{"id":256111,"date":"2024-01-12T10:28:10","date_gmt":"2024-01-12T03:28:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=256111"},"modified":"2024-01-12T10:28:10","modified_gmt":"2024-01-12T03:28:10","slug":"sarjana-sastra-inggris-percuma-kuliah-mending-kursus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sarjana-sastra-inggris-percuma-kuliah-mending-kursus\/","title":{"rendered":"Krisis Eksistensialis dan Nestapa Kehidupan Sarjana Sastra Inggris, Dikatain Mending Kursus Aja Udah Cukup ketimbang Kuliah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu saya membuka mulut tentang latar belakang pendidikan, yaitu Sastra Inggris, tatapan menghakimi langsung muncul. Tatapan menyebalkan itu seolah berkata, \u201cNgapain, sih, mahal-mahal kuliah Bahasa dan Sastra Inggris kalau bisa kursus saja?\u201d Menghujam dengan tajam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, saya tidak mau ambil pusing. Kadang, saya hanya membalas dengan senyum dan mengafirmasi tanggapan mereka, \u201cIya, hehehe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pamor orang yang literate (memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis) di Indonesia memang kerap disepelekan. Sejak bangku sekolah saja saya sudah sering mendengar ajakan untuk meningkatkan literasi, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/majalah-bobo-bikin-saya-sadar-betapa-tidak-meratanya-akses-literasi-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pentingnya literasi<\/a>, dan menguasai literasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika ingin melanjutkan pendidikan tinggi dan mengambil jurusan sastra, saya justru mendapatkan tatapan yang menghakimi. Tatapan itu seolah-olah menyiratkan bahwa saya sebaiknya memilih jurusan lain yang memiliki prospek kerja lebih bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, poster dan spanduk tentang pentingnya literasi justru seolah hanya menjadi pajangan tanpa implementasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Krisis eksistensialisme sarjana Sastra Inggris yang menyerang tanpa permisi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak pernah menyesal memilih jurusan Sastra Inggris dan belajar selama 4 tahun tentang literatur. Kecintaan saya terhadap karya sastra menjadi motivasi. Selain itu, sebagai mantan jurusan IPA yang nilai Matematika-nya selalu di bawah KKM saat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenang-rsbi-di-masa-sma-yang-bikin-kasta-dalam-sistem-pendidikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SMA<\/a>, Bahasa dan Sastra Inggris menjadi penolong untuk menaikkan nilai rata-rata rapor agar tetap menyentuh angka di atas 85. Hal ini semakin membuat saya mantap dengan pilihan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi jangan salah, melihat teman seperjuangan yang mengisi jurusan dengan prospek kerja tinggi dan langsung tergambar jelas jalan karirnya, membuat saya merasa gelisah tentang pilihan, makna, dan kebebasan hidup saya. Singkatnya fenomena itu adalah krisis eksistensial pertama saya dalam mempertanyakan pilihan yang sudah saya buat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, namanya jiwa muda, ya gas saja pikir saya waktu itu. Toh, fakta bahwa saya memilih jurusan berdasarkan bidang yang saya sukai akan membawa saya pada perjalanan yang tidak akan terlalu menderita. Motivasi karena mencintai Sastra Inggris sudah termasuk alasan kuat untuk saya agar tetap gas pol.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ternyata tidak sesuai ekspektasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu tidak? Saya pikir dengan masuk ke jurusan Sastra Inggris, saya akan berada di lingkungan yang sama antusiasnya dengan karya sastra. Namun, ekspektasi saya yang idealis itu terpatahkan. Tidak sedikit kolega yang terpaksa kuliah di jurusan ini karena tidak diterima di pilihan pertama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, saya merasa kecil hati. Saya tidak lagi merasa sebahagia saat tahu diterima lewat jalur <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-memilih-kampus-swasta-buat-yang-nggak-lolos-utbk-sbmptn\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SBMPTN<\/a>. Namun, itu hanya sekedar fase. Setelahnya, saya jadi tahu bahwa manusia memang berbeda-beda. Tidak bisa dong saya mengharapkan semua orang harus antusias dan senang saya saat diterima di jurusan Sastra Inggris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi mahasiswa Sastra Inggris dari kacamata seorang yang memang sudah mencintai sastra akan berbeda cerita dengan mahasiswa yang terpaksa. Bagi saya, karya sastra itu penting untuk dibaca, dipelajari, dan diselami isinya sampai timbulah diskusi tentang karya tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat sebuah karya dalam bentuk prosa, puisi, lagu, film, bahkan teatrikal drama membuat saya seolah bertransformasi menjadi tokoh utama di dalamnya. Hal itu membuat saya merasa\u2026 hidup. Memang terkesan lebay, tapi itulah adanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terus pas lulus jadi apa?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kelulusan tiba saya dilepas di \u201chutan belantara\u201d untuk melakukan perburuan liar mencari mangsa (dunia kerja). Fase itu saya lalui dengan penuh makna. Bagi saya, tidak ada kebetulan di dunia ini. Jika sesuatu sudah ditakdirkan untuk kita, maka itu akan terjadi, meskipun kita hanya berdiam diri sambil bengong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pola pikir inilah yang akhirnya membuat saya mencoba berbagai jenis pekerjaan. Mulai dari menyadur cerita, menerjemah, mencari kandidat, mengevaluasi media sosial, hingga menjadi konsultan pendidikan. Meskipun saya tidak memiliki latar belakang pendidikan, saya percaya bahwa saya bisa belajar dan berkembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usaha dan latar belakang Sastra Inggris yang mengantarkan saya untuk mencicipi semua itu, bukan orang dalam. Semua rezeki dan kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan terjadi atas kuasa Tuhan dan usaha saya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Menjadi lulusan serba bisa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, desas-desus tentang ketidakbahagiaan orang akan selalu sampai ke telinga kita. Ada yang sampai blak-blakan mengutuk dan bingung, \u201cDengan gelar sarjana Sastra Inggris, saya tidak tahu akan membawanya ke mana selain untuk mengapresiasi film dan novel.\u201d Pernyataan itu membuat saya kadang merasa relate, namun juga kurang setuju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa? Bukan hanya teori, saat kuliah kita juga dituntut serba bisa dalam penguasaan teknologi untuk memperkaya portofolio. Dari teori subaltern Spivak hingga business writing, kami didesain untuk menjadi lulusan yang adaptif tanpa melupakan inti utama, yakni menghargai dan mengapresiasi sebuah karya seni, dalam bentuk apa pun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, apapun bidang kita, entah penerjemah, interpreter, penulis, atau bahkan jauh dari keilmuan kesastraan, kita diharap untuk tidak melupakan pentingnya mengapresiasi dan duduk sejenak menikmati karya sastra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti kutipan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/P.T._Barnum\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">P.T. Barnum<\/a> yang berbunyi, \u201cLiterature is one of the most interesting and significant expressions of humanity.\u201d Yang artinya sastra adalah salah satu ekspresi kemanusiaan yang paling menarik dan signifikan. Hal ini semakin mengafirmasi keyakinan saya bahwa manusia terobsesi dengan mewujudkan imajinasinya lewat karya, salah satunya lewat karya sastra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahukah Anda bagaimana nenek moyang kita dari zaman batu memproduksi karya tulisan dan lukisan yang mereka gambar di dinding-dinding gua? Hal ini membuktikan bahwa manusia telah melakukan segalanya untuk membuat imajinasinya semakin nyata selama berabad-abad, dari lukisan gua hingga Imax.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, kata obsesi dapat menggambarkan keadaan ini. Namun, menurut saya, bukan obsesi, melainkan lebih kepada naluri alami manusia untuk berekspresi. Apapun perwujudannya, pasti ada minimal satu orang yang terkoneksi dan mengetahui pesan di balik diciptakannya sebuah karya sastra, termasuk lulusan Sastra Inggris<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mellyna Putri Diniar<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pandangan-umum-yang-keliru-tentang-jurusan-sastra-inggris\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Pandangan Umum yang Keliru tentang Jurusan Sastra Inggris<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<div class=\"diperbarui\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanyaan \u201cNgapain, sih, mahal-mahal kuliah Bahasa dan Sastra Inggris kalau bisa kursus saja?\u201d menggambarkan netapa nestapa hidup lulusan sastra.<\/p>\n","protected":false},"author":2529,"featured_media":256322,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[22651,22652,22173,10092,447,22654,22655,22653,35,7683,22656],"class_list":["post-256111","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-bahasa-dan-sastra","tag-bahasa-dan-sastra-inggris","tag-jurusan-sastra-inggris","tag-penerjemah","tag-penulis","tag-profesi-lulusan-sastra","tag-profesi-lulusan-sastra-inggris","tag-sarjana-sastra","tag-sastra","tag-sastra-inggris","tag-stigma-sarjana-sastra"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/256111","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=256111"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/256111\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/256322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=256111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=256111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=256111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}