{"id":254713,"date":"2024-01-07T09:03:54","date_gmt":"2024-01-07T02:03:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=254713"},"modified":"2024-01-07T02:06:31","modified_gmt":"2024-01-06T19:06:31","slug":"bikin-prompt-ai-itu-gampang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bikin-prompt-ai-itu-gampang\/","title":{"rendered":"Seniman AI Tidak Usah Sok Keren, Bikin Prompt AI Itu Nggak Sesusah Itu!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih bingung dengan obsesi seniman AI untuk disetarakan dengan seniman konvensional. Apa sih pentingnya? Toh tanpa disetarakan, hasil karya kalian juga bisa dinikmati. Justru dengan makin koar-koar, kalian malah terlihat pekok dan buta realitas. Apalagi berujar kalau menciptakan command prompt AI sama sulitnya dengan menciptakan karya konvensional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini memang untuk kalian yang koar-koar itu. Percayalah, kalian memang tidak sehebat itu. Membuat prompt memang tidak sesulit menciptakan karya seni konvensional. Bahkan untuk sesama karya digital, seniman AI tidak bekerja seberat seniman \u201csungguhan.\u201d Kalau sampai mengeluh masalah susahnya bikin prompt, mungkin memang logika dan imajinasi kalian yang bermasalah.<\/span><\/p>\n<h2><b>AI berbeda dengan pikiran manusia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melihat para seniman AI bermasalah dengan tagar #TolakGambarAI. Sampai harus ngeles jika bikin prompt AI itu susah. Tapi kalian harus ingat bahwa gambar AI memang bermasalah, karena proses penciptaan karya AI tidak sama dengan proses kreatif manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang sering dilupakan oleh seniman AI adalah proses \u201cberpikir\u201d dari sistem AI. Mereka tidak memiliki pikiran, kreativitas, dan ingatan seperti manusia. Mereka hanya mengerjakan prompt dengan mengisi setiap kekosongan dengan data yang didapatkan dari internet. Dengan menggabungkan beberapa karya ataupun foto yang bisa diakses sesuai dengan komando si seniman AI. Proses ini berbeda dengan proses mengolah ide seorang seniman konvensional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan pula menggunakan istilah \u201ctidak ada karya yang orisinil\u201d untuk membela karya AI. Memang, setiap karya seni terinspirasi dari karya dan objek lain. Tapi proses kreativitas tidak dimiliki AI. Seorang seniman tetap melakukan proses kreatif meskipun terinspirasi dari karya lain. Ia tetap memasukkan unsur unik dan personal di setiap karya. Sedangkar AI hanya melakukan tugas sesuai dengan prompt yang diberikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Seniman memang dibunuh AI<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum saya makin merujak seniman AI, mari kita pahami apa yang diprotes para seniman terhadap AI. Mereka sudah mempermasalahkan karya AI sejak kelahiran DALL-E, Midjourney, dan alat sejenis. Bukan karena AI bisa menghasilkan karya sekejap mata semata. Namun proses \u201cbelajar\u201d AI yang rentan perkara hak cipta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa seniman konvensional, karya AI tidak akan pernah lahir. Karena AI membutuhkan karya mereka sebagai data yang harus dipelajari. AI mempelajari pola, komposisi, dan proporsi untuk menciptakan karya. Data yang dipelajari AI inilah sumber masalah dan protes seniman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/openai.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">OpenAI<\/a> sebagai pencipta DALL-E masih menolak untuk menunjukkan data yang dipelajari AI mereka. Sehingga tidak ada kepastian karya siapa saja yang telah dipelajari tanpa izin dan konsen. Para seniman yang telah mengunggah karyanya di internet kini sedang melatih mesin yang akan menjiplak proses kreatif mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi seniman AI kan melakukan proses kreatif saat membuat prompt!\u201d Mungkin kalian ingin bilang demikian. Tenang, saya akan merujak ujaran manja kalian setelah ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Membuat prompt tidak sesulit membuat karya seni<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah proses membuat prompt perlu kreativitas? Menurut saya, iya. Karena kita perlu mengimajinasikan karya yang akan diciptakan AI. Lalu kita harus mengubah imajinasi dalam otak menjadi kata-kata perintah pada AI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi apakah membuat prompt sesulit menciptakan karya seni? Tentu saja tidak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses \u201ckreatif\u201d tadi hanya permulaan dalam penciptaan karya seni konvensional. Ketika seniman konvensional membayangkan karya apa yang akan dibuat. Setelah itu, ia harus mempertimbangkan warna, pola, komposisi, dan proporsi. Kemudian ia harus menciptakan karya itu dengan media yang dipilih secara langsung. Seluruh proses tadi tidak dilakukan para (so called) seniman AI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika membuat prompt AI saja sulit, apakah seniman AI masih memiliki kreativitas dalam dirinya? Mereka hanya mengubah imajinasi yang tidak seberapa itu menjadi sebuah perintah. Sama seperti Anda memesan karya pada pelukis. SESEDERHANA ITU!<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kalau bikin prompt aja kalian anggap sulit, otak kalian itu emang fungsinya apa?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi AI terus belajar untuk memahami bahasa yang lebih umum digunakan. Kalian tidak harus menulis prompt seperti programmer lho! Jika memesan karya pada AI saja kesulitan, mungkin yang harus dibereskan adalah logika kalian. Bisa jadi tidak hanya logika, tapi kalian memang tidak punya rasa seni sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sudahi saja pembelaan kalian terhadap karya AI. Gambar yang diproduksi AI atas prompt kalian memang bisa dinikmati. Tapi kalau kalian membandingkan prompt AI dengan proses seni, ya goblok sih. Karena kalian hanyalah orang yang terlewat manja ketika diberi alat yang mempermudah kerja. Maaf, tapi kata \u201cseniman\u201d memang tidak pantas disandang kalian yang kesulitan membuat prompt.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Create an illustration depicting a character without a brain, expressing a state of confusion or bewilderment while staring at a computer screen. Capture the essence of the individual&#8217;s perplexity and the absence of cognitive understanding in this surreal scenario.&#8221;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ini prompt untuk kalian yang bilang membuat prompt sesulit membuat karya seni!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tenang-aja-copywriter-nggak-akan-semudah-itu-terganti-oleh-ai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tenang Aja, Copywriter Nggak Akan (Semudah Itu) Terganti oleh AI<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>It&#8217;s not rocket science, please.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":254714,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[11206,10541,22513,5422],"class_list":["post-254713","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-hak-cipta","tag-karya-seni","tag-prompt-ai","tag-seniman"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254713","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=254713"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254713\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/254714"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=254713"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=254713"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=254713"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}