{"id":256068,"date":"2024-01-12T12:30:39","date_gmt":"2024-01-12T05:30:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=256068"},"modified":"2024-01-12T11:30:53","modified_gmt":"2024-01-12T04:30:53","slug":"orang-cirebon-bingung-termasuk-sunda-atau-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-cirebon-bingung-termasuk-sunda-atau-jawa\/","title":{"rendered":"Orang Cirebon Terlalu Jawa untuk Disebut Sunda, Terlalu Sunda untuk Disebut Jawa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya orang Cirebon yang sedang merantau untuk kuliah di salah satu universitas negeri di Jawa Barat. Merantau membuat saya sering merenungkan identitas saya sebagai orang Cirebon. Pasalnya, saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman.&#8221;Cirebon itu masuknya sunda atau jawa, sih?\u201d dan &#8220;Cirebon itu pakai Bahasa Sunda atau Jawa?\u201d adalah dua dari banyak pertanyaan template ketika berkenalan dengan teman baru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya pikir-pikir, daerah yang terkenal dengan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-makanan-underrated-khas-cirebon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> nasi jamblang<\/a> itu ibarat Sunda di tanah Jawa dan\u00a0 Jawa di tanah Sunda. Terdengar membingungkan ya? Itulah yang sehari-hari dirasakan orang Cirebon, krisis identitas. Daerah dengan julukan Kota Wali itu secara administratif memang masuk Jawa Barat. Namun, tidak seluruh warganya menggunakan Bahasa Sunda, beberapa daerah lebih akrab dengan Bahasa Jawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bahasa yang tercampur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tahun sudah saya merantau. Di perantauan saya bertemu dengan teman-teman yang \u201cSunda banget\u201d. Mereka berasal dari Bandung, Subang, Garut, Purwakarta, dan Bogor. Sehari-hari bergaul dengan mereka menyadarkan saya bahwa tanah kelahiran saya adalah salah satu daerah di Jawa Barat yang kurang Sunda. Bahasa Sunda yang saya gunakan ternyata berbeda dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-sunda-yang-susah-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahasa Sunda<\/a> kawan-kawan saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ambil contoh, kata \u201ckamu\u201d yang jika dalam Bahasa Sunda disebut \u201cmaneh\u201d atau \u201canjeun\u201d. Kalau di Cirebon, kamu disebut \u201cnyaneh\u201d atau \u201cdewek\u201d. Selain itu ada kata \u201csue\u201d di dalam Bahasa Sunda Cirebon itu berarti \u201clama\u201d, tetapi di Bahasa Sunda lain kata ini adalah umpatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus serupa ternyata juga terjadi pada Bahasa Jawa yang digunakan orang Cirebon. Bahasa Jawanya berbeda dengan Bahasa Jawa di Jawa Tengah, Jogja, dan Jawa Timur. Sebut saja kata \u201cjukut\u201d\u00a0 yang berarti \u201cambil\u201d. Sementara di Bahasa Jawa lain, \u201cambil\u201d diterjemahkan menjadi \u201cnjupuk\/jupuk\u201d. Selanjutnya, ada kata \u201cbeli\u201d yang berarti \u201ctidak\u201d atau \u201cnggak\u201d. Sementara dalam Bahasa Jawa daerah lain, \u201ctidak\u201d diterjemahkan menjadi \u201cora\u201d.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Logat orang Cirebon yang unik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dari sisi bahasa, orang Cirebon seperti punya logat sendiri, baik ketika berbicara dengan Bahasa Sunda maupun berbahasa Jawa. Ini saya sadari ketika teman-teman saya di kampus yang dari daerah-daerah \u201cSunda banget\u201d terheran-heran dengan logat saya. Terdengar tidak seperti Bahasa Sunda mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Logat Bahasa Jawa orang Cirebon pun juga berbeda. Salah satu teman saya yang berasal dari Solo pernah cerita, dia pusing mendengar percakapan orang Cirebon yang menggunakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahasa Jawa<\/a> karena logatnya unik dan ngomongnya sangat cepat.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh menambahkan keunikan lain, imbuhan \u201cjeh\u201d atau \u201ctah\u201d jelas tidak boleh dilupakan. Imbuhan ini\u00a0 sering disisipkan di akhir kata ini.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bukan sepenuhnya Sunda dan Jawa\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di mata orang Sunda, orang Cirebon cenderung seperti orang Jawa karena ada praktik bebasan. Bebasan adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih dihormati. Kosakata dalam bebasan kebanyakan Bahasa Jawa. Sementara di mata orang-orang Jawa seperti Jogja, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, orang Cirebon cenderung Sunda karena terletak di Jawa Barat dan logatnya berbeda dengan mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkembangan bahasa dan logat orang dipengaruhi oleh wilayahnya yang berbatasan dengan beberapa daerah lain. Walau demikian, keunikan itu justru bisa dijadikan sebagai ciri khas yang hanya dimiliki Kota Wali ini. Memang sih agak membingungkan ketika dihadapkan pertanyaan Cirebon termasuk Sunda atau Jawa. Namun, saya punya solusi atas itu, bilang saja kalau Cirebon itu ya orang Cirebon. Percampuran<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Suku_Sunda\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Sunda<\/a> dan Jawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurhanifah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuningan-dan-cirebon-berbeda-tapi-saling-melengkapi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kuningan dan Cirebon: Berbeda tapi Saling Melengkapi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Cirebon terlalu Sunda untuk disebut Jawa, begitu sebaliknya. Daerah ini mengalami percampuran budaya dan bahasa antara Sunda dan Jawa.<\/p>\n","protected":false},"author":2320,"featured_media":256823,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,6512,1499,623,22659,1152],"class_list":["post-256068","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-sunda","tag-cirebon","tag-jawa","tag-orang-cirebon","tag-sunda"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/256068","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2320"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=256068"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/256068\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/256823"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=256068"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=256068"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=256068"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}