{"id":254531,"date":"2024-01-06T07:51:44","date_gmt":"2024-01-06T00:51:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=254531"},"modified":"2024-01-06T07:51:44","modified_gmt":"2024-01-06T00:51:44","slug":"sumber-kencono-menyelamatkan-hidup-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sumber-kencono-menyelamatkan-hidup-saya\/","title":{"rendered":"Kenangan Masa Kecil dengan Bus Sumber Kencono, Bus Berbahaya tapi Malah Pernah Menyelamatkan Hidup Saya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber Kencono sudah menjadi bus legendaris. Meski menyandang stigma negatif, bagi saya, bus ini menjadi terbaik karena pernah menyelamatkan hidup saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kebanggaan tersendiri bagi seorang anak kecil yang menuju usia baligh ingin menunjukkan kalau dirinya sudah mandiri. Dari bisa beli mainan pakai uang tabungan sendiri, atau hal sepele macam bisa naik angkot sendirian tanpa ditemani orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keinginan semacam itu juga sempat muncul dari saya ketika masih jadi santri anyaran. Masih kinyis-kinyis sok-sokan mau pulang dari pesantren di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/angkot-solo-bikin-kota-kota-lain-iri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Solo<\/a> ke rumah saya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/jogja-terbuat-dari-tumpukan-rasa-lelah-dan-potensi-konflik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a> pada usia 11 tahun. Kalau anak kecil naik angkot mungkin itu hal biasa, tapi gimana kalau anak kecil naik bus antar-kota antar-provinsi sendirian?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam usia sebocah itu, saya ingat pesan Emak ketika menitipkan saya di pondok pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNak, kalau besok kamu mau pulang ke Jogja, naik bus yang jalur suroboyoan kayak Sumber Kencono aja ya. Jangan bus jalur Solo-Jogja. Biar lebih cepet sampai Jogjanya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai anak yang mencoba birrul walidain, saya mengikuti titah Emak tanpa tanya-tanya lagi. Saya pun naik bus Sumber Kencono dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Terminal_Tirtonadi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Tirtonadi, Solo<\/a>, dengan sangat percaya diri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenangan masa kecil saya dengan Sumber Kencono<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam bus legendaris itu, saya cukup tenang. Ada 3 kenangan kolektif soal bus Sumber Kencono jalur Jogja-Surabaya. Setidaknya pada era 1990-an sampai awal 2000-an.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, Sumber Kencono merupakan bus paling kencang di habitatnya. Meski sebenarnya kata \u201ckencang\u201d itu lebih ke arah ugal-ugalan. Wajar kalau bus ini lantas sering diplesetkan oleh orang-orang jadi bus Sumber Bencono atau bus Samber Nyawa. Namun, justru karena sisi seram sentimentil itu pula bus ini punya daya tarik, termasuk untuk saya yang masih bocah pada waktu itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Naik bus ini, kadang ada aura cepirit-cepiritnya karena saking memacu adrenalinnya. Selain itu, bus ini juga memacu sifat religius penumpangnya (terutama kalau duduk di belakang sopir). Soalnya bikin kita jadi ingat Gusti Allah terus-terusan karena dipontang-panting kayak kopyokan arisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, tarif Sumber Kencono relatif lebih murah dibanding kompetitor yang sejalur. Tapi, dengan tawaran waktu tempuh yang lebih cepat, sebagai seorang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sandal-santri-di-pesantren-harganya-murah-hingga-murah-banget\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">santri yang uang sakunya mepet<\/a>, bus ini jelas jadi pilihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, hubungan sentimentil saya dengan bus Sumber Kencono seperti lanjutan cerita saya di awal tulisan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Salah naik bus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perjalanan dari pesantren di Solo ke Jogja tadi, kebetulan saya berdiri di tengah. Saya tak ingat betul kenapa orang-orang pada cuek saja tidak memberi tempat duduk seorang bocah sendirian. Sedari awal, kernet bus memang memperhatikan saya. Mungkin bingung, kok, ada anak kecil sendirian tanpa didampingi orang tuanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekhawatiran dari kernet Sumber Kencono itu pada kenyataannya terbukti ketika bus yang saya naiki itu keluar Terminal Tirtonadi. Tak sampai 15 menit, saya menyadari ada yang berbeda dengan bentuk jalanannya. Meski saya waktu itu belum hafal betul jalanan jalur Solo-Jogja, tapi saya tahu kalau ada yang keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, kok kayaknya ini bukan jalan menuju ke Jogja ya?\u201d Batin saya bingung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu saya melihat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisuda-uns-sebaik-baiknya-sistem-wisuda-perguruan-tinggi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kampus UNS<\/a>, tak berapa lama saya lihat daerah Palur. Mampus, ini beneran keliru. Meski begitu, saya masih keras kepala. Ah, ini kan bus Sumber Kencono, bus ini kan harusnya ke Jogja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena masih bocah, saya tak berani untuk bertanya ke kernet soal kecurigaan saya ini. Masih pura-pura tegar dengan kegoblokan itu semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bahasa tubuh yang bagi saya udah kelihatan tegar itu jebul ditangkap berbeda dengan kernet bus Sumber Kencono yang dari tadi kayak udah curiga melihat saya. Barangkali dari kacamata si kernet, saya ini sebenarnya udah pucat pasi dan tinggal keserempet kentut aja udah nangis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAdek, adek mau ke mana?\u201d Tanya si kernet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena rasa takut kesasar jauh lebih besar ketimbang harga diri sebagai bocah sok-sokan mandiri, saya menangis tanpa menjawab. Terang saja, tangisan saya bikin penumpang bingung. Saya tak peduli, takut, dan terus nangis. Rasanya benar-benar jadi anak sebatang kara di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-menonton-sinetron-azab-di-indosiar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sinetron Indosiar<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMa, ma, mau ke Jogja, Pak,\u201d kata saya sambil ngusap umbel satu demi satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOalah, salah naik bus, sampeyan ini, Dek,\u201d kata Pak Kernet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah emang ini busnya mau ke mana to? Kok nggak ke Jogja aja?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni ke Surabaya, Dek.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebaikan yang membekas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah informasi yang justru semakin bikin pecah tangis saya. Imajinasi saya yang waktu itu masih bocah udah ke mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bakal jadi anak jalanan di Surabaya, bakal ngamen di perempatan, jualan koran di lampu merah, atau jadi anak terminal sekalian untuk bertahan hidup. Betapa malangnya nasib emak saya, mondokin anaknya di luar kota kok balik-balik udah jadi gali terminal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat tangis saya yang tak kunjung reda, Pak Kernet memberi tahu sopir Sumber Kencono untuk memberhentikan saya. Saya jelas makin khawatir lagi, ini saya mau dibuang di mana, Pak? Saya turun sama siapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Kernet itu lantas bilang ke saya, \u201cDek, adek nggak usah nangis. Ini dicariin bus yang ke arah Jogja. Nanti tinggal naik aja.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena merasa sudah naik cukup jauh, saya masih mau ngasih ongkos ke Pak Kernet. Dijawab sederhana, tapi itu sangat membekas buat saya sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak usah, dek. Dibawa aja duitnya. Buat bayar yang nanti aja ke arah Jogja,\u201d kata Pak Kernet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, ketika bus Sumber Kencono yang saya naiki ini papasan dengan bus Sumber Kencono lainnya. Saya dioper ke bus yang balik lagi ke arah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/krl-jogja-solo-karanganyar-jogja-banyak-masalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Solo-Jogja<\/a>. Mungkin langkah si kernet bus itu sederhana dan gampang saja, tapi bagi anak kecil kayak saya waktu itu, apa yang dilakukan kernet itu merupakan langkah rescue terbaik yang pernah saya alami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat Pak Kernet Sumber Kencono yang pernah nolongin saya waktu itu, kalau panjenengan baca ini, matur sembah suwun sanget ya, Pak. Saya cuma nggak nyangka aja, Pak, urusan pilihan bus antar-kota antar-provinsi begini aja jebul bisa jadi sangat sentimentil kayak gini bagi saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Khadafi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/naik-bus-sleeper-vietnam-yang-lebih-ngeri-dari-sumber-kencono\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Naik Bus Sleeper Vietnam yang Lebih Ngeri dari Sumber Kencono<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stigma berbahaya Sumber Kencono memang menempel dengan sangat kuat. Namun, dulu, bus berbahaya itu justru pernah menyelamatkan hidup saya.<\/p>\n","protected":false},"author":334,"featured_media":254534,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[22490,115,52,22491,3301,2284,22492,22493],"class_list":["post-254531","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-bus-sumber-kencono","tag-jogja","tag-pesantren","tag-po-sumber-kencono","tag-santri","tag-solo","tag-sumber-kencono-jogja-solo","tag-sumber-kencono-suroboyoan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/334"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=254531"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254531\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/254534"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=254531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=254531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=254531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}