joki skripsi. Terlebih lagi, jangan sampai dosen sebagai seorang pendidik, malah tugasnya (secara nggak langsung) berubah menjadi perontok moral dan penyengsara mahasiswa. Ironis kalau seumpama itu beneran sudah terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga yakin kok, kalau semisal anak Bapak\/Ibu Dosen mendapat dosen pembimbing yang problematik, njenengan pasti akan mangkel. Nggak rela kalau anaknya seolah-olah dipersulit. Semoga saja hukum karma juga masih ada. Jadi semisal Bapak\/Ibu Dosen masih kayak gitu, maka anak njenengan pasti akan menerima kesengsaraan atas perilaku Bapak\/Ibu Dosen sendiri. Amin.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jasa-joki-skripsi-contoh-terbaik-orang-pintar-tanpa-moral\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jasa Joki Skripsi Adalah Contoh Terbaik Adab Lebih Tinggi ketimbang Ilmu. Orang Pintar kok Degradasi Moral, Nggak Maen!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0ini\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dosen pembimbing nggak becus, makanya saya pakai joki skripsi. Nah, itu contoh logika yang benar. Benar-benar remuk!<\/p>\n","protected":false},"author":2221,"featured_media":258822,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1116,8240,9357,22729],"class_list":["post-258770","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-dosen-pembimbing","tag-jasa","tag-joki-skripsi","tag-logika-jelek"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258770","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=258770"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258770\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/258822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=258770"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=258770"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=258770"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}