{"id":254954,"date":"2024-01-08T14:54:36","date_gmt":"2024-01-08T07:54:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=254954"},"modified":"2024-01-08T14:54:36","modified_gmt":"2024-01-08T07:54:36","slug":"dosa-warung-ayam-geprek-ke-mahasiswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-warung-ayam-geprek-ke-mahasiswa\/","title":{"rendered":"Dari Sekian Banyaknya Menu Makanan, Kenapa Ayam Geprek Selalu Jadi Pilihan Akhir Mahasiswa?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat fenomena ini jadi membuat saya bertanya-tanya. Apa yang membuat mahasiswa memilih ayam geprek sebagai makanan sehari-hari?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya sedikit kesal, toh, menu tidak cuma ayam. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-makanan-red-flag-dan-sebaiknya-dihindari-di-warteg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Coba mampir ke warteg<\/a>, di sana banyak sekali menu makanan. Orang Indonesia memang rata-rata menyukai sambal. Mungkin ini yang membuat para warga yang selalu merasa kurang lengkap jika tidak ada sambal dalam penyajian makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Herannya lagi, bahkan di sekitaran kampus, banyak sekali warung yang menjual ayam geprek sebagai menu utama. Bahkan ada yang sudah jualan sejak pagi dan ramai pelanggan Kayak nggak ada menu lainnya aja. Iya, memang itu hak pelanggan. Masalahnya, banyak ayam geprek yang \u201ckurang layak\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ayam geprek yang lebih banyak tepung ketimbang dagingnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat ukuran ayam yang jumbo, pelanggan mana yang nggak tertarik untuk mencobanya. Padahal, kenyataannya, ada saja penjual yang menipu kamu. Mereka menggunakan lebih banyak tepung, ketimbang daging. Kalau dikira-kira, 80% tepung sisanya daging.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapan tinggi saya seketika dijatuhkan dengan kencang. Pasti sih, ini ada hubunganya dengan promosi dan usaha mencari keuntungan. Realistis aja, kalau mau jualan ayam yang normal bisa kali memasang tarif dengan harga yang normal dan nggak mengubah kualitas ayamnya. Kita ini mau makan daging, bukan tepung!<\/span><\/p>\n<h2><b>Promosinya memang menarik, sih<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Promosi para penjual ayam geprek memang menarik. Mereka punya rayuan maut untuk memikat para mahasiswa. Intinya adalah harga murah, tapi bisa bikin puas. Misalnya dengan kalimat begini: \u201cPaket lengkap Ayam Geprek dan Nasi bisa ambil sepuasnya.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa mana yang nggak tertarik? Mahasiswa bisa ambil banyak nasi sampai puas. Sudah begitu masih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/es-teh-desa-mengalahkan-mixue-di-purwokerto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bisa ambil es teh sepuasnya juga<\/a>. Sungguh menggiurkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pelanggannya lebih banyak perempuan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering merasa kalau pelanggan warung ayam geprek itu rata-rata perempuan. Apakah karena mereka lebih senang makanan pedas? Bisa jadi, sih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, mereka juga lebih betah dan sabar mengantre. Ada saja warung yang selalu ramai, terutama saat makan siang. Saya jadi sering heran, kok mereka betah banget antre, padahal panas dan jam makan siang itu mepet banget. Ada menu lain di sekitar warung, tapi ayam geprek selalu jadi pilihan utama. Kenapa, ya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Harganya bisa berubah lebih mahal ketika ramai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini menyebalkan, sih. Ada saja warung ayam geprek yang nakal, yaitu menaikkan harga ketika sedang sangat ramai pelanggan. Naiknya nggak banyak, tapi kalau dikalikan jumlah pelanggan ya terbilang lumayan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah jadi salah satu \u201ckorban\u201d. Satu momen, saya membeli dengan harga Rp10 ribu, sudah mendapatkan seporsi ayam geprek dan refill teh gratis. Namun, di lain kesempatan, ketika warung sedang ramai, saya harus membayar Rp14 ribu. Cuma Rp4 ribu, sih, tapi kok bikin kaget juga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau mereka mengumumkan kenaikan harga, pelanggan pasti maklum. Apalagi harga bahan juga sering naik tinggi. Misalnya, <a href=\"https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-7082210\/harga-cabai-rawit-sudah-tembus-rp-130-ribu-pedagang-sebut-bisa-naik-lagi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">harga cabai yang beberapa bulan ini sedang naik tinggi<\/a> sempat sampai Rp130 ribu per kilogram di Desember 2023. Yah, naik 2 sampai 4 ribu rupiah masih wajar sebenarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, hal-hal di atas adalah \u201ckegelisahan\u201d saya saja. Tentu hak masing-masing untuk selalu beli ayam geprek. Namun, apa ya nggak bosen? Ke warteg, kamu bisa beli nasi sayur dan lauk dengan harga yang sama. Saran aja, sih, biar menu makan siang kamu lebih bervariasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Raihan Dafa Achmada<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-ayam-geprek-jadi-makanan-favorit-anak-kos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>4 Alasan Ayam Geprek Jadi Makanan Favorit Anak Kos<\/strong><\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-asal-ponorogo-repot-kalau-mau-mudik\/\">\u00a0<\/a><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa, ya, ayam geprek kayaknya jadi makanan favorit mahasiswa? Padahal, ada saja warung yang nakal dan berdosa kepada para mahasiswa ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2394,"featured_media":255026,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[9896,2493,10825,22567,22566,22568,3343],"class_list":["post-254954","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-ayam-geprek","tag-ayam-goreng","tag-ayam-goreng-tepung","tag-geprek","tag-makanan-favorit-mahasiswa","tag-menu-makan-siang","tag-warteg"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2394"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=254954"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254954\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/255026"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=254954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=254954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=254954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}