{"id":255068,"date":"2024-01-09T11:53:06","date_gmt":"2024-01-09T04:53:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=255068"},"modified":"2024-01-10T07:59:37","modified_gmt":"2024-01-10T00:59:37","slug":"orang-jogja-nggak-kenal-frugal-living","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-jogja-nggak-kenal-frugal-living\/","title":{"rendered":"Orang Jogja Nggak Kenal Frugal Living, Sejak Dulu Sudah Terlatih Prihatin Living Gara-gara UMK yang Tiarap"},"content":{"rendered":"<p><em>Apa itu frugal living, orang Jogja nggak kenal. Kenalnya prihatin living sedari dulu, gara-gara UMK yang tiarap<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin beberapa dari kalian sudah nggak asing lagi dengan istilah \u201cfrugal living\u201d. Yup, gaya hidup hemat, bijak, dan efisien dalam mengelola uang ini bukan hanya bertujuan untuk mengurangi pengeluaran. Tetapi, juga membangun kondisi keuangan yang sehat sekaligus berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilansir dari <\/span><a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/mymoney\/20230720104220-72-455788\/sering-salah-paham-ini-bedanya-frugal-living-dan-pelit\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">CNBC Indonesia<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, frugal living merupakan konsep hidup yang berfokus pada pengaturan pengeluaran sesuai dengan prioritas kebutuhan. Dengan kata lain, frugal living mengajarkan kita untuk berhemat dengan membatasi pengeluaran pada hal-hal yang kurang penting. Bagi beberapa orang, frugal living ditujukan untuk memudahkan mereka dalam menabung dan menuju financial freedom di masa mendatang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya konsep frugal living ini mirip-mirip dengan konsep hidup prihatin ala masyarakat Jawa, lho. Tapi, kalau biasanya orang-orang menerapkan frugal living untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang yang sehat, maka di Jogja ini cukup berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Frugal livingnya para pekerja Jogja adalah mengatur keuangan seirit mungkin agar bisa bertahan hidup dengan gaji pas-pasan. Ya gimana nggak pas-pasan, per 2023 saja UMK Jogja masih ada di kisaran 2-2,3 juta per bulan dengan biaya hidup yang semakin nggak ngotak.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Masih banyak orang dengan gaji di bawah UMK Jogja<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terpantau hingga saat ini, masih banyak pekerja Jogja yang pendapatannya jauh lebih rendah dari UMK. Di tahun 2022, hasil survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di DIY mencapai 11,49 persen atau dengan kata lain, DIY pernah menjadi provinsi termiskin di Pulau Jawa. Wow, sungguh effortlessly prihatin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, uniknya Jogja tampak seperti baik-baik saja. Gejala-gejala kemiskinan yang kerap kita jumpai di daerah-daerah pinggiran juga nggak tampak begitu mata kita disuguhi pemandangan trotoar dan gemerlap lampu-lampu kota yang indah nan estetik. Sepertinya sih, karena kita terlalu sibuk mengonsumsi konten-konten romantisasi Jogja tanpa mau mencari tahu sisi gelap kelas pekerjanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salutnya, meski selalu bekerja di bawah tekanan dengan gaji yang nggak seberapa, para pekerja ini masih berusaha untuk hidup dengan mindfulness. Prinsipnya adalah prihatin. Biasanya, mereka akan mengemas keadaan prihatin ini dengan kelakar, \u201cNamanya juga wong cilik!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep prihatin atau dikenal dengan \u201claku prihatin\u201d ini kerap dimaknai sebagai upaya untuk menahan diri dari hawa nafsu maupun kesenangan duniawi. Selain berlaku prihatin, masyarakat Jawa juga gemar menerapkan falsafah \u201cgemi nastiti lan ngati-ati\u201d yang artinya hemat, teliti dan berhati-hati. Falsafah ini tampaknya melekat kuat dalam konsep hidup prihatin yang biasa dilakukan oleh warga Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, nggak semua orang bisa bergaya hidup prihatin. Hanya orang-orang terpilih yang mampu menerapkan prihatin living secara mendalam, khususnya orang-orang yang terdesak secara ekonomi namun ditakdirkan tinggal di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-jogja-nggak-kenal-frugal-living\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Nggak konsumtif karena kepepet&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>Nggak konsumtif karena kepepet<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu cara prihatin untuk tetap bertahan di tengah gegap gempitanya Jogja adalah dengan menjadi pribadi yang nggak konsumtif. Namun, masalahnya, standar hidup di Jogja juga nggak semudah itu untuk di-custom jadi murah. Murah itu hanya fatamorgana, Gaes. Hanya berlaku bagi turis yang ingin liburan di Jogja. Sedangkan bagi pekerja Jogja, biaya hidup di sini terasa makin berat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba cek saja, orang-orang yang hobi nongkrong dan mengunjungi tempat-tempat elit di Jogja justru kebanyakan berasal dari kalangan pendatang. Entah mahasiswa rantau, pekerja remote, atau wisatawan luar. Sebaliknya, para warlok Jogja yang sejatinya sudah lelah dengan hiruk-pikuk kota ini lebih senang berdiam diri di rumah sembari nrima ing pandum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kata <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/karl-marx-sesepuh-favorit-mahasiswa-sosiologi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Karl Marx<\/a>, kondisi ini disebut dengan alienasi atau proses menuju keterasingan. Maksudnya adalah para buruh atau kaum proletar merasa terasing dari kehidupannya karena mereka tidak bisa menikmati pekerjaan mereka. Dalam dunia kapitalisme, bekerja ditujukan untuk menghasilkan uang. Para pekerja, spesifiknya kaum buruh ini dikendalikan oleh pemilik modal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa kita lihat ada begitu banyak tempat fancy di Jogja yang sebetulnya hanya bisa dinikmati oleh orang-orang dari golongan menengah ke atas. Sedangkan para buruh, meskipun bekerja menghasilkan ribuan produk bernilai mahal, namun kenyataannya mereka tidak memiliki daya untuk membeli produk mereka sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKeterasingan\u201d para buruh terhadap produk yang mereka hasilkan disebabkan oleh pandangan bahwa gaji yang mereka terima dari para pemilik modal merupakan upah dari hasil bekerja\u2014yang padahal besarannya juga nggak cukup untuk membeli satu produk fancy tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nggak kayak konten di TikTok<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangankan untuk membeli barang-barang tersier, untuk makan saja para pekerja Jogja harus memilih menu makanan yang standar banget. Sebab, nyatanya pasaran harga makanan di Jogja nggak semurah yang kalian lihat di media sosial. Ini nih, salah satu bentuk kesalahpahaman yang mesti diluruskan. Kebanyakan pendatang mengira semua makanan di Jogja semurah konten promo di Instagram dan TikTok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu baru soal makanan saja, lho. Lalu bagaimana dengan sewa rumah dan harga tanah yang selangit, cicilan kendaraan, serta belanja-belanja kebutuhan bulanan lainnya? Belum lagi para pekerja yang sudah berkeluarga dan punya anak. Tentu saja mereka memerlukan tambahan gaji untuk menyokong kehidupan rumah tangga agar bisa sehat dan sejahtera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dari gambaran cerita kelas pekerja tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya, sejauh ini prihatin living adalah konsep hidup paling menantang dan menguras mental. Bagi kalian yang ingin merasakan sensasi frugal living yang sesungguhnya, silakan menjadi ODGJ, alias orang dengan gaji Jogja.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Farahiah Almas Madarina<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/umr-jogja-rendah-kok-masih-pada-bertahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kalau UMR Jogja Memang Serendah Itu, Kenapa Masih Banyak yang Bekerja di Jogja?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Frugal living is so yesterday.<\/p>\n","protected":false},"author":1683,"featured_media":243413,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[22573,21900,115,22574,9577],"class_list":["post-255068","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-frugal-living","tag-gaji-jogja","tag-jogja","tag-prihatin","tag-umk-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/255068","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1683"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=255068"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/255068\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/243413"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=255068"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=255068"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=255068"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}